Helo Indonesia

Amuk Massa, Rusak dan Jarah Rumah Sahroni, Eko, Uya, Hingga Sri Mulyani

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Minggu, 31 Agustus 2025 07:54
    Bagikan  
RUSUH
HELO LAMPUNG

RUSUH - Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Sri Mulyani (Kolase Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Jakarta berubah mencekam kemarin hingga Minggu dini hari tadi. Rumah yang jadi sasaran tiga anggota DPR RI (Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Iya Kuya) hingga Menteri Keuangan Sri Mulyani. 

undefined

SAHRONI

Awalnya, Sabtu (30/8/2025) menjelang senja, massa menggeruduk rumah politikus Nasdem Ahmad Sahroni yang dikenal sebagai “Crazy Rich Priok” di Tanjungpriok, Jakarta Utara. 

Puluhan orang mendobrak pagar, kaca jendela pecah, lima mobil mewah yang jadi kebanggaannya tak luput dari amukan. Sederet sepeda motor mahal hancur diinjak-injak dan dipukul dengan benda tumpul.

Kerugian Sahroni diperkirakan mencapai Rp30 miliar, termasuk kendaraan mewah, dokumen penting, dan perabot rumah tangga. Tak lama setelah kejadian, Marinir berdiri berlapis di depan rumah, namun kerusakan sudah terlanjur terjadi.

undefined

EKO PATRIO

Gelombang kemarahan itu tidak berhenti di Priok. Menjelang tengah malam, giliran rumah Eko Patrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang disatroni. Massa merangsek masuk, mengangkut apa saja. Sejumlah barang elektronik, perabotan, hingga koleksi pribadi lenyap.

“Kami lihat orang keluar bawa kasur digotong ramai-ramai. Ada juga yang masuk angkut kucing,” kata tetangga Eko, masih tak percaya. Kerugian Eko Patrio diperkirakan sekitar Rp3 miliar. Sejumlah barang elektronik, perabotan, hingga koleksi pribadi lenyap.

undefined

UYA KUYA

Di Pondok Bambu, Jakarta Timur, rumah Uya Kuya bernasib sama. Pagar rumah ambruk, kaca pecah, dan isi rumah habis dijarah. Dari barang elektronik, pakaian, sampai hal remeh seperti sapu lidi ikut dibawa.

“Sapu lidi aja hilang. Jadi kayak semua diambil, nggak ada sisa,” ujar warga.Dari catatan sementara, kerugian Uya Kuya ditaksir lebih dari Rp5 miliar, termasuk koleksi barang antik dan hewan peliharaan yang ikut raib.

undefined

SRI MULYANI

Di Bintaro, Tangsel, Minggu (31/8/2025), pukul 02.00 WIB, giliran rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani digeruduk massa. Lampu rumah padam, dan hanya cahaya ponsel massa yang menyoroti isi rumah yang porak poranda.

Barang-barang berharga raib: perhiasan, lukisan, mainan anak, hingga perabot rumah tangga sederhana seperti toples dan kaleng. Video amatir memperlihatkan massa keluar-masuk rumah, sebagian tertawa sambil mengangkat barang jarahan.

“Kami ketakutan, hanya bisa kunci pintu rumah dari dalam. Suara ributnya terdengar jelas, kayak pasar malam,” kata salah satu warga sekitar. Kerugian di rumah Sri Mulyani diperkirakan mencapai Rp10 miliar.

Baca juga: Jelang Subuh, Isi Rumah Nafa Urbach Dijarah 20-an Naik Sepeda Motor

Reaksi Aparat dan Pemerintah

Kapolri Jenderal Listyo Sigit menyatakan, aksi penjarahan ini tidak bisa ditoleransi. “Kami sudah menurunkan pasukan Brimob dan Marinir di titik rawan. Penjarahan ini bukan lagi unjuk rasa, melainkan tindak pidana,” tegasnya.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menambahkan bahwa pihaknya siap mendukung Polri untuk mengamankan rumah pejabat maupun fasilitas publik. “Negara tidak boleh kalah,” katanya singkat.

Dari Protes ke Anarki

Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bagaimana aksi protes yang semula berjalan damai bertransformasi menjadi anarki. Rumah pribadi pejabat negara hingga artis sekaligus anggota DPR jadi sasaran kemarahan.

Polisi menyebut lebih dari 150 orang ditangkap terkait penjarahan, dengan barang bukti berupa televisi, kulkas, hingga kendaraan roda dua hasil rampasan.

Namun rasa takut belum hilang dari warga sekitar lokasi kejadian. “Ini bukan lagi unjuk rasa, tapi sudah perampasan,” kata seorang tokoh masyarakat.

Luka Sosial dan Politik

Tragedi penjarahan beruntun ini bukan hanya meninggalkan kerugian materil yang ditaksir mencapai Rp50 miliar lebih. Ia menorehkan luka sosial dan politik. Publik terbelah: sebagian menganggap ini letupan kemarahan rakyat, sebagian lagi menilai aksi itu murni kriminalitas yang menodai demokrasi.

Namun satu hal pasti: malam itu Jakarta mencatat sejarah kelam, ketika rumah-rumah pejabat negara dan artis ternama tak lagi jadi benteng aman, melainkan saksi bisu dari gelombang amarah massa. (HBM)

 -