Helo Indonesia

Ganjar Petugas Partai, Prabowo Ketua Umum Parpol, Mana yang Cocok untuk Indonesia yang Demokratis

Winoto Anung - Nasional -> Politik
Jumat, 18 Agustus 2023 18:33
    Bagikan  
Ganjar Pranowo, Prabowo
X / @saidiman

Ganjar Pranowo, Prabowo - Bakal capres Ganjar Pranowo dan Prabowo. Kolase foto. (Foto: X / @saidiman)

HELOINDONESIA.COM - Pendaftaran Pilpres 2024 sudah semakin dekat. Untuk sementara, ada tiga nama bakal capres yang akan didaftarkan ke KPU sebagai bakal kontestan.

Ketiganya adalah, secara urutan abjad, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Ketiganya sudah punya gambaran koalisi masing-masing. Pun sudah punya massa pendukung masing-masing.

Menariknya, pengamat dari SMRC, Saidiman Ahamad, hanya menyandingkan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, sepanjang ulasannya tidak menyebut nama Anies Baswedan.

Meski demikian, apa yang dipaparkan tetap menarik, dengana memperbincangan posisi kedua bakal capres di masing-masing partainya, yakni Ganjar Pranowo selaku kader PDIP dan Prabowo sebagai Ketua Umum Partai Gerindra.

Baca juga: Jokowi, Sukarno, dan Mega Endorse Ganjar Lewat 125.000 Stiker

Menurut Saidiman Ahmad, ada yang membandingkan antara Ganjar dan Prabowo. Ganjar dianggap hanya petugas partai. Di atasnya ada partai dan ketua umum partai. Karena itu, gerakannya terbatas. Setiap keputusan strategisnya harus dikonsultasikan dengan partai.

Sebaliknya, Prabowo adalah ketua umum parpol. Dia bukan petugas partai. Dia bahkan mungkin di atas partai. Keputusannya absolut. Siapa yang berani membantah?

"Jika Ganjar tunduk pada partai, sebaliknya pada Prabowo: partai yang tunduk padanya," ungkap Saidiman Ahmad.

Baca juga: Persebaya Kembali Unggul Melalui Tendangan Keras Song Ui-Young, Habisi PSM Makassar di Kandang Sendiri

Lalu yang mana di antara tipe pemimpin ini yang cocok untuk Indonesia yang demokratis? Seseorang yang duduk di kursi presiden memegang kekuasaan eksekutif yang sangat besar. Potensi untuk menjadi seorang diktator begitu tinggi.

Karena itu, dia membutuhkan kekuatan lain di luar dirinya yang dia hormati dan bisa mengingatkan jika dia keliru. Dia membutuhkan partai dengan ideologi yang akan menuntun setiap kebijakannya.

"Jika belum apa-apa sang tokoh sudah merasa atau diposisikan sebagai individu yang mengatasi semua, bagaimana nanti jika dia benar-benar ada di dalam kekuasaan? Siapa yang akan berani mengingatkan jika dia keliru? Apa landasan bagi setiap keputusannya?" ujarnya.  (**)