SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Kawasan Argorejo di Kota Semarang yang dulu kondang sebagai lokalisasi Sunan Kuning kini seiring perjalanan waktu menjadi menjadi kampung dengan nilai-nilai religi dan budaya. Stigma negatif pun perlahan menyurut.
Potret tersebut bisa ditangkap melalui Tradisi Nyadran dan Kirab Budaya yang digelar di wilayah yang masuk Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, pada Minggu 20 Juli 2025 lalu.
Prosesi nyadran begitu semarak dengan kirab budaya, pengajian akbar, hingga pembagian santunan dan sembako. Ratusan warga dari RW 1 - RW 6 turut serta, lengkap dengan busana tradisional dan hasil bumi yang dipikul bersama, sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur.
Baca juga: Berlari di Banjaratma: Wisata Olahraga di Jateng Terus Menggeliat, Ekonomi pun Meningkat
Sekitar 500 warga membaur seraya mengarak Gunungan, seperti gunungan jajan, gunungan buah, dan gunungan hasil bumi. Warga juga memakai pakaian adat, dan tema 70an, ada juga yang membawa nasi bungkus.
Mereka melintasi jalan kampung sejauh 1,5 kilometer dari titik kumpul hingga ke area pemakaman tokoh agama, termasuk makam Soen An Ing atau yang dikenal Sunan Kuning yang jadi pusat ziarah.
Sesampainya di gapura Argorejo, nasi bungkus dikumpulkan. Kemudian dilakukan gembul bujana atau makan bersama di atas hamparan daun pisang.
Dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama, selanjutnya ada tradisi berebut gunungan. Tampak diantara warga, Camat Semarang Barat, Elly Asmara.
“Dulu memang dikenal sebagai kawasan lokalisasi. Tapi perlahan kami ingin ubah citranya. Sunan Kuning ini adalah tokoh penyebar Islam, dan kami ingin mengangkat sisi itu,” terang Elly Asmara, yang bersemangat dalam suasana ceria rebutan hasil bumi.
Menurutnya, tradisi nyadran di Kalibanteng Kulon ini berbeda. Jika umumnya digelar jelang Ramadan, nyadran di kawasan ini justru dilaksanakan pada bulan Suro, menjadi kekhasan tersendiri yang dijaga turun-temurun oleh warga.
Baca juga: Terima Bantuan Renovasi RTLH dari Pemkot Semarang, Mbah Muhammad: Matur Nuwun Bu Wali
Pemerintah pun tak tinggal diam. Dalam Musrenbang kecamatan, telah dialokasikan dana untuk kegiatan nonfisik, termasuk pelestarian budaya seperti nyadran ini.
Sempat Vakum
Bantuan juga datang dari berbagai instansi dan CSR perusahaan sekitar. PDAM misalnya, menyumbang 50 paket sembako, sementara 160 paket lainnya berasal dari perusahaan swasta. Santunan anak yatim senilai total Rp7,1 juta pun disalurkan kepada 71 anak.
“Kegiatan ini bukan hanya soal budaya, tapi juga penguatan identitas wilayah. Kita ingin Argorejo dikenal karena nilai religius dan kekayaan budayanya,” terang Herry Suryadi Timur, Ketua LPMK Kalibanteng Kulon didampingi Lurah Kalibanteng Kulon, Parjono.
Nyadran ini menjadi momentum kebangkitan tradisi setelah vakum lebih dari satu dekade. Terakhir kali digelar sekitar 10 tahun silam. Tahun ini menjadi kebangkitan, dan masyarakat pun menyambutnya dengan antusiasme tinggi.
“Kita mulai dari bersih-bersih makam Sunan Kuning, Sunan Ngepoh, dan Mbah Banteng Wareng. Ini bukan sekadar seremonial, tapi bentuk nyata dari nguri-uri budaya leluhur,” tambah Herry.
Tak hanya warga, Karang Taruna, Yayasan Soen An Ing, dan sejumlah tokoh masyarakat turut serta. RW 4 menjadi tuan rumah tahun ini, dan rencananya tahun depan giliran RW 2 dan RW 6 yang akan memimpin kegiatan. (Aji)
