LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ---- Hujan curah tinggi landa rerata wilayah Lampung, Jum'at senja hari (6/3/2026), berimbas banjir meluber dan merendam debit bervariasi ke badan-badan jalan dan permukiman seperti terpantau di 10 kecamatan di Bandarlampung. Pun daerah hinterland atau sub-urban di wilayah dua kabupaten: Lampung Selatan dan Pesawaran. Di dalam kota, benar saja, rilis BPBD Lampung menyebut, terdapat sedikitnya 38 titik genangan banjir.
Berita cuaca kurang menguntungkan sejak dini hari, hawa dingin menusuk hingga usai jam salat Jumat berujung dua setengah jam lebih hujan deras dan banjir pun datang. Menimbulkan tiga korban jiwa, dua mobil, hanyut. Bahkan hingga kuarsa 23.45 WIB, sejumlah warga melaporkan kondisi air di lingkungannya belum kunjung surut. "Betah airnya," celetuk selorohan mereka kendati getir.
"Monitor Mil. Hati-hati bro," pesan singkat rekan politisi, berkirim video pendek hujan deras Jum'at sore dari lantai lima satu hotel. Dia sedianya mengundang pewarta bukber. Bukber pun batal. Tak lama sang putri pewarta seturut. "Di halaman selutut aku, Pah," warta ia kondisi tinggi air.
"Siap bang. Rugi bandar sore ini," balas pesan singkat rekan pejuang rupiah, penjual takjil satu area ramai, pukul 16.05. Barang dagangannya baru laku beberapa. Enggan ambil risiko, dia memutuskan beberesan. Sisa jualan (yang belum laku terjual) sumbang masjid kompleks, sahut dia kemudian.
"Tempat gua dah sepaha ini. Langkapura gimana, aman?" tanya balik rekan pejuang rupiah lainnya, tukang tambal ban area Way Lunik Kecamatan Panjang, kini langganan banjir. Dia justru berkirim video amatir peristiwa menegangkan evakuasi seorang bocah di perkebunan karet Way Galih Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan yang viral.
Bukan cuma di Lampung, banjir akibat curah hujan tinggi beberapa waktu terakhir —selain akibat daya rusak manusia mulai dari gemar betul buang sampah sembarangan, doyan deforestasi: gunduli hutan dan lahan kritis, cuek bebek lihat drainase mampet, daerah resapan air malah ditambang.
Apa memang betul, sedemikian parahnya hingga kini tak ada lagi satupun daerah di Indonesia yang bebas banjir?
Apa memang betul, sangking parahnya Indonesia bahkan telah kehabisan stok daerah bertingkat risiko banjir rendah?
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), masih ada kok, sejumlah wilayah tepatnya 10 kabupaten dengan indeks risiko banjir relatif rendah alias menunjukkan tingkat risiko banjir lebih kecil tetapi bukan berarti wilayah tersebut sepenuhnya terbebas dari potensi bencana; hasil penilaian BNPB berbasis pertimbangan tiga aspek utama.
Yakni tingkat bahaya banjir di suatu wilayah, tingkat kerentanan penduduk dan lingkungan, kapasitas daerah dalam melakukan mitigasi dan penanggulangan bencana.
Mana saja? Dirunut dari skor indeks yang terendah, yaitu Kabupaten Kepulauan Seribu Jakarta (43,5); Kabupaten Memberamo Tengah, Papua Pegunungan (44,8); Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (48,71); Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (64,18); Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah (67,2), Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah (67,98); Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara (71,64); Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (73,35); Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (78,56); Kudus, Jawa Tengah (79,75).
Ditelisik, rerata ke-10 wilayah ini di dataran tinggi.
Tampaknya, kerja keras Bunda Eva —sapaan karib Walikota Bandarlampung Eva Dwiana, juga Iyay Mirza —sapaan karib Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memerangi banjir, menatakelola revitalisasi tidak saja fisik melainkan juga konstruksi kesadaran kolektif rakyat setempat, bahwa cuek bebek lihat drainase mampet adalah petaka menahun. Masih jauh dari kata selesai.
Berjerih upaya: sosialisasi dan edukasi kesadaran ekologis, jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan alam, pilah dan buang sampah pada tempatnya, perbaikan saluran air, got, saluran drainase, serta daerah resapan air; membersamai program rehabilitasi dan rekonstruksi jalan dan jembatan, belum cukup nyata hasil kendalikan banjir. Ini.
Semoga kita semua semakin sadar dan berkesadaran, bahwa penanggulangan banjir terpadu terintegrasi diikuti bersamaan pembangunan dan pemeliharaan drainase yang kokoh, penanganan hulu ke hilir, berikut upaya gerakan semesta tata laksana, tata kelola, serta tata kendali banjir sedianya butuh singsingan lengan kita bersama. Apabila tidak, maka warta berita banjir datang memakan korban jiwa akan selalu terus dan terus berulang. Tiap hujan datang.
Bukannya apa. Sebab merujuk data historis dan laporan BNPB, banjir masih merupakan bencana alam paling sering terjadi di Indonesia sejak kemerdekaan 1945 hingga hari ini.
Memang, tak ada angka tunggal yang pasti untuk total keseluruhan kejadian selama 80 tahun (1945–2025) karena pencatatan terstruktur secara nasional baru diintensifkan di era modern. Namun selain akumulasi kejadian keseluruhan sejak tahun 1945 diperkirakan mencapai puluhan ribu kali mengingat frekuensi kejadian yang tinggi, terus berulang setiap tahun; data terbaru tren rerata kejadian menunjukkan banjir terjadi rata-rata 464 kali setiap tahun di Indonesia.
Banjir konsisten menempati posisi teratas bencana alam, mencakup sekitar 50 persen atau lebih dari total kejadian bencana per tahun. Misal 1.099 kejadian banjir dari 2.181 total bencana pada 2024. Adapun data 2025-2026, hingga September 2025 tercatat 1.256 kejadian banjir, dan pada Januari 2026, banjir kembali mendominasi dengan lebih dari 100 kejadian dalam waktu kurang dari sebulan.
Contoh banjir besar bersejarah pasca-1945, antara lain banjir mematikan di Flores 1973, banjir besar melanda Jakarta dan sekitarnya pada 1976, 1996, 2002, 2007, 2013, 2020, banjir bandang di Masamba 2020, banjir awal tahun yang kembali melanda wilayah Jabodetabek 2025.
Cegah kantuk saat menyelesaikan artikel ini, pewarta iseng buka YouTube, setel video klip lagu pelesetan dari lagu pop 80-an dipopulerkan Ratih Purwasih berjudul Yang Hujan Turun Lagi. Lagu pelesetannya lebih bikin tak mengantuk. Yaitu lagu berjudul sama, yang dipopulerkan oleh OM PMR digawangi vokalis (kini mendiang) Johnny Iskandar.
Demi mendengarnya, dengar dua saja syair bait pertama lagu pelesetannya sudah bikin naik darah terutama bagi para penyintas banjir. Perkara jemuran. Penasaran? Coba saja dengar sendiri, pasti sembari ketawa ngakak, sembari "empet" dalam hati.
"Yang, hujan turun lagi. Angkatin jemuran yang kau cuci. Yang, panas datang lagi. Jemur pakaian yang kau angkat tadi. Kalau hujan lagi, engkau angkat lagi. Sebaiknya kau bakar (dijemur) di api." Nah, ngerjain kan?
Untung ini suasana Ramadan. Setan dikerangkeng. Rasa dongkol bin jengkel pun sedikit berkurang. Lahul Fatihah untuk mendiang Johnny Iskandar yang notabene mantan suami biduanita dangdut asal Lampung, Mega Mustika; Lahul Fatihah untuk ketiga korban jiwa banjir 6 Maret 2026. (Muzzamil)
