Sidang Isbat: Lebaran Idul Adha pada Rabu, 27 Mei 2026

Minggu, 17 Mei 2026 19:39
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar saat mengumumkan Idul Adha 2026 HELO LAMPUNG

JAKARTA, HELOINDONESIA.COM -- Kementerian Agama RI memutuskan Idul Adha jatuh pada hari Rabu 27 Mei 2026. Keputusan ini hasil Sidang Isbat Idul Adha 2026 di Auditorium H.M. Rasjidi, Gedung Kementerian Agama RI, Jalan M.H. Thamrin No 6, Jakarta Pusat, Minggu (17/52026).

Setelah melalui rangkaian tahapan, Kementerian Agama RI memutuskan 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin (18/5/2026). Dengan demikian, 10 Dzulhijjah atau Lebaran Idul Adha jatuh pada hari Rabu (27/5/2026), kata Menteri Agama RI Nasaruddin Umar.

Menurut Nasaruddin Umar, ada dua dukungan kepastian penentuannta dalam Sidang Isbat, dukungan data hisab dan kesaksian rukyat..Kedua data tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menetapkan awal Zulhijah 1447 Hijriah secara objektif, dan ilmiah.

Astronom Cecep Nurwendaya, anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI, mengatakan wilayah NKRI telah memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) awal bulan Qomariah.

Kata dia, di Indonesia, hilal berada pada ketinggian kisaran 3,29 derajat di Merauke hingga 6,95 derajat di Sabang. Sementara elongasi hilal berkisar antara 8,91 derajat hingga 10,62 derajat.

Berdasar Kriteria MABIMS, tanggal 29 Zulqa'dah 1447 H / 17 Mei 2026 M posisi hilal di seluruh wilayah NKRI telah memenuhi kriteria tinggi hilal minimum 3 derajat, dan elongasi minimum 6,4 derajat. Sehingga tanggal 1 Zulhijjah 1447 H secara hisab jatuh bertepatan dengan hari Senin Kliwon, tanggal 18 Mei 2026, katanya.

Dalam menentukan tanggal Idul Adha atau awal bulan Zulhijah, katanya, harus dengan mengintegrasikan metode hisab (perhitungan astronomi) tak sebatas rukyat atau pengamatan hilal. Kedua pendekatan ini saling melengkapi dalam menghasilkan keputusan yang komprehensif, pungkasnya.

Penetapan tanggal ini memiliki alasan historis, teologis, dan urutan ibadah yang mendalam dalam agama Islam, yakni puncak dari rangkaian ibadah haji sekaligus tanda penghormatan atas puncak ketaatan Nabi Ibrahim AS untuk ikhlas berkurban.

Pada 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk pertama kalinya menerima perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ia masih ragu apakah mimpi itu benar-benar wahyu dari Allah atau bukan.

Tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim kembali bermimpi yang sama. Dia yakin (arafa) secara penuh bahwa perintah itu mutlak datang dari Allah.

Tanggal 10 Dzulhijjah, Hari Nahr, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah penyembelihan tersebut sebagai bentuk ketulusan iman yang luar biasa. Sesaat sebelum penyembelihan terjadi, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba besar (kibas).

Momen penyembelihan inilah yang abadi menjadi Hari Raya Idul Adha (Hari Raya Kurban). Pada hari yang sama, umat muslim yang menunaikan ibadah haji menyelesaikan wukuf dan bermalam (mabit) di Muzdalifah.

Jwmaah haji bergerak menuju Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah untuk melempar jumrah (Jumrah Aqabah) dan menyembelih hewan hadyu (kurban bagi jemaah haji). Bagi umat Islam yang tidak berhaji, hari ini dirayakan dengan melaksanakan salat Idul Adha bersama dan menyembelih hewan kurban.. (Prapthy)


Berita Terkini