Helo Indonesia

Nakhoda Baru BKKBN Jateng Pacu Integritas di Momen Halal Bihalal

Rabu, 25 Maret 2026 15:23
    Bagikan  
Nakhoda Baru BKKBN Jateng Pacu Integritas di Momen Halal Bihalal

Kaper BKKBN Jateng Rusman Efendi saat memberikan sambutan dan menyerahkan bantuan untuk keluarga dengan risiko stunting dalam acara halal bihalal

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM -  Suasana hangat dan cair menyelimuti Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah di Jalan Pemuda, Semarang, Rabu pagi 25 Maret 2026. Bukan sekadar seremoni hari pertama masuk kerja pasca-Lebaran 1447 H, momentum Halal Bihalal ini menjadi forum perdana bagi Ir Rusman Efendi MM untuk mengonsolidasikan kekuatan besar di Jawa Tengah.

Baca juga: Pimpin Apel Pasca-Lebaran, Ahmad Luthfi: Pelayanan Publik Tak Bisa Berjalan Parsial

Walaupun sudah menjabat sekitar dua bulan, momen ini menjadi ajang perkenalan resmi Rusman Effendi di hadapan seluruh jajaran dan mitra kerja. Sebelum berlabuh di Jateng, Rusman telah malang melintang memimpin BKKBN di Banten, Bengkulu, hingga menjadi koordinator di Kalimantan Utara.

“Tugas kita bukan sekadar urusan administratif di balik meja, tapi tugas yang langsung menyentuh denyut nadi rakyat,” tegas Rusman di hadapan ratusan hadirin.

hal2

Rusman Effendi mengatakan, halal bihalal yang diselenggarakan untuk merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah ini dirangkaikan dengan pemantapan program Pembangunan Keluarga Berencana bersama mitra kerja.

Momentum ini, kata dia, diharapkan bisa menjadi pondasi mental dan spriritual bagi ASN di Perwakilan BKKBN Jateng dalam menjalankan tugasnya dalam pembangunan keluarga di Indonesia.

“Tugas kita bukan tugas administratif tetapi langsung menyentuh rakyat. Dengan modal mental dan spiritual yang baik kita bisa menjalankan tugas dengan penuh integritas,” kata Rusman.

Dia menyebut, dengan pondasi mental yang tangguh, kita akan lebih lebih siap menghadapi dinamika dan tantangan pembangunan keluarga, sekaligus memastikan setiap program yang kita jalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup keluarga di Jateng.

''Dengan semangat gotog royong, mari kita akselerasikan program sangat prioritas dari program prioritas yang ada, yaitu program MBG dengan sasaran 3B (Ibu hamil, ibu menyusui, balita non-PAUD), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, Taman Asuh Sayang Anak, Gerakan Ayah Teladan Indonesia, dan Lansia Berdaya,'' ungkap Rusman.

hal3

Halal bihalal ini dihadiri Kepala DP3AKB Jateng Dra Ema Rachmawati MHum, Sekretaris BKKBN Jateng Suwarno, perwakilan Dinas Dalduk Kota Semarang, Juang Kencana, DPD Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Jateng, Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jateng, Forum GenRe, UPT Balai Diklat KKB Ambarawa, Banyumas, dan Pati serta jajaran ASN di lingkungan BKKBN Jateng,

Tausiah Menggelitik

Kegiatan silaturahmi pasca-Lebaran tersebut, diisi dengan tausiah KH Dr M Fachrurozi (penasihat MUI Jateng). Kiai yang juga akademisi itu menyampaikan, bahwa Islam masuk ke Nusantara tidak untuk merusak atau menghapus budaya yang sudah ada pada masyarakatnya.

“Islam berkembang bersama kebudayaan yang ada di Nusantara. Di Arab tidak ada halal bihalal, tetapi di Indonesia ada budaya ini. Kalaupun di Arab ada halal bihalal, yang menyelenggarakan pasti orang Indonesia,” kata Ustaz Fachurozi.

Baca juga: Peluk Rindu di Permata Inn: Lintas Generasi SMAN 1 Pangkah Merajut Kenangan di Momen Lebaran

Dengan tausih yang menggelitik dan bikin ger-geran itu, dia selanjutnya mengisahkan soal budaya Lebaran di Indonesia yang sebenarnya salah makna, tapi berbuntut kebaikan dan memberi manfaat.

Yang berkaitan dengan Ramadan, misalnya, ada istilah takjil. “Takjil dalam Bahasa Arab artinya segera, segera untuk membatalkan puasa usai azan. Tetapi begitu masuk ke Indonesia dan Jawa bisa berubah makna menjadi snack. Dan uniknya, takmir masjid membuat jadwal takjil. Ini kesempulan yang salah tapi bermanfaat,” katanya.
Dia juga menyinggung salat tarawih yang mana tarawih itu artainya santai. Tapi entah mengapa, sebagian masyarakat masih mengartikannya dengan cepat. Bahkan, sampai dinaikkan ke YouTube sebagai salat tarawih tercepat.

Terkait kata Idul Fitri, menurut KH Fachrurozi juga terjadi perubahan makna. Makna kata “fitri” sejatinya adalah “sarapan” atau “makan pagi” dan Id artinya Kembali.

“Orang Arab setelah menyelesaikan puasa akan berkata aidul fitri yang artinya kita boleh sarapan kembali setelah Ramadan selesai. Nah, di sini dimaknakan sebagai kembali suci. Padahal fitri itu artinya sarapan. Ini tak usah dipersoalkan, tapi nikmati saja,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Juga kata minal aidin wal faizin yang di sini dianggap berarti “maaf lahir batin”. Padahal dalam konteks ini bermakna “orang-orang yang kembali (dari perang melawan hawa nafsu) dan meraih kemenangan.

“Lha anehnya di sini, kita mengucapkan minal aidin wal faizin dibalas dengan ucapan padha-padha (sama-sama),” katanya kembali disambut tawa hadirin.

Dia mengajak hadirin untuk istikamah dalam menjaga iman setelah Ramadan berlalu. Dia ingin melalui halal bihalal ini, menjadikan kita salah secara ritual, tapi juga mewujud menjadi salah sosial. Acara halal bihalan diakhiri dengan bersalam-salaman saling memaafkan dan makan bersama. (Aji)