Helo Indonesia

Pertama Kalinya, Harimau Liar TNWK Hiling Sore ke Perkebunan Nanas

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Sabtu, 14 Februari 2026 13:27
    Bagikan  
TNWK
HELO LAMPUNG

TNWK - Jejak harimau di perkebunab tebu (Foto screenshot Ist)

LAMPUNG TIMUR, HELOINDONESIA.COM — Harimau sumatera (Phantera tigris sumatre) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) relatif hidup nyaman, nyaris tak pernah terdengar ciluk ba dengan petani atau warga dan pekerja sekitar kawasan hutan.

Namun, kemarin, Jumat (13/2/2026), ada yang hiling-hiling sore ke perkebunan nanas yang berbatasan dengan TNWK, tepatnya di Kecamatan Labuhanratu, Kabupaten Lampung Timur.

undefined

Jejak harimau lebih besar dari sebungkus rokok 

Jejaknya yang lebih besar dari sebungkus rokok terlihat di jalan tanah perkebunan. Petugas TNWK telah melihat dan mengidentifikasi dari jejaknya yang kemungkinan harimaunya segar bugar.

Dikonfirmasi Heloindonesia.com, Sabtu (14/2/2026), Kasat Polhut TNWK Suwardi memilih menghapus responnya dan tak mengangkat telepon. Kepala Balai TNWK MHF Zaidi mengatakan belum tahu. Dia mengaku masih di Jakarta.

Petugas keamanan perusahaan perkebunan nanas, Edi Susanto yang menjawab konfirmasi media siber nasional ini. Menurutnya, penemuan jejak itu berdasarkan info dari whatsapp grupnya. "Lokasinya di Blok 413 yang berdekatan langsung dengan hutan TNWK," katanya.

Pihaknya telah melaporkan adanya jejak harimau ke TNWK dan sudah dilakukan pengecekan di lokasi tersebut. "Ini yang pertama kali dan informasi terakhir sang harimau sudah masuk kembali ke kawasan hutan," pungkasnya.

undefined

Menurut penggiat lingkungan hidup senior di Lampung, Edy Karizal, harimau TNWK relatif hidup damai karena pakannya masih cukup, seperti babi hutan, rusa, monyet, dan lainnya. Tapi, mulai "hiling-hilingnya" ini perlu dipelajari apakah ada gangguan di habitatnya.

Populasi harimau di TNWK cukup kecil dan berisiko kritis, tetapi angkanya beragam tergantung studi dan survei yang dipakai. Berdasarkan survei dan data terakhir dari lembaga konservasi dan Balai TNWK, jumlahnya diperkirakan sekitar 12–27 harimau.

Survei yang lebih tua (awal 2000-an) menyebut angka yang sedikit lebih tinggi, tetapi tren menunjukkan penurunan jumlah dari puluhan tahun lalu. Hewan spesies ini sangat terancam punah (critically endangered) secara global.

Populasinya menghadapi ancaman besar seperti perburuan liar, hilangnya habitat, dan fragmentasi hutan, sehingga jumlahnya tetap relatif kecil dibandingkan taman nasional lain di Sumatra. (HBM)