Politisi  Demokrat Minta Ampun ke Yenny Wahid Terkait Soal Cawapres Anies

Jumat, 11 Agustus 2023 19:01
Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid. (Foto: Instagram /@yennywahid) Instagram /@yennywahid

HELOINDONESIA.COM - Politisi Partai Demokrat Jansen Sitindaon minta ampun ke Yenny Wahid gegara dia menolak Putri Presiden Gus Dur untuk menjadi Cawapres Anies Baswedan.

“Hehe, Ampunn mbakk,” ungkap Jansen Sitindaon, Wasekjen Partai Demokrat, dalam judul tulisan yang diunggah di X (Twitter) Jumat 11 Agustus.

Untuk itu, dia membuat unggahan itu cukup panjang, layaknya satu artiket di media massa. Sampai ada netizen neyeletuk di kolom komentar dengan nada menyindir: “panjang banget penjelasannya. salah ya hahahaha,” tulis netizen Bro Win (@WinnerWave_).

Apa yang disampaikan Jansen tersebut, setelah dirinya membuat postingan yang isinya menolak Yenny Wahid jadi cawapres Anies. Unggahan itu kemudian dijawab (Quote) oleh Yenny Wahid yang menyatakan dirinya tidak menyodorkan diri menjadi Cawapres Anies. Dia hanya menanggapi lamaran. Yenny juga menyatakan mendukung AHY.

Baca juga: Pelatih Persebaya Butuh Pertolongan Bonekmania, untuk Menyemangati Skuadnya Menghadapi Persita Tangerang

“Saya gak pernah nyodorin diri jadi cawapres mas Anies lho.. saya cuma merespon lamaran yang datang. Justru saya mendukung mas AHY jadi cawapres Mas Anies..  Kalau situ belum apa2 udah menolak saya, pas bossmu butuh dukungan, saya emoh lho..,” tulis Yenny Wahid.

Atas jawaban inilah, Jansen Sitindaon (@jansen_jsp) membuat jawaban balik dengan judul Ampun mbakk tadi. Di bagian awal, Jansen menyatakan, 1) Kalau soal dukung mendukung siapa, karena perbedatan ini terkait politik dan pemilu besok, ya kembali pada sikap, keyakinan dan pilihan jenengan mbak.

Baca juga: Jokowi Diklaim Mulai Mematikan Langkah Prabowo untuk Dekati Gibran

:Sama dgn sikap saya, sepanjang koalisi ini namanya masih menyandang “perubahan” sesuai nama di piagam yg telah ditandatangani 3 partai — dan ini juga sama dan sejalan dgn hasil Rapimnas partai kami Partai Demokrat tahun 2022 yg menghasilkan keputusan tentang Perubahan dan Perbaikan sebagai agenda politik Demokrat di Pemilu 2024 — idealnya menurut saya kandidatnya ya bukan bagian rezim,” tulisnya.

“Biar kontras sekalian. Itulah sikap saya. Krn bagi saya itulah gunanya pemilu dan diharapkan terjadi di pemilu. Ada perbedaan jelas antar kandidat. Jika tidak, nama “perubahan” ini diubah saja. Krn nama/“merek” itu vital, jadi panduan bagi pemilih, jadi pembeda dalam kebijakan yg akan diambil kedepan,” lanjut Jansen.

Kemudian, 2) Karena ini soal sikap, keyakinan dan pilihan politik — bukan argumen soal opini atau kebijakan — sebenarnya tidak perlu ada yg diperbedatkan. “Saya juga sepenuhnya menghargai sikap yg jenengan ambil mbak, termasuk soal akan mendukung atau tidak mendukung siapa,” tuturnya.

Baca juga: Dorong Cawapres Anies Diumumkan, AHY : Ketidakpastian Membuat Orang Tidak Optimal

“Soal lain-lainnya saya kira sudah cukup gamblang saya jelaskan di tulisan itu. Itulah keyakinan dan sikap politikku mbak. Sama dgn sikap dan pilihan saya di pemilu 2019 lalu mendukung pak Prabowo/mas Sandi habis-habisan.

Menurut Jansen, walau kemudian hasilnya kalah dan dampaknya masih dia rasakan sampai sekarang,  khususnya di kampung, karena mayoritas di suku/di kampungnyaa pendukung berat pak Jokowi , buatnya tidak mengapa, itulah politik, pilihan berbeda pasti terjadi dengan segala konsekuensinya.

Sekarangm lanjutnya, Prabowo yang dia dukung dulu, sudah jadi bagian rezim dan pemerintahan. Jika koalisi perubahan ini terus lanjut dan maju sampai pendaftaran (tidak bubar ditengah jalan).

Baca juga: Waspada, Polusi Udara Tingkatkan Angka Kematian dan Kecacatan di Seluruh Dunia

“Maka pilihan politik saya berikutnya tentunya bersebrangan dgn beliau termasuk dgn banyak kawan2 saya yg lain yg dulu satu barisan. Namun namanya kawan ya tetap selamanya kawan, walau pilihan politik skrg berbeda dan nanti mungkin kami akan berdebat keras tentang banyak hal dibanyak tempat,” ujarnya.

“Terakhir, sehat terus mbak. Saya juga mendoakan dan mendukung jenengan semoga bisa ikut berkontestasi di Pilpres ini, khususnya mengisi posisi Cawapres yg masih kosong di beberapa koalisi yg telah terbentuk khususnya di blok lanjutkan,” ujarnya.

“Karena sebagaimana telah saya sampaikan juga dalam tulisan itu secara terang benderang, bagi saya, dgn segala atribusi yg melekat dalam diri jenengan, jenengan itu sangat lengkap. Sama lagi dgn Ketumku sama2 Alumni Harvard juga,” tandasnya.

“Maturnuwun, terimakasih atas percakapan di twitter ini mbak, termasuk utk semua teman2 yg ikut memberi comment baik yg pro ataupun kontra,: ujar Jansen Sitindaon, Wasekjen Partai Demokrat. (*)

Berita Terkini