HELOINDONESIA.COM - Komentar keras muncul untuk menanggapi perkembangan demokrasi di Indonesia. Muncul sebutan bukan lagi masuk demokrasi liberal, kini setelah demokrasi liberal gagal diganti dengan demokrasi kriminal.
“Persisnya, demokrasi liberal gagal dan diganti dgn demokrasi kriminal,” tulis politisi Partai Demokrat Benny K Harman di twitter, Sabtu ini.
Menurut Benny, dalam demokrasi kriminal ada permainan hukum, yakni hukum di tangan penguasa yang bersekutu dengan oligarki alias pemilik modal.
“Dlm demokrasi kriminal, hukum di tangan penguasa yg bersekutu dgn pemilik modal (oligarki),” tambah Waketum Partai Demokrat itu.
Baca juga: Viral WNI Keheranan Naik Taxi Otonom di Amerika : Ga Ada Sopirnya, Bingung
Benny menyatakan itu untuk mengomentari unggahan ekonom Dr Rizal Ramli yang mengangkat pernyataan Surya Paloh tentang demokrasi liberal dan demokrasi kriminal tersebut.
Untuk kelanjutan pernyataannya, Benny K Harman mengatakan bahwa penguasa yang bersekutu dgn pemilik modal (oligarki). Mereka kemudian menggunakan hukum sebagai alat untuk memonopoli kekuasaan, kekuasaan politik dan ekonomi.
Disebutkan bahwa dalam demokrasi kriminal, pengadilan dikendalikan dan Pemilu hanya dijadikan alat legitimasi utk mengambilaih kekuasaan dari rakyat.
“Lalu atas nama rakyat perbesar kekuasaan dan berencana memegang kekuasaan seumur hidup,” tambahnya sembari mengajak Rizal Ramli untuk memimpin perubahan. “Bang Rizal Ramli harus terus berjuang, pimpin gerakan perubahan,” kata Benny.
Baca juga: Harga Tiket Argentina vs Timnas Indonesia Diumumkan Senin, PSSI: Gak Semahal Tiket Coldplay
Ada pun kutipan pernyataan Surya Paloh yang diunggah Rizal Ramli, bunyinya sebagai berikut ini. Surya Paloh: “Indonesia Masuk Demokrasi Super Liberal”.
Lantas Rizal Ramli mennambahkan komentar bahwa bukan liberal, kalau liberal itu ada hukum yang membatasi penyalahgunaan kekuasaan dan dana kampanye untuk menyogok dan kepentingan pribadi!
“Yang terjadi adalah “Demokrasi Kriminal” - penyalahgunaan kekuasaan dan dominasi politik uang ! Saking jago retorisnya, pake istilah pun ngawur,” tulis Rizal Ramli (@RamliRizal). (*)
(Winoto Anung)