GEROBAK jualan mungil terparkir di sudut rumah sederhana di Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur. Pagi belum terlalu tinggi ketika seorang pria paruh baya keluar dari rumah dan menghampiri gerobak itu. Di dalamnya tersusun rapi kuliner khas Pasundan yang telah lama akrab di lidah masyarakat: siomay.
Tak hanya tenar di tanah kelahirannya, Tiongkok, atau di Bumi Pasundan, siomay telah menjadi jajanan rakyat yang merakyat di seantero Nusantara sejak ratusan tahun silam. Disajikan dalam sepiring sederhana berisi kentang, telur, tahu, kol, dan aci, lalu disiram saus kacang kental berpadu kecap serta sambal pedas, siomay selalu punya tempat di hati penikmatnya.
Penjaja siomay itu bernama Dadang. Orang-orang memanggilnya Mang Dadang. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 55 tahun silam ini telah sepuluh tahun terakhir mengadu nasib di tanah perantauan, Way Jepara, Lampung Timur.
Dengan mengenakan topi lusuh dan handuk kecil melingkar di leher, Mang Dadang bersiap memulai rutinitasnya. Untuk melindungi dagangan dari terik matahari dan hujan, sebuah payung setia menaungi gerobak kesayangannya.
Tenaga yang tak lagi gagah tak menyurutkan langkahnya. Perlahan, Mang Dadang mendorong gerobak siomay menyusuri jalan desa. Untuk memanggil pembeli, ia memukul potongan bambu kecil yang mengeluarkan bunyi khas. Suara itu telah akrab di telinga warga—tanda siomay keliling datang menyapa.
Sekitar dua kilometer berjalan, Mang Dadang berhenti sejenak di sebuah pos ronda. Peluh membasahi wajahnya. Pria beranak tiga itu mengambil sebotol air mineral dari dalam gerobak dan meneguknya perlahan, melepas lelah dengan harapan dagangan hari itu laku.
Tak lama kemudian, sekelompok remaja menghampirinya. Mereka memesan jajanan pengganjal perut itu. Satu porsi dibanderol Rp5.000. Mang Dadang membungkus siomay dalam plastik bening, menyerahkannya dengan senyum sederhana. Para remaja itu pun berlalu.
Untuk bertahan hidup di perantauan, Mang Dadang mengaku tak punya banyak pilihan selain berdagang siomay. Namun, siomay yang ia jajakan bukan miliknya. Dagangan itu milik juragan.
“Saya cuma ambil untung Rp200 per potong. Setiap hari bawa sekitar 300 potong,” ujarnya pelan. Tak sendiri, Mang Dadang bersama sekitar sepuluh temannya menjajakan siomay milik juragan yang sama. Mereka membagi rute agar tak saling berebut pelanggan. Jarak tempuh pulang-pergi rata-rata mencapai 12 kilometer.
“Kami berangkat jam sembilan pagi, pulang sampai rumah biasanya jam sembilan malam,” tuturnya. Jika dagangan habis, Mang Dadang menyetor ke juragan dan membawa pulang penghasilan sekitar Rp65.000 hingga Rp75.000 per hari.
“Kadang ada yang ngutang, nggak dibayar pula. Tapi ya saya ikhlas,” katanya lirih, nyaris tenggelam oleh suara angin. Usai beristirahat sejenak, Mang Dadang kembali mendorong gerobaknya. Sepanjang perjalanan, sesekali pembeli menghentikannya. Ia melayani dengan sepenuh hati, disertai rasa syukur yang tak pernah putus.
Perjuangan Mang Dadang mengais rezeki mungkin hanyalah satu potret kecil dari beratnya kehidupan di negeri ini. Mendorong gerobak belasan kilometer demi penghasilan yang pas-pasan, ia tetap bertahan, tetap bersyukur, meski hasil tak sebanding dengan cucuran keringat.
Mungkin masih banyak “Mang Dadang” lain di republik ini—mereka yang memilih jalan sunyi, mengais rezeki halal meski tak berlimpah. Jauh lebih mulia daripada merampas uang rakyat demi kepentingan pribadi. Tetaplah kuat, Mang Dadang. Semoga langkahmu tak pernah lelah mengejar asa. Amin.(Khairuddin)
