Helo Indonesia

Teliti Perang Narasi Kaum Moderat dan Radikal di Medsos, Agus Fathuddin Raih Doktor di UIN Walisongo

Sabtu, 5 Juli 2025 06:34
    Bagikan  
Teliti Perang Narasi Kaum Moderat dan Radikal di Medsos,  Agus Fathuddin Raih Doktor di UIN Walisongo

Agus Fathuddin Yusuf saat menerima ucapan selamat dari Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin usai meraih gelar doktor di Pascasarjana UIN Walisongo

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Wartawan Suara Merdeka Semarang Agus Fathuddin Yusuf dikukuhkan menjadi doktor setelah menyampaikan disertasi berjudul ‘’ ‘’Dinamika Kontestasi Ideologi Islam Moderat dengan Islam Radikal di Media Sosial’’ di Kampus Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Jumat 4 Juli 2025.

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo itu meraih gelar doktor usai mempertahankan disertasi dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang diketuai Rektor UIN Walisongo Prof Dr H Nizar MAg dan Sekretaris Penguji Prof Dr H Muhammad Sulthon MAg.

Baca juga: Maria Londa Berjaya, Tim Estafet Putri Surakarta Sambar Emas di Jateng Open 2025

Bertindak selaku Promotor Prof Dr H Ahmad Rofiq M dan Kopromotor Dr H Najahan Musyafak MA. Penguji eksternal dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr H Zulkifli MA, Penguji lainnya Prof Dr H Ilyas Supena MAg, Prof Dr H Syamsul Maarif MAg, Dr Agus Riyadi MSi.


Sejumlah tokoh hadir hadir dalam kesempatan itu, yaitu Direktur Pembinaan Haji Kemenag RI Dr KH Mustain Ahmad SH MH, Kabag TU Kanwil Kememag Jateng Dr Wahid Arbani, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Ketua Baznas RI Prof Dr Noor Achmad MA, Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi.

Selanjutnya, mantan Gubernur Jateng Drs KH Ali Mufiz MPA, Sekretaris Umum MUI Jateng Drs KH Muhyiddin MAg, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng Amir Machmud NS dan Wakil Ketua H Isdiyanto Isman, Rektor Unwahas Prof Dr Ir Helmy Purwanto, Dekan FISIP Unwahas Dr Ali Martin MSi, Pendiri YPI Nasima H Yusuf Nafi, Sekretaris Redaksi Suara Merdeka Setiawan Hendra Kelana, Dirut Abba Tour Jumadi Sastradihardja, Pimpinan Sango Indonesia Sapto Hidajat, pimpinan Baznas Jateng dan lain-lain.

Baca juga: Ini Tempat-tempat Wellness Tourism yang Bisa Kamu Kunjungi Saat Berlibur ke Bali

Promotor Prof Dr Ahmad Rofiq MA merasa bangga karena berhasil mengantarkan jurnalis atau wartawan yang sudah menggeluti profesinya lebih 30 tahun menjadi doktor. Agus Fathuddin Yusuf selain menjadi wartawan koran terbesar di Jawa Tengah Harian Suara Merdeka juga menjadi Dosen FISIP di Unwahas Semarang.

‘’Karena profesinya dia dbutuhkan dimana-mana,’’ katanya.

Agus lulusan S1 Fakultas Dakwah IAIN Walisongo dan S2 di Nanchang University, Jiangxi Province, RRC. Kini Agus menjadi Sekretaris MUI Jateng, Wakil Ketua PCNU Kota Semarang, Mustasyar PCINU Tiongkok, Wakil Sekretaris PW IPHI Jateng dan Pengawas Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang.

Perang Narasi

Dalam Disertasinya Agus mengatakan, secara mendasar, inti dari kontestasi antara Islam moderat dan Islam radikal di dunia digital adalah perang narasi untuk memperebutkan pengaruh (influence) dan legitimasi atas penafsiran dan praktik ajaran Islam di era modern.

‘’Dunia digital bukan hanya platform, melainkan medan pertempuran utama di mana kedua kubu berusaha untuk mendominasi wacana, merebut hati dan pikiran umat Islam, terutama generasi muda yang merupakan penghuni asli dunia digital,’ katanya.

Baca juga: 47 Peserta Ikuti Workshop Penyusunan Kurikulum OBE Fakultas Hukum USM

Wacana yang ditampilkan menurutnya adalah bergerak dinamis dan berstrategi. Kecanggihan pola dan tampilan wacana akan berdampak pada seberapa besar kuantitas dan kualitas pengikut yang didapatkan.
Tujuan dari penelitian tersebut menurut Agus untuk menemukan peta, pola dan dampak kontestasi antara Islam moderat dan Islam radikal di media sosial.

Hasil penelitiannya disebutkan pertama, kontestasi antara kedua kubu ini terjadi di hampir semua platform digital populer di Indonesia. ‘’Media sosial seperti Website Facebook, Instagram, YouTube, dan WhatsApp menjadi garda terdepan dalam penyebaran ideologi,’’ katanya.
Kelompok radikal kerap memanfaatkannya untuk propaganda, rekrutmen, dan penyebaran konten provokatif yang menargetkan emosi audiens.

Sebaliknya, kaum moderat, yang dimotori oleh organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah beserta lembaga-lembaga afiliasinya, menggunakan platform yang sama untuk menyebarkan kontra-narasi yang menyejukkan, mempromosikan toleransi, dan mengklarifikasi ajaran Islam yang ramah.

Selain medsos situs web dan portal berita juga menjadi medan pertempuran penting. Kelompok radikal mengelola situs-situs yang secara masif memproduksi artikel dan berita dengan framing yang eksklusif, anti-demokrasi, dan kerap menyerang kelompok yang berbeda pandangan.

Sebagai tandingan, organisasi Islam moderat memiliki portal berita resmi seperti NU Online dan Suara Muhammadiyah, serta didukung oleh berbagai situs berita dan blog independen yang menyuarakan narasi Islam wasathiyah (tengah).

‘’Kedua, secara garis besar, dampak dari kontestasi ini dapat dibedakan menjadi dampak negatif yang destruktif dan upaya perlawanan yang konstruktif. Dampak negative terjadi eskalasi polarisasi dan ancaman radikalisasi. Kelompok radikal secara efektif memanfaatkan dunia digital untuk menyebarkan pengaruhnya, yang mengakibatkan beberapa dampak serius,’’ kata Agus.

Baca juga: Tak Capai Target PAD, Kadispar Pesawaran Dipecat Dengan Hormat

Propaganda dan perekrutan yang canggih menurut Agus kelompok radikal menggunakan konten yang dikemas secara profesional dan menyentuh emosi, seperti video pendek, meme, dan infografis. Mereka menyajikan narasi simplistis "kita vs mereka", mengidentifikasi musuh bersama (seringkali pemerintah, Barat, atau kelompok Islam lain), dan menawarkan solusi instan berupa ideologi ekstrem.

Generasi muda yang sedang mencari jati diri dan akrab dengan gawai menjadi sasaran utama. Polarisasi dan Fragmentasi Sosial: Algoritma media sosial secara inheren menciptakan "ruang gema" (echo chamber) dan "gelembung filter" (filter bubble). Pengguna akan cenderung disuguhkan konten yang sesuai dengan preferensi mereka.

Hal ini menyebabkan pendukung Islam moderat dan radikal semakin terkunci dalam pandangan masing-masing, sulit bertemu secara diskursif, dan memperkuat rasa saling curiga.

‘’Normalisasi Ujaran Kebencian dan Ekstremisme: Paparan yang terus-menerus terhadap narasi kebencian, takfiri (mengkafirkan pihak lain), dan anti-demokrasi dapat membuat gagasan-gagasan tersebut tampak normal dan dapat diterima oleh sebagian kalangan. Istilah yang dulunya tabu menjadi lazim, mengikis toleransi sosial secara perlahan,’’ bebernya.

Menurut Agus kontestasi tersebut juga mengakibatkan disinformasi dan hoaks Keagamaan. ‘’Dunia digital menjadi lahan subur bagi penyebaran hoaks yang dibingkai dengan sentimen keagamaan. Informasi keliru ini seringkali bertujuan untuk membangkitkan amarah, menumbuhkan ketidakpercayaan pada otoritas keagamaan arus utama (seperti NU dan Muhammadiyah) dan pemerintah,’’ tandasnya. (Aji)