SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Antusiasme dan rasa lega dirasakan oleh warga Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Mereka menyambut baik digelarnya kegiatan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TBC) yang diintegrasikan langsung dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta Layanan Speling di Balai Desa Sukodono, Selasa 13 Oktober 2026.
Melalui program terpadu ini, masyarakat tak hanya bisa mendeteksi risiko paparan TBC sejak dini, tetapi juga memperoleh pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh tanpa dipungut biaya.
Baca juga: Perkuat Kompetensi Global ASN, USM LCC dan Disperakim Jateng Gelar Pelatihan TOEFL ITP
Kegiatan strategis ini ditinjau langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, yang hadir mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin. Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus.
Dalam peninjauannya, Sumarno menyaksikan langsung ragam alur pemeriksaan bagi warga, mulai dari cek tekanan darah, tinggi badan, tes dahak Sputum BTA (Bakteri Tahan Asam), rontgen dada, hingga pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.
Salah seorang warga yang mengikuti kegiatan tersebut, Dina Amelia, mengaku datang bersama lima anggota keluarganya setelah mengetahui adanya riwayat TBC di lingkungan keluarga mereka.
Ia berharap pemeriksaan tersebut dapat membantu memastikan kondisi kesehatan seluruh anggota keluarganya sekaligus mencegah penularan.
“Harapannya tidak ada yang tertular dari keluarga, sehingga semuanya tetap sehat. Alhamdulillah, bisa cek kesehatan gratis melalui kegiatan ini,” ungkap Dina.
Dari Kader Desa
Sementara itu, warga lainnya, Nurhamidah, mengaku memperoleh informasi mengenai kegiatan tersebut dari kader kesehatan desa. Ia menceritakan pernah mengalami keluhan sakit di bagian dada dan batuk yang mereda, tetapi kemudian kembali berulang.
Nurhamidah berharap kegiatan skrining TBC dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
“Kalau bisa, ketika penyakitnya diketahui lebih awal, penanganannya juga bisa lebih cepat,” tuturnya.
Dalam penjelasannya, Kepala Puskesmas Tahunan, Pramita Sukti Setyarini, mengatakan, penelusuran atau tracing TBC penting dilakukan untuk menemukan kasus yang belum terdeteksi, termasuk pada orang yang tidak menunjukkan gejala.
Menurutnya, pemeriksaan aktif diperlukan agar masyarakat yang berisiko terinfeksi TBC dapat segera menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan sesuai hasil diagnosis.
“Dengan adanya tracing ini, kita bisa menjaring pasien-pasien yang memiliki gejala TB, tidak bergejala, maupun yang memiliki riwayat kontak. Melalui kegiatan ACF, kita bisa melihat gambaran paru-paru melalui pemeriksaan rontgen untuk membantu mendeteksi kemungkinan TBC,” ujar Pramita.
Ia menjelaskan, kegiatan skrining TBC di wilayah kerja Puskesmas Tahunan diharapkan dapat dilakukan secara rutin setiap bulan. Pelaksanaannya menyasar sejumlah desa, termasuk menelusuri kontak erat dari pasien yang telah terkonfirmasi positif TBC.
Baca juga: Laju Mulus Sang Juara Bertahan: Siapa Bisa Tumbangkan Aman/Agus di KBAM 2026?
Kontak erat tersebut meliputi anggota keluarga, teman dekat, hingga rekan kerja. Mereka dianjurkan menjalani pemeriksaan meskipun belum mengalami gejala, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC.
“Walaupun tidak bergejala, kalau mereka memiliki riwayat kontak, kita bisa meminta mereka datang untuk diperiksa,” jelasnya.
Dia senang dengan kegiatan di Desa Sukodono yang menggabungkan penelusuran TBC dengan program Speling. Pemeriksaan yang tersedia meliputi rontgen, tekanan darah, tinggi badan, serta pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.
Integrasi tersebut diharapkan memudahkan masyarakat mengakses berbagai layanan kesehatan dalam satu kegiatan. Data pelayanan juga diinput melalui sistem Satu Sehat.
“Jadi, kegiatan ini terintegrasi antara Speling, tracing, ACF, dan CKG. Semuanya menjadi satu dan terinput dalam Satu Sehat,” kata Pramita. (Aji)
