Oleh Rohman
Wartawan Heloindonesia
DI SUDUT kampung, di bawah pohon besar atau di pelataran rumah, sesajen tersaji dengan rapi. Ada nasi putih, lauk pauk, telur rebus, pisang, kue tradisional, hingga air putih dan kopi pahit. Semua ditata dengan penuh hormat sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Ironisnya, di tengah perbincangan publik tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat, muncul di platform media sosial serta celetukan yang terdengar, yaitu “Sesajen Lebih Bergizi Daripada MBG.” Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan, namun ia lahir dari keresahan yang nyata.
Program MBG yang diinisiasi pemerintahan Prabowo Subianto digadang-gadang sebagai solusi untuk mengatasi stunting dan kekurangan gizi anak. Dengan anggaran besar dari APBN, negara hadir menjanjikan asupan protein, karbohidrat, dan vitamin yang layak bagi generasi muda.
Namun di beberapa daerah, realitas di lapangan belum sepenuhnya seindah konsep di atas kertas. Ada menu yang dinilai minim protein, ada distribusi yang belum merata, bahkan ada keluhan soal kualitas bahan makanan. Di titik inilah sindiran itu menemukan konteksnya.
Sesajen, dalam praktiknya, seringkali justru memuat komposisi makanan yang lengkap. Nasi sebagai sumber karbohidrat, telur dan ayam sebagai protein, buah sebagai vitamin, serta sayur pelengkap. Secara kasat mata, komposisi itu memang tampak “lengkap dan bergizi”.
Tentu saja, membandingkan sesajen dengan MBG bukan soal siapa yang lebih unggul. Sesajen adalah simbol spiritual dan budaya. Sementara MBG adalah kebijakan publik yang harus diukur dengan indikator ilmiah dan akuntabilitas anggaran.
Namun sindiran tersebut menyiratkan pesan yang lebih dalam, masyarakat ingin program negara tidak sekadar seremonial, melainkan benar-benar menyentuh kebutuhan dasar. Jika makanan tradisi rumahan saja bisa memenuhi unsur gizi seimbang, maka program nasional dengan dukungan anggaran besar semestinya bisa jauh lebih baik.
Karena itu, MBG seharusnya tidak hanya menjadi proyek distribusi makanan, tetapi juga ruang kolaborasi dengan kearifan lokal. Mengangkat menu tradisional bergizi, memberdayakan dapur masyarakat, dan memastikan kualitas tetap terjaga.
Pada akhirnya, kalimat “Sesajen lebih bergizi daripada MBG” adalah alarm. Bukan untuk menertawakan tradisi, bukan pula untuk menjatuhkan program pemerintah, melainkan pengingat bahwa gizi bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi soal isi piring yang benar-benar dimakan anak-anak setiap hari.
Jika negara ingin memenangkan masa depan, maka piring anak-anak Indonesia harus lebih dari cukup, bukan sekadar wacana.(")
