Catatan Kaki Muzzamil
Kontributor Helo Indonesia
HELO Josepha Alexandra, salam kenal ya. Begitu mengetahui kabarmu viral di media sosial, kami —saya dan istri beserta dua putra-putri kami, kontan cari tahu dan menyimak utuh berkali-kali, video amatir jejak digital kisah beranimu.
Kecuali saya yang menahan diri mencurahkannya lewat protes batin, serba gado-gado ekspresi kedongkolan, ke-geregetan, kekesalan, kejengkelan dan sohib-sohibnya; juga sekaligus empati terdalam seketika demi menyaksikan sebuah, katakanlah "relasi kuasa" tengah bekerja namun teramat sangat disayangkannya, dengan tidak semestinya.
Sementara, istri dan putra-putri kami bergantian komentar serba miring binti minor, tidak saja kontan menyudutkan akan tetapi senada jutaan warganet Tanah Air lainnya nan kontan memvonis menghakimi dua juri dan juga salah satu pewara (MC) babak final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Kebangsaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2026 yang kamu dan teman-temanmu siswa siswi SMA Negeri 1 Kota Pontianak kompatriot tim peserta lomba, ikuti.
"Mana bisa begitu!", "Gak boleh semena-mena dong!", "Dih curang. Kalau bukan juri zalim apa itu namanya!" Demikian komentar ekspresif ketiga kesayangan. Mimik ketiganya siratkan pengharapan: Josepha dkk lekas terpeluk keadilan.
Dan benar saja adanya, gerbang raya keadilan itupun bak selebar-lebarnya terbuka. Upaya smooth Josepha santun mengalun memprotes, mengkomplain Dewan Juri demi memperjuangkan jawabannya yang ia yakini (dan dari bukti tayangan video viralnya pun memang seribu persen) benar, kini melebar pula menjadi gerbang raya simpati publik luka.
Yang tidak saja berempati. Turut tersakiti. Terusik rasa keadilannya terciderai. Tetapi juga menekankan mesin pengingat bagi diri sendiri setiap pribadi akan pentingnya berani speak up mempertahankan sesuatu kebenaran yang sahih, namun coba ditelikung, dirampas, dan dipersalahkan.
Pembaca budiman, upaya smooth nan santun mengalun sang Josepha Alexandra ini, sejatinya upaya bertahan. Atau lebih tepatnya, upaya ia dan tim sekolahnya peserta lomba tersebut, yang notabene berstatus juara bertahan lomba senada tahun sebelumnya. Sebagaimana tampak foto.
Josepha Alexandra dan timnyi sesadar-sadarnya sadar, ini cerdas cermat. Mesti cerdas, kudu cermat. Pun mereka sadar itu kata lainnya cepat tepat. Mesti cepat kudu tepat.
Dan demi sandang kembali status juara, mereka mesti berani. Karena semirip baris tera lembaga antirasuah, berani itu hebat. Pun di saat aroma "dicurangi" itu merebak datang, kata hati mengatakan harus dilawan.
Dan seperti yang telah Josepha Alexandra buktikan, ia melakukannya, ia melawan —meski lewat upaya smooth, santun mengalun— dengan sehebat-hebatnya.
Lantas jadi riuh, jadi rame dan melebar kemana-mana pun termasuk sampai pada keusilan warganet hingga menguliti, mengulik data e-LHKPN salah satu juri tersebut, dirasakan publik yang berempati sekaligus bersimpati sebagai bahasa kebenaran. Sebagai bahasa maha pentingnya bersolidaritas terhadap penderita ketidakadilan. Keadilan itu mahal Bung, seru para warganet ceria "Republik Konoha".
Sebaliknya, sadar ada yang salah, sadar bersalah, dan sadar kemudian sesaat menjadi bulan-bulanan "amarah" warganet, sang lembaga terhormat pun bertaruh nyali.
Unsur di dalamnya menggesa permaafan. "MPR jiper tuh," celetuk warganet lainnya, bersyukur respons cepat digeber.
Sebagaimana tampak foto, pihak Sekretariat Jenderal MPR RI telah pula melajukan siaran pers permintaan maafnya disertai penjelasan langkah punishment dan umpan balik dilakukan. Juri teledor dimaksud, dinonaktifkan. Untunglah.
Sebagai ilustrasi, Ketua Komisi III DPR Dr. Habiburokhman misal lugas menyebut juri kudu minta maaf dan disanksi.
Hari ini, Ketua Komisi II DPR, Dr M Rifqinizamy Karsayuda yang ternyata juga alumnus SMAN 1 Pontianak, selain turut berempati bersimpati, dan memuji keberanian Josepha Alexandra menyampaikan keberatan atas keputusan juri, mengkonfirmasi kesiapan akhir Josepha akan didampingi kepala sekolah, wakepsek bidang kesiswaan, dan satu guru pembimbing datang ke Jakarta memenuhi undangan MPR, jua renyah menawarkan Josepha yang kini masih Kelas XI, beasiswa lanjut S1 ke Tiongkok kelak plus peluang ikatan kerja pasca-S1. Via videocall Selasa siang, Josepha takzim.
Karena nilai-nilai luhur sportivitas, kejujuran, obyektivitas, kebenaran dan keadilan yang kendati terus dijunjung tinggi tapi diklaim warganet kian hari bak logam mulia kian mahal. Yang kuping panteng kita dengar, picing mata kita berbinar saksikan videonya, kisah perjuangan Josepha Alexandra itu, itu pulalah kisah kesejatian pelaksanaan kata-kata. Mandat Alenia Pertama. Pembukaan UUD 1945.
Di samping mesin pengingat, kisah Josepha yang menjadi sentra kontroversi "jawaban benar dinyatakan salah" ini, sekonyong-konyong koder warganet jadikan pula sebagai amunisi penggugat. Usik rasa keadilan rakyat? Jangan coba-coba. Karir pun goda-goda dunia bisa kontan tamat.
Dan sembari sedikit menahan bening hangat di pelupuk demi untuk tidak jatuh menetesi kening muka putri saya yang saat saya menuliskan ini, ia sembari menggelendot di pelukan ayah dengan mata nanar terus berulang-ulang menonton ulang video curang terpecundang, ini.
Josepha, dengan segenap kerendahan hati, izinkanlah saya turut dedahkan kesaksian. Bahwa selain kebenaran boleh saja disalahkan tetapi takkan bisa dikalahkan. Kisah berani dan empatikmu, Josepha, sekaligus mengajarkan ulang kami —saya dan istri beserta dua putra-putri kami, bahwa kisah berani dan empatikmu itu, tak butuh sensor.
Terima kasih, Josepha. Kamu telah menolong kami, untuk tetap kuat menghebat di dalam menghadapi memerangi malapraktik sekaligus malapetaka ketidakadilan, semacam perangai smooth santun mengalun yang otentik kamu pertunjukkan.
Terima kasih Josepha, darimu kami belajar ulang, apa itu integritas. (***)
