Catatan Perjalanan : “Kopi Ijen, Warisan yang Terus Menghidupi”

Rabu, 2 September 2026 22:18
Catatan Perjalanan : “Kopi Ijen, Warisan yang Terus Menghidupi”

Andi Firmansyah
Pegiat Sosial, Kemanusiaan, dan Lingkungan

Bulan November tahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Kebun Kopi Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Hanya dua hari berada di kawasan itu, tetapi meninggalkan kesan yang panjang. Bukan sekadar melihat hamparan tanaman kopi, tetapi menemukan jejak sejarah, kehidupan pekerja, denyut ekonomi masyarakat, dan hubungan manusia dengan alam yang terpelihara di lereng Pegunungan Ijen.

Dari Jakarta, saya menempuh perjalanan menggunakan kereta api dengan rute tidak langsung, Jakarta–Surabaya, kemudian Surabaya–Bondowoso. Hampir 25 jam perjalanan. Kereta berangkat dari Jakarta pada malam hari dan tiba di Surabaya pada sore hari. Sambil menunggu perjalanan berikutnya, saya menyempatkan diri menikmati rawon setan yang legendaris di Kota Pahlawan.

Pukul 21.00 WIB, perjalanan dilanjutkan menuju Bondowoso. Sekitar pukul 04.00 WIB, kereta tiba di stasiun. Pak Samsul sudah menunggu untuk membawa kami menuju Kebun Kopi Ijen. Dua jam perjalanan darat menjadi awal dari perjalanan singkat selama dua hari untuk mengenal lebih dekat kawasan perkebunan yang menyimpan sejarah lebih dari satu abad itu.

Dari pusat Kota Bondowoso, suasana perlahan berubah. Udara terasa semakin sejuk. Hamparan kebun masyarakat mulai terlihat di sepanjang perjalanan. Jalan berkelok membelah perbukitan, menyerupai lorong panjang yang membawa kami semakin jauh dari keramaian kota. Sesekali kami melewati kawasan wisata lereng Ijen.

Saya sempat bertanya kepada Pak Samsul, “Ada jalan lain menuju Kebun Kopi Ijen, Pak?”
“Ini satu-satunya jalan, Mas,” jawabnya singkat.
Jawaban itu meneguhkan bahwa jalan tersebut bukan sekadar akses, tetapi pintu yang menghubungkan dunia luar dengan sebuah kawasan yang telah melewati perjalanan sejarah panjang.

Kami akhirnya tiba di Mess Jampit atau Jampit Guest House. Bangunan yang didirikan pada 1927 itu masih menyimpan kuat jejak masa lalu. Lantai kayu dan arsitektur klasik peninggalan Belanda menghadirkan suasana yang berbeda. Ada kesan bahwa bangunan tersebut bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan bagian dari sejarah perkebunan yang masih hidup hingga hari ini.

Di lereng Pegunungan Ijen, kopi bukan sekadar tanaman. Ia adalah sejarah, pengetahuan, pekerjaan, lingkungan, dan sumber penghidupan masyarakat.

Jejak perkebunan kopi Ijen bermula pada 1890-an ketika pengusaha Belanda Gerhard David Birnie membuka perkebunan Blawan, yang kala itu dikenal sebagai Mount Blau, untuk mengembangkan kopi Arabika. Perkembangan kawasan kemudian berlanjut melalui pembukaan perkebunan Kalisat/Jampit pada 1927.

Dari kawasan inilah kopi Ijen berkembang menjadi komoditas yang dikenal hingga pasar Eropa. Waktu berganti, pemerintahan berubah, dan perusahaan-perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi. Pengelolaan perkebunan kemudian beralih kepada negara dan menjadi bagian dari perjalanan panjang perkebunan negara hingga kini berada dalam ekosistem PT Perkebunan Nusantara I (Persero).

Sejarah itu terasa berbeda ketika dilihat langsung dari tengah perkebunan. Di atas kertas, sejarah mungkin hanya berupa tahun dan nama. Namun, di Ijen, sejarah hadir dalam bangunan tua, jalan perkebunan, tanaman kopi, dan kehidupan orang-orang yang setiap hari bekerja di dalamnya. Di sinilah makna perkebunan negara menjadi lebih luas dari sekadar angka produksi.


Ijen, Denyut Ekonomi Warga
Kebun Ijen bukan hanya tempat menanam dan memanen kopi. Ia merupakan ruang ekonomi yang mempertemukan pekerja, masyarakat sekitar, pelaku usaha, pengolah hasil, hingga mata rantai distribusi. Dari pemeliharaan tanaman, pemanenan, pengolahan hingga distribusi, perkebunan menciptakan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.

Ada pekerja yang menggantungkan pendapatan dari kebun. Ada keluarga yang kehidupannya tumbuh bersama musim kopi. Ada pula pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, keberadaan perkebunan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak kopi yang dihasilkan. Di balik setiap produksi terdapat nilai sosial yang jauh lebih Panjang, yakni kesempatan kerja, perputaran ekonomi masyarakat, serta pengetahuan yang terus dipelihara.

Dalam 48 jam menelusuri kawasan Ijen, saya semakin memahami bahwa kualitas kopi tidak lahir begitu saja. PTPN I melalui Kebun Ijen memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kopi Arabika. Pemeliharaan tanaman, pengaturan tanaman penaung, pemanenan hingga penanganan pascapanen merupakan rangkaian pengetahuan yang menentukan kualitas akhir kopi.

Kualitas kopi merupakan pertemuan antara varietas, tanah, ketinggian, iklim, ketekunan manusia, dan konsistensi dalam merawat tanaman. Alam menyediakan potensinya, tetapi manusia menentukan bagaimana potensi itu dikelola.

Biosite Bondowoso, Harmoni Negara dengan Rakyatnya

Kawasan yang dikenal sebagai Biosite Kopi Bondowoso mencakup perkebunan negara dan perkebunan rakyat di Kecamatan Ijen dan Sumberwringin. Kawasan Pegunungan Ijen-Raung menjadi salah satu sentra penting kopi Arabika Jawa Timur. Perkebunan ini berada pada ketinggian sekitar 1.100–1.550 meter di atas permukaan laut, dengan karakter tanah vulkanik yang kaya unsur hara. Udara pegunungan, iklim, ketinggian, dan praktik budidaya yang berlangsung lintas generasi membentuk karakter kopi yang khas.

Kopi Arabika dari kawasan ini dikenal memiliki keasaman yang menonjol, aroma intens, ukuran sedang, serta sentuhan rasa manis menyerupai cokelat. Karakter tersebut memperkuat identitas Java Coffee sebagai kopi spesialti yang memiliki daya saing di pasar internasional. Kopi Arabika Bondowoso juga telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis sebagai pengakuan atas kekhasan produk yang lahir dari wilayah tersebut.

Namun, kekuatan kopi Ijen tidak berhenti pada cita rasa. Di antara tanaman kopi terdapat berbagai tanaman penaung seperti suren, dadap, kayu manis, pinus, dan kayu putih. Vegetasi tersebut membantu menjaga suhu dan kelembapan kawasan sekaligus menjadi bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan berbagai jenis fauna, burung, dan serangga penyerbuk. Kebun kopi pada akhirnya bukan hanya ruang produksi. Ia adalah ruang ekologis yang hidup.

Karena itu, produktivitas dan keberlanjutan tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua kepentingan yang berseberangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Semakin baik ekosistem dijaga, semakin besar peluang perkebunan untuk bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Bagi PTPN I, Kebun Ijen karena itu merupakan aset dengan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis sekaligus. Perkebunan menghasilkan komoditas, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat, menjaga lingkungan, sekaligus memelihara pengetahuan yang telah berkembang selama lebih dari satu abad.

Tantangan Pengelola

Kopi Ijen memiliki ruang pengembangan yang masih luas. Penguatan kualitas produksi, hilirisasi, pengembangan wisata agro, edukasi kopi, penguatan merek, dan perluasan akses pasar dapat menjadi jalan untuk meningkatkan nilai tambah.

Hilirisasi membuat nilai kopi tidak berhenti ketika biji keluar dari kebun. Kopi dapat tumbuh menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus menjadi bagian dari pengalaman dan identitas kawasan.

Wisata agro juga dapat membuka cara baru untuk mengenalkan perkebunan. Orang tidak hanya datang menikmati udara sejuk dan pemandangan lereng Ijen, tetapi dapat memahami bagaimana kopi ditanam, dirawat, dipanen, diolah, hingga akhirnya hadir dalam secangkir minuman.

Sementara edukasi menjadi jembatan untuk memastikan pengetahuan perkebunan tidak terputus. Sebab, warisan terbaik dari sebuah perkebunan bukan hanya tanaman yang diwariskan, tetapi juga pengetahuan tentang bagaimana merawatnya.

Perjalanan ini singkat, tetapi cukup untuk menyadarkan bahwa sebuah perkebunan menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada apa yang tampak di permukaan.

Di sana ada manusia yang bekerja, keluarga yang menggantungkan kehidupan, masyarakat yang bergerak bersama roda ekonomi perkebunan, pengetahuan yang diwariskan, alam yang dijaga, dan sejarah yang terus berjalan.

Lebih dari seabad perjalanan kopi Ijen menunjukkan bahwa perkebunan negara dapat menjadi bagian penting dari denyut kehidupan sebuah kawasan. PTPN I melalui Kebun Ijen memiliki peran untuk memastikan denyut itu tetap hidup—menjaga produktivitas, membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat, merawat lingkungan, sekaligus menyebarluaskan pengetahuan budidaya kopi kepada generasi berikutnya.

Di lereng Ijen, sejarah tidak hanya tersimpan pada bangunan tua, lantai kayu, jalan perkebunan, atau hamparan tanaman kopi. Sejarah itu masih bekerja. Masih menghidupi. Dan masih memberi harapan.

Setiap biji kopi yang dipetik dari lereng Ijen membawa lebih dari sekadar cita rasa. Ia membawa cerita tentang alam, manusia, kerja keras, dan warisan panjang yang terus dijaga agar tetap bernilai bagi masa depan.

Mungkin itulah alasan perjalanan menuju Ijen terasa panjang, tetapi dua hari di dalamnya terasa terlalu singkat. Karena untuk memahami kopi Ijen, kita tidak cukup hanya mencicipi rasanya. Kita perlu melihat tanah tempat ia tumbuh, mengenal manusia yang merawatnya, dan mendengar sejarah yang ikut hidup di setiap butirnya.

Berita Terkini