Helo Indonesia

Tom Lembong: Saya Kembali Dengan Semangat Yang Tidak Retak

Annisa Egaleonita - Nasional -> Politik
Sabtu, 2 Agustus 2025 11:24
    Bagikan  
Tom Lembong: Saya Kembali Dengan Semangat Yang Tidak Retak

BEBAS - Tom Lembong dan Ciska istrinya pada satu momen pencoblosan. Kanan: Presiden Prabowo Subianto. | dok/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Ulah Keputusan Presiden (Keppres) Pemberian Abolisi Kepada Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong) dan Amnesti Kepada Hasto Kristiyanto diteken oleh Presiden Prabowo, Jum'at (1/8/2025). Serta merta, keduanya mesti dibebaskan dari masa pemidanaan pada hari yang sama, dan telah dilaksanakan.

Kuasa hukum Tom Lembong, Ari Yusuf Amir, menginfokan bahwa dirinya telah dihubungi langsung oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, yang mengafirmasi bahwa dokumen fisik Keppres Abolisi Tom Lembong telah pula diteken oleh Presiden Prabowo. Dokumen Keppres tersebut tengah 'otewe' ke Cipinang.

Kesempatan pertama jumpa pers di depan Rutan Cipinang, Jl Bekasi Timur Raya 170C 8 Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur, sesaat usai menghirup udara bebas, Jum'at malam sekitar pukul 22.05 WIB, sang penerima abolisi, Tom Lembong menyatakan dirinya menyambut baik keputusan, dan juga berterima kasih kepada Presiden Prabowo.

"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Bapak Prabowo Subianto atas pemberian abolisi," ujar Tom, selain berterima kasih kepada pimpinan DPR terkait pertimbangan dan persetujuan soal abolisi.

"Keputusan ini bukan hanya membebaskan saya secara fisik, tapi juga memulihkan nama baik saya dan kehormatan saya sebagai seorang warga negara," lugas To, selain mengungkapkan sejumlah poin yang pun memaksa publik mesti 'belanja' adrenalin.

Tom 'si lesung pipit' menggantang asa, kuat berharap agar supaya kedepannya hukum di Indonesia tidak berpihak pada kepentingan tertentu, tetapi berpihak pada kebenaran.

"Bila mungkin membantu agar sistem hukum kita menjadi lebih adil, lebih jernih, dan lebih memihak kepada kebenaran alih-alih pada kepentingan sempit tertentu," tutur Tom, didampingi kuasa hukumnya, Ari Yusuf Amir.

Produk amalgamasi Tionghoa-Jawa dari ayah dokter jantung dan THT jebolan UI asal Manado, Yohanes Lembong; sang ibu seorang ibu rumah tangga asal Tuban, Jawa Timur, Yetty Lembong; yang praktis cuma 5 tahun bersekolah di Indonesia sekembalinya dari Jerman ke sini 5 SD sampai lulus SMP Regina Pacis Jakarta ini, kepada pers mengutarakan, proses hukum yang dijalaninya dalam kasus korupsi impor gula di lingkungan Kementerian Perdagangan: tidak ideal, sarat politisasi.

"Banyak orang yang bernasib sama dengan saya. Namun tidak memiliki suara, sorotan, dan perlindungan seperti yang saya alami, sehingga tidak seberuntung saya, mendapat abolisi. Saya juga menghormati pandangan pandangan seperti itu. Karena sejak awal, saya pun merasa, bahwa apa yang saya alami ini bukan lah bagian dari proses hukum yang ideal," tutur Tom berikutnya.

Lulusan SMA Boston, Massachusetts, AS, dan sarjana arsitektur dan perencanaan kota dari Universitas Harvard 1994 ini jua mengisahkan dirinya punya banyak waktu buat merenung, buat memikirkan "bagaimana sistem hukum bekerja." Selama dia 9 bulan mendekam.

Dipaksa situasi sulit untuk menelan pil pahit, Tom yang menikahi soulmate-nya, Maria Franciska Wihardja (Ciska) tahun 2002 dan dikaruniai 2 anak ini, tetap menebar senyum, tak mendendam, tetap mencintai Indonesia dengan semangat tak pernah padam.

"Saya juga ingin mengatakan kepada semua bahwa saya kembali dengan semangat yang tidak retak, apalagi patah, saya masih sangat amat percaya pada negeri ini," mangkus Tom, penerima PenghargaanYoung Global Leader oleh World Economic Forum di Davos 2008;
Menteri Perdagangan Kabinet Kerja kurun 12 Agustus 2015–27 Juli 2016 dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kurun 27 Juli 2016–23 Oktober 2019 itu.

Titian karir selulus Harvard, bekerja di Divisi Ekuitas Morgan Stanley Pte Ltd Singapura (1995), bankir investasi di Deutsche Securities Indonesia (1999–2000), kadiv dan wakil presiden senior di badan adhoc naungan Kemenkeu dan BI bertugas merekapitulasi, merestrukturisasi perbankan RI pascakrisis keuangan Asia: Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) 2000–2002, kerja di Farindo Investments (2002–2005), pendiri dan dirut korporat ekuitas swasta di Singapura: Quvat Management (2006), Preskom Graha Layar Prima Tbk (BlitzMegaplex) 2012–2014.

Selanjutnya, jadi penasihat ekonomi dan penulis pidato Gubernur DKI Jakarta saat itu, Joko Widodo (Jokowi) pada 2013 diteruskan selama periode pertama Jokowi menjabat Presiden ke-7.

Usai tak lagi Kepala BKPM pada 2019, Tom lalu menjabat penasihat internasional Institut Kajian Strategis Internasional (IISS) di London dan perusahaan komponen otomotif bernama International Plastic Omnium berbasis di Prancis.

Kemudian, dia ditunjuk Gubernur DKI Jakarta saat itu Anies Baswedan, sebagai Komisaris Utama PT Jaya Ancol, satu-satunya BUMD Pemprov di Tanah Air yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Agustus 2021. Bukan tanpa dasar, Anies menunjuk Tom dengan mempertimbangkan kompetensinya di bidang investment banking dan industri dana lindung nilai (hedge fund industry).

Tom juga mendirikan Consilience Policy Institute, wadah pemikir yang mengadvokasi kebijakan ekonomi internasionalis dan reformis di Indonesia, berbasis di Singapura.

Terakhir, Tom juga menjadi Co-Captain Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN) pada Pilpres 2024. Penunjukannya diumumkan pada 14 November 2023.

Pembaca, jika anda ingat Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi bertajuk 'Game of Thrones' pada Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018, dan Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi bertajuk 'Thanos' di Forum Ekonomi Dunia (WEF), itulah antara lain pidato hasil tulisan Tom Lembong untuk Jokowi yang paling ikonik.

Hari ini, bukan saja Tom. Nun juga Maria Franciska Wihardja atau Ciska, putri dari founder/CEO PT Duta Abadi Primantara, Andreas Wihardja, produsen kasur. Sang istri.

Juga Thalia Lembong dan Maxwell Lembong, putra-putri mereka, yang juga "bebas". Misal saja, bebas mengarahkan pose kedua orang tuanya untuk sekadar diabadikan kamera, pose sejoli sesama pemilik lesung pipit itu.
(Muzzamil)