HELOINDONESIA.COM - Pertemuan Budiman Sudjatmiko dengan Prabowo Sudjatmiko di Jalan Kertanegara, markas bos Gerindra itu, masih terus menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Sebab, nadanya Budiman Sudjatmiko akan merapat bergabung ke Prabowo untuk Pillpres 2024.
Padahal, keduanya di era Orde Baru bermusuhan. Para era itu, Prabowo adalah Jenderal dan menantu Presiden Soeharto, dan Budiman dipenjara karena dianggap musuh negara. Budiman Sudjatmiko di era Orba bermusuhan dengan Prabowo.
Maka banyak yang memandang pertemuan itu aneh, karena pernyataan Budiman Sudjatmiko memuji-muji Prabowo sebagai pemimpin yang dicari untuk masa depan. Pro kontra muncul.
Salah satu pihak yang terlihat mendukung langkah Budiman Sudjatmiko adalah Profesor Henri Soebiakto, yang merupakan dosen Universitas Airlangga Surabaya, dan pernah menjadi pendukung Presiden Jokowi.
Dia menanggapi unggahan Budiman Sudjatmiko di Twitter. “Kita ingin Indonesia yang bersatu dan kuat di tengah guncangan-guncangan global ini,” tulis @budimandjatmiko.
Menanggapi itu, Prof Henri Subiakti menyebutkan, sejarah mencatat Budiman Sudjatmiko dan teman2nya adalah pendobrak kekuasaan Orde Baru. Budiman bahkan sampai dipenjara karena gerakannya yang mengganggu kokohnya rezim Soeharto.
“Budiman adalah anak muda yang memimpin PRD menentang otoritarian Orde Baru hingga dituding sebagai gerakan komunis. Sedang Prabowo saat itu adalah jenderal tentara andalan keluarga Cendana,” ujar Henri Subiakto dengan akun @henrysubiakto.
Baca juga: Piala Dunia U-17, Bima Sakti Akan Didampingi Pelatih Dari Jerman
Selanjutnya, Prof Henri mengatakan, Budiman Sudjatmiko dan Prabowo adalah dua tokoh simbol politik yang sangat berbeda secara historis dan peran sejarahnya.
Dua tokoh itu dipertemukan dalam suasana politik yang panas menjelang Pilpres di era kekuasaan presiden Jokowi yang memang berusaha menyatukan kekuatan politik yang awalnya berseberangan bisa bekerja sama untuk Indonesia ke depan.
Kalau sebelumnya Jokowi dan Prabowo yang rivalitas di dua kali Pilpres 2014 dan 2019 saja bisa bersatu bergandengan tangan, begitu pula mestinya Budiman Sujatmiko, tokoh PRD yang merupakan simbol perlawanan Orde Baru di masa Reformasi juga bisa akrab dan sejalan dengan Prabowo.
Baca juga: Kabar Gembira buat Penderita Diabetes, Ada Bunga Ajaib Namanya Bunga Telang Ungu
“Tentu aktivitas politik rekonsiliatif seperti ini masih banyak yang tidak setuju. Karena keduanya memang memiliki catatan sejarah yang sangat kontras, dan membawa gerbong konsekuensi simbolis yang cukup signifikan,” ujar Prof Henri Subiakto.
Tapi apa yang tidak bisa berubah dalam dinamika politik jika itu berdampak baik untuk Indonesia, dan menguntungkan bagi keduanya? Perlu perenungan dan kajian serta kesabaran untuk menyaksikan kejadian terkait apa yang mereka lakukan .
“Yang jelas dalam berpolitik tidak boleh baper, harus rasional dan mampu memahami serta membingkainya untuk kepentingan yang lebih besar yaitu kejayaan Indonesia. Indonesia memang berbeda dengan negara lain,” ujarnya.
“Indonesia memiliki magnit yang bisa menyatukan kekuatan kekuatan tokoh dan warga negaranya karena memiliki kecintaan bersama yaitu negara Indonesia berdasarkan Pancasila,” kata Prof Henri Subiakto lagi.
Menanggapi ulasan Prof Henri itu, Budiman Sudjatmiko mengucapkan terima kasih. Dia mengaku sejak umur 17 mengejar kebebasan demokrasi, kini saatnya fokus untuk konsolidasi dan kemajuan, siapa un harus diajak bicara.
“Terimakasih ulasannya, Prof. Sejak usia 17 tahun saya mengejar kebebasan demokrasi (awalnya lewat kelompok studi lantas kelompok aksi/organisasi). Saatnya fokus konsolidasi kebangsaan & kemajuan. Siapapun harus diajak bicara. Setelah dulu biasa berkelahi,” ujar dia. (*)
(Winoto Anung)
