UNGARAN, HELOINDONESIA.COM - Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Samuel JD Wattimena kembali menebarkan semangat dan optimisme kepada konstituennya. Dalam kegiatan resesnya sebagai legislator, desainer kondang itu menyambangi komunitas UMKM dan budaya se-Kabupaten Semarang di Hotel Ungaran Cantik, Ungaran, Senin 16 Desember 2024.
Seperti biasa, Samuel yang mantan stafsus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak itu sekilas mendedah realitas dan tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, khususnya mental 'block'. Mental ini adalah suatu keraguan atau ketidakyakinan yang dialami pegiat UMKM yang berpotensi membuat usahanya tak berkembang.
”Untuk memulai suatu pekerjaan yang baru, kuncinya kita harus berani mencoba. Kita harus mencoba sesuatu yang baru, tanpa harus meninggalkan tradisi yang lama. Inilah kunci menuju sukses untuk memulai berusaha, karena kalau tidak berani memulai dengan mencoba, maka mustahil usaha kita akan sukses,” ujar anggota Komisi VII DPR RI dari Dapil Jateng 1 (Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Salatiga) tersebut.
Pada kesempatan itu, Samuel juga mengungkap fenomena gegar budaya yang dialami para generasi muda kita.
Samuel mencontohkan, sekarang ini para gererasi muda, anak-anak, remaja, bangun tidur yang dicari adalah Hp. Bahkan ketika diberi pengertian oleh orang tua terkait tradisi lama, para renaja ini lebih percaya kepada jawaban Mbah Gogel (aplikasi Google) dari pada nasihat orang tuanya.
”Apakah pemikiran pemuda yang lebih mempercayai Google ini harus dilarang? Oleh karena itu orang tua perlu cara untuk mencoba memberikan pengertian, tanpa harus meninggalkan tradisi lama dan melarang tradisi baru,” ujar Samuel.
Kembali ke Budaya Lokal
Suasana dialog pun mulai mencair. Ny Silvi, anggota komunitas lansia dari Gereja Kristus Raja Ungaran langsung menanggapinya. Dia berpendapat, sudah saatnya dipikirkan tradisi budaya lokal perlu segera disosialisasikan kepada generasi muda agar mereka tidak terjerumus pada tradisi modern dan meninggalkan tradisi lama yang kental dengan adab sopan santun.
Peserta laian, Tri Prasetyo menimpali apa yang diusulkan Silvi. Dia berharap budaya sopan santun kembali digaungkan. Apalagi sekarang ini di sekolah tidak ada lagi kurikulum yang mengajari siswa adab sopan santun. Oleh karenanya melalui DPR RI diharapkan bisa memfasilitasi agar pemerintah mengembalikan kurikulum pembelajaran mengenai adab sopan santun.
”Urip iku urup (Hidup harus menyala). Anak kita bangun tidur mencari langsung mencari Hp. Mereka lebih patuh kepada Hp, ketimbang nasihat bijak orang tua. Bagaimana agar anak kita kembali mengenal unggah - ungguh. Ini tantangan bagi orang tua,” ujar Tri.
Pada kesempatan dialog tersebut, Samuel tidak berjalan sendiri, tetapi melibatkan seorang mentor yang juga Ketua Komite Ekonomi Kreatif di Kabupaten Semarang Dimas Herdy Utomo Dia memberikan tips-tips menarik kepada pelaku UMKM agar usahanya bisa berkembang dengan sukses dan laku di pasaran.
”Salah satu contoh, di Ungaran ada toko roti Virgin. Dulu awalnya usaha roti ini kecil, tetapi karena berani mencoba mengembangkan usahanya, sekarang ini di mana-mana tumbuh dan berkembang dengan baik. Kuncinya, kita harus berani survei dan melakukan penelitian sebelum memulai usaha,” ujar Dimas.
Selain melakukan dialog dengan pelaku UMKM dan Komunitas Budaya, Samuel melanjutkan kegiatan di sejumlah lokasi di Kabupaten Semarang. Di antaranya mengunjungi lokasi bencana tanggul jebol di Dusun Ngendo, Ambarawa, Dialog Pariwisata dan sosialisasi UU dan Advokasi di Kantor DPC PDIP Kabupaten Semarang. (Aji)