JAKARTA, HELOINDONESIA.COM - Pesta demokasi pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2024 diharapka menentukan pemimpin yang visioner dan memiliki agenda besar untuk masa depan bangsa. Kecuali itu, lahir sosok yang punya leadership paripurna.
Hal itu disampaikan pakar komunikasi politik dan budayawan Antonius Benny Susetyo di Jakarta, Selasa 25 April 2023.
Menurut Benny, sapaan akrab Benny Susetyo, kontestasi pilpres sudah menghangat dan menjadi perbincangan publik seirama munculnya calon-calon presiden yang diusung oleh sejumlah partai.
Lebih jauh dari itu, terciptanya koalisi besar dan koalisi perubahan yang menambah warna demokrasi kita.
Namun kata dia, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab mereka adalah, apakah kompetisi perebutan kursi presiden hanya sekadar ''saya dapat apa dan saya memperoleh apa,'' atau berbicara tentang agenda masa depan bangsa ini.
Dia menilai, renungan terbesar bagi kita saat ini adalah apa yang ditawarkan dari masing-masing para calon kandidat presiden itu? Lalu bagaimana mereka merumuskan kebijakan-kebijakan untuk terwujudnya cita-cita hidup berbangsa bernegara?
''Bahwa cita-cita kita merdeka adalah terwujudnya masyarakat adil yang makmur, masyarakat yang cerdas, dan bagaimana Indonesia berperan di dunia internasional untuk menciptakan perdamaian dunia,'' tuturnya.
Lebih lanjut Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu, menyampaikan pemimpin atau presiden kedepan harus mampu melihat persaingan politik global, mengingat situasi tidak menentu dan ekonomi tergantung dari kestabilan politik dunia.
Maka, tandas Benny, pada Pilpres 2024 nanti, Indonesia butuh pemimpin visioner, bukan hanya sekadar dealer. Istilah dealer diasumsikan hanya sebatas menawarkan, transaksi, tetapi pemimpin negara punya visi ke depan yang mampu membuat bangsa ini memiliki daya tahan yaitu memiliki kedaulatan bidang ekonomi politik dan budaya.
''Maka pemimpin yang visioner harusnya mampu membaca realita geopolitik dan realita tantangan dunia ke depan dalam era digitalisasi,'' bebernya.
Keunggulan
Menurut Benny, dibutuhkan Pemimpin yang memiliki arete. Pemimpin memiliki arete berupa keunggulan leadership yang paripurna.
"Dibutuhkan pemimpin yang tidak hanya sekedar dia memiliki arete yaitu keutamaan-keutamaan publik bijaksana adil dan pemimpin yang selalu mampu mengayomi masyarakat tetapi pemimpin yang mampu me-manage tata dunia baru dengan persaingan globalnya. Maka dibutuhkan lompatan yaitu tidak hanya kita melihatnya sekadar bahwa politik merebut kekuasaan tetapi kekuasaan itu untuk apa.
Benny lalu mengutip teori dari seorang filsuf Jerman yang bernama Walter Benjamin bahwa pemimpin tidak hanya memiliki dimensi manusiawi tetapi dimensi Ilahi. Artinya pemimpin yang memberi rasa aman dan nyaman, tapi mampu membaca tanda-tanda zaman yang sanggup menggerakkan spirit menjadi Indonesia, dan bisa beradaptasi dengan tantangan global. (Aji)
