LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Bagi sebagian orang, politik adalah soal strategi, kursi, dan kekuasaan. Namun bagi H. Ardito Wijaya, Bupati Lampung Tengah, politik juga bisa menjadi jalan sunyi yang menghubungkannya kembali dengan sang ayah yang sudah berpulang, H. Pairin.
Belakangan, Ardito membuat keputusan mengejutkan: ia meninggalkan kursinya sebagai Ketua DPC PKB Lampung Tengah dan memilih kembali ke Partai Golkar. Keputusan itu bukan semata-mata kalkulasi politik, melainkan hasil dari pengalaman batin yang begitu personal.
Baca juga: Ardito Wijaya Kembali ke Golkar H-2 Musda, Satrio Piningit Ketua Golkar Lampung?
“Dalam tidur, saya bertemu Bapak. Beliau menyuruh saya pulang ke rumah,” ucap Ardito dengan suara bergetar, usai salat Jumat di Masjid Istiqlal Bandarjaya, Jumat (12/9).
Bagi Ardito, “rumah” yang dimaksud ayahnya adalah Partai Golkar—partai yang selama puluhan tahun menjadi ladang perjuangan H. Pairin, tokoh karismatik dan panutan masyarakat Lampung.
“Bapak membesarkan Partai Golkar. Beliau tokoh Golkar. Jadi saya merasa harus mengikuti jejaknya,” katanya, tersenyum di balik rasa haru.
Jejak H. Pairin di Golkar
Nama H. Pairin begitu lekat dengan Partai Golkar. Ia pernah menjadi Ketua DPD Golkar Lampung Tengah, lalu melanjutkan kiprahnya hingga menjabat Bupati Lampung Tengah selama dua periode. Dedikasinya membuat Pairin dikenal luas sebagai sosok yang sederhana, dekat dengan rakyat, sekaligus teguh menjaga marwah partai berlambang pohon beringin itu.
Bahkan setelah menjadi Wali Kota Metro dan terus mengabdi untuk masyarakat, Pairin tetap membawa nilai-nilai yang ia tanamkan sejak di Golkar: kerja keras, kebersamaan, dan pengabdian. Nilai-nilai itulah yang kini, tanpa disadari, diwarisi oleh sang anak.
Bagi Ardito, kembalinya ia ke Golkar bukan hanya pilihan politik, melainkan juga cara untuk merawat warisan ayahnya. Sebuah perjalanan pulang yang penuh kenangan.
Baca juga: Ardito Wijaya Bersua Menteri Wihaji, Bidik Program Unggulan Kemendukbangga/BKKBN
Riak di PKB
Meski telah resmi bergabung dengan Golkar pada 29 Agustus 2025, Ardito menegaskan dirinya belum memegang jabatan apa pun. Ia hanya ingin kembali mengakar di rumah politik keluarganya.
Namun, kepindahannya sempat menimbulkan pertanyaan di tubuh PKB. Ketua DPW PKB Lampung, Chusnunia Chalim (Nunik), bahkan sempat mencoba menghubunginya untuk bertemu. Sayangnya, sebelum pertemuan itu terjadi, media lebih dulu memberitakan pengunduran dirinya.
“Sampai sekarang saya belum bertemu langsung dengan Bu Nunik. Tapi saya melihat kondisi PKB Lampung Tengah masih berjalan baik,” jelasnya.
Sahabat Lama yang Mengerti
Di internal PKB Lampung Tengah, keputusan Ardito dipahami dengan lapang dada. KH. Slamet Anwar, M.Pd., Dewan Syuro DPC PKB, menilai langkah itu wajar. “Pak Ardito sebelumnya memang kader Golkar. Jadi pulang ke partainya sendiri bukan hal yang aneh,” ucapnya.
Slamet juga menegaskan, jabatan bupati yang kini diemban Ardito sebenarnya bukan usungan PKB, melainkan PDI Perjuangan. Karena itu, kembalinya Ardito ke Golkar ia anggap sebagai perjalanan alami dalam menapaki karier politik.
“Saya berharap, dengan kembali ke Golkar, Pak Ardito bisa lebih matang dan sukses,” tambahnya.
Sebuah Perjalanan Hati
Kisah Ardito mengingatkan kita bahwa politik tak selalu tentang perebutan kursi dan hitung-hitungan elektoral. Ada sisi-sisi personal yang membuat seorang politisi mengambil keputusan besar.
Bagi Ardito, panggilan itu datang lewat mimpi—sebuah perjumpaan dengan ayahanda tercinta yang seakan mengajaknya pulang ke rumah. Dan rumah itu, baginya, bernama Partai Golkar, tempat jejak H. Pairin akan terus hidup dalam langkah sang anak.(Zen Sunarto)
-