LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -----Publik politik Tanah Air digegerkan manuver politik sejumlah elit menggadang narasi dan usulan berbau propaganda untuk akhiri era sistem pemilihan langsung kepala daerah. Demi mendengarnya, berikut disaripatikan enam kisah Pemilu unik di dunia.
Pertama, Pemilihan Paus Koptik, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria di Mesir, yang dilaksanakan secara sakral nan unik. Satu tradisi sejak berabad-abad lampau.
Usai tiga kandidat akhir hasil seleksi Sinode Suci Gereja Koptik terpilih, nama ketiganya lalu dituliskan di kertas, dimasukkan dalam piala suci di altar Katedral St. Markus, Kairo.
Berikutnya, seorang anak lelaki belia 5 tahun dengan mata tertutup diminta ambil satu kertas dari piala suci. Kandidat yang tertera namanya dan terambil si anak dinyatakan sebagai yang terpilih dan dianggap sebagai “pilihan Tuhan”, berdasar keyakinan bahwa tangan anak itu dibimbing kehendak Ilahi.
Kedua, pemilihan anggota Majelis Rakyat (Appella) di Yunani era Sparta Kuno, yang dihelat dengan teriakan dan tepuk tangan.
Para kandidat Apella akan dikomando untuk berjalan di depan massa rakyat pemilih, dan rakyat pemilih pendukung para kandidat ini lantas akan berteriak sekeras-kerasnya.
Bersamaan, di ruangan terpisah, para juri menilai kandidat mana yang layak terpilih berbasiskan volume teriakan, tepuk tangan bahkan sorai massa rakyat pemilih kandidat jagoannya. Lantas, para juri tentukan siapa kandidat peraih dukungan terbesar. Sistem pemilihan ini disebut merupakan bentuk awal partisipasi langsung rakyat di dalam pengambilan keputusan publik. Di dunia.
Ketiga, merupakan studi kasus pemodelan partisipasi politik rakyat yang tergolong anti meanstream; pemilihan anggota Dewan Kota Sao Paulo, Brasil, medio 1959 silam.
Syahdan, kala itu warga kota yang jengah atas maraknya malapraktik rasuah, korupsi politik, dan berbagai penyelewengan rezim salah satu kota utama negara Amerika Latin ini masa itu lantas melampiaskan amarah politiknya dengan aksi protes tak lazim.
Apa itu? Warga dengan kompak bin sengaja memilih seekor badak betina bernama "Cacareco" sebagai anggota Dewan Kota.
Ndilalahnya, itu Cacareco si badak cewek menang impresif. Ia meraih sekitar 100 ribu suara sah bahkan mengalahkan raihan suara sah semua kandidat manusia.
Diketahui, Brasil sejak 1988 menerapkan batas minimal usia pemilih, 16 tahun. Brasil era kini juga termasuk Australia, juga bagian dari yang berlakukan denda bagi pemilih yang golput. Di Aussy, denda 20-180 dollar sini. Alias dari Rp200 ribu sampai dua jeti.
Keempat, Pemilu di Gambia, di Afrika Barat, negara terkecil di Benua Afrika, yang seluruh perbatasan daratnya dikelilingi (menempel) Senegal, kecuali barat berbatas dengan Samudra Atlantik, muara aliran Sungai Gambia dari pedalaman negara berbentuk unik seperti pita panjang dan sempit ini.
Pemerintah Gambia yang sadar tingginya angka buta huruf rakyatnya, merancang sistem pemilu sederhana yang berlaku sejak 1965 sesaat merdeka (diperkenalkan oleh Inggris), pakai alat pilih unik yang mungkin menggelikan kita: kelereng!
Ya, setiap rakyat pemilih dapat satu buah kelereng untuk dimasukkan ke dalam drum logam tertutup bergambar kandidat pilihan, dengan masing-masing drum dicat dengan warna berbeda sesuai warna partai politik dan calonnya. Tiba penghitungan suara, petugas TPS hitung jumlah kelereng tiap drum dengan menuangkannya ke kotak penghitung berupa baki berlubang. Jumlah kelereng di tiap drum lalu dicatat langsung. Celah curang berkurang.
Kelima, Pemilu di Amerika Serikat, yang memuliakan jaminan penuh tersalurkannya hak pilih rakyatnya bahkan hingga para astronot yang tengah bertugas di luar angkasa.
Tercatat terjadi sejak tahun 1997, tatkala astronot David Wolf tercatat menjadi orang AS pertama yang berikan hak suara dari orbit luar angkasa melalui sistem elektronik yang dikembangkan bersama NASA.
Saat itu, per teknis, surat suara dikirimkan secara digital dari kota Texas ke Houston, lalu diteruskan ke stasiun luar angkasa Mir. Setelah diisi David hasilnya dikirim kembali ke Bumi. Senyum David pun mengangkasa.
Keenam, pamungkas, kisah tak kalah anti mainstream dari jagat Asia Tengah, Nepal. Kita sebut saja, Pemilu Discord. Ala genzi.
Discord, salah satu platform komunikasi digital biasa dipakai gamers? Betul sekali.
Dicatat dalam sejarah politik abad modern sebagai kejadian politik paling gempar lagi menarik —bahkan di Indonesia turut menjadi kebaruan kosa kata seturut populernya istilah "di-Nepal-kan"; Discord menjadi media perlawanan politik rakyat Nepal dimotori generasi Z (genzi) bahkan tak sedikit berlatar pemilih pemula (pelajar).
Warga menggunakan untuk lakukan voting pemilihan Perdana Menteri sementara usai pemberontakan sipil melalui aksi massa besar-besaran dan gila-gilaan lalu berhasil mutlak menggulingkan pemerintahan K.P. Sharma Oli, 4 September 2025 lewat.
Mayoritas dari ribuan pengguna muda yang berpartisipasi dalam pemungutan suara digital di Discord, memilih Sushila Karki, mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal.
Lalu hasil polling jadi dasar penunjukan Karki sebagai Perdana Menteri interim, sekaligus menjadikannya perempuan pertama Nepal yang mengampu jabatan tersebut.
Picu gerakan perlawanan rakyat dimotori genzi Nepal ini: kuciwa berat terhadap membuasnya malapraktik korupsi dan pembatasan media sosial. Lantas lewat server khusus bernama Hami Nepal, aktivis genzi Nepal berdiskusi daring dan akhirnya gelar pemungutan suara informal di Discord.
Pemilu digital ini amanatkan pemerintahan sementara dipimpin Sushila bertugas hingga Pemilu raya 5 Maret 2026, sedang Presiden Ram Chandra Poudel telah membubarkan parlemen sebagai bagian era transisi.
Fenomena politik Nepal ini memperlihatkan senyatanya bagaimana teknologi digital berkembang meledak dari ruang komunitas gim menjadi alat baru partisipasi politik "tangan terkepal" sekaligus ekspresi perlawanan antirezim korup ala genzi Nepal.
Itulah sedikit dari ilustrasi dinamis indahnya pemilihan langsung baik eksekutif legislatif, ilustrasi dinamis indahnya demokrasi langsung: dari, oleh, dan untuk rakyat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi.
Republik 81 tahun, Indonesia, catatkan sejarah Pemilu 1955: Pemilu langsung demokratis pertama pascakemerdekaan, Pemilu 1999: Pemilu langsung demokratis pertama pasca Orde Baru, Pemilu 2009: Pemilu demokratis pertama dengan hadirnya partai politik lokal (di Aceh), dan Pilkada 2005: Pilkada langsung pertama pascareformasi 98. Akankah Pilkada 2024 jadi yang terakhir?
Jerih payah berdarah-darah gerakan reformasi 1998 yang bebaskan republik ini dari cengkeram rezim diktator, salah satunya melahirkan ulang demokrasi multipartai, lantas salah satunya menghasilkan sistem pemilihan langsung sebagai satu-satunya model pemilihan pejabat publik paling ideal di negeri Zamrud Khatulistiwa ini, praktis, pascakediktatoran.
Saat kini nampak telanjang aksi sepihak elit lakukan pembajakan politik, sebagian suara kritis celotehkan, hanya yang alergi dengan Vox Populi Vox Dei: 'suara rakyat suara Tuhan' jualah, yang telinganya berdenging gatal tiap mendengar dinamis indahnya demokrasi langsung itu. (Muzzamil)