Helo Indonesia

Efek Borobudur: Ahmad Luthfi Satukan Wisata 5 Daerah Keburejo-Gelangmanggung

Kamis, 4 Juni 2026 09:58
    Bagikan  
Efek Borobudur: Ahmad Luthfi Satukan Wisata 5 Daerah Keburejo-Gelangmanggung

Gubernur Ahmad Luthfi saat menghadiri Rembug Pembangunan Jateng yang dihelat di Pendopo Kabupaten Temanggung

TEMANGGUNG, HELOINDONESIA.COM -  Kawasan Candi Borobudur kini dibidik menjadi episentrum wisata berkelanjutan yang mengoneksikan lima daerah penyangga dalam payung aglomerasi Keburejo-Gelangmanggung.

Melalui jurus penguatan konektivitas, akselerasi desa wisata, dan penyatuan kalender event, megaproyek ini diharapkan mampu memecah penumpukan wisatawan sekaligus mendongkrak ekonomi lokal. Gagasan besar ini mengemuka dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah yang dihelat di Pendopo Kabupaten Temanggung, Rabu 3 Juni 2026.

Baca juga: Tetap Awet Muda Alami itu Mudah, Cuma Butuh Perawatan yang Tepat di Tiap Fase Umur

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, Borobudur tidak boleh berdiri sebagai destinasi tunggal, melainkan harus menjadi hub yang menghubungkan berbagai objek wisata unggulan di sekitarnya.

Menurutnya, konsep tersebut telah diterapkan di sejumlah negara tujuan wisata dunia, di mana wisatawan yang datang ke satu destinasi utama langsung diarahkan untuk mengunjungi berbagai kawasan penyangga yang saling terhubung.

“Di Turki, begitu masuk ke sana langsung ditawari destinasi ke beberapa tempat. Semua sudah terkoneksi. Di wilayah eks Karesidenan Kedu juga harus begitu. Borobudur bisa dirasakan oleh Kebumen, dan pantai-pantai Kebumen yang bagus juga bisa dirasakan oleh Borobudur,” kata Ahmad Luthfi.

Ia menilai konektivitas antarwilayah perlu segera dirumuskan secara detail sebagai panduan pengembangan wisata berkelanjutan. Integrasi tersebut mencakup kawasan Borobudur-Kopeng-Rawa Pening, destinasi wisata di Purworejo, hingga kawasan Geopark dan wisata pantai di Kebumen.

Selain konektivitas, Luthfi juga menyoroti pentingnya pengembangan desa wisata sebagai penguat ekosistem pariwisata.

Saat ini, masing-masing daerah telah menyiapkan target pengembangan desa wisata baru, yakni 50 desa wisata di Kabupaten Magelang, 45 di Purworejo, 35 di Kebumen, 30 di Temanggung, dan lima di Kota Magelang.

“Kita siapkan sekarang agar tahun 2027 tinggal pelaksanaan. Infrastruktur menuju destinasi wisata juga harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Luthfi juga meminta pemerintah kabupaten/kota memperbanyak penyelenggaraan event sebagai daya tarik wisatawan. Menurutnya, kalender event yang ada saat ini masih perlu ditingkatkan, baik dari sisi jumlah maupun skala kegiatan.

“Kalau setahun baru 100 event, itu masih kurang. Tambah lagi. Pariwisata ini sektor yang tidak mengenal resesi,” tegasnya.

Untuk memperkuat sinergi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga akan berkoordinasi dengan pengelola kawasan Candi Borobudur guna menyusun pola pengembangan yang tetap menjaga nilai warisan budaya dunia.

“Saya tertarik dengan Borobudur. Segera undang TWC, termasuk bupati dan wali kota Magelang. Ada sesuatu yang harus dibahas bersama tanpa mengurangi heritage. Pemda melakukan apa, masyarakat melakukan apa, pemerintah pusat apa, dan UNESCO apa, sehingga ada keterpaduan,” kata Luthfi.

Baca juga: Modus Petinggi BGN Raup Rp1 Miliar Lebih per Hari plus Mark Up Barang

Sejumlah kepala daerah yang hadir dalam forum tersebut menyampaikan dukungannya terhadap upaya integrasi kawasan wisata tersebut.

Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menilai manfaat ekonomi Borobudur masih perlu diperluas agar lebih dirasakan masyarakat sekitar. Salah satu gagasan yang sedang didorong adalah pembukaan kawasan Borobudur pada malam hari.

“Kami berupaya agar Borobudur bisa dibuka malam hari. Dengan begitu potensi okupansi perhotelan di Magelang bisa ikut terangkat,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Temanggung, Agus Setyawan, berharap promosi Borobudur dapat dikolaborasikan dengan pengembangan destinasi wisata Sindoro-Sumbing yang saat ini tengah digarap bersama komunitas lokal.

Di sisi lain, Wakil Bupati Kebumen, Zaeni Miftah, mengusulkan penyusunan kalender event terpadu untuk seluruh wilayah aglomerasi guna menghindari benturan jadwal sekaligus memperkuat promosi kawasan secara kolektif.

“Kami ingin ada koordinasi dan kolaborasi untuk kalender event agar tidak bentrok. Bila memungkinkan dibuat kalender event bersama yang mencakup seluruh wilayah,” katanya.

Melalui penguatan konektivitas destinasi, kolaborasi antardaerah, dan integrasi promosi wisata, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan Borobudur tidak hanya menjadi ikon pariwisata dunia, tetapi juga lokomotif pertumbuhan ekonomi yang mampu menggerakkan seluruh kawasan Keburejo-Gelangmanggung secara berkelanjutan. (Aji)