Helo Indonesia

Begini Tradisi Kebugaran Kaum Bangsawan Kerajaan yang Bocor ke Rakyat Jelata

Jumat, 22 Agustus 2025 00:22
    Bagikan  
Manuskrip kerajaan
Foto: pexels

Manuskrip kerajaan - Banyak manuskrip-manuskrip kerajaan atau tulisan-tulisan kuno yang berasal dari Keraton Surakarta sejak tahun 1700an sebagai sumber budaya etnowellness Indonesia.

HELOINDONESIA.COM - Budaya kesehatan dan kebugaran sejatinya berasal dari kerajaan-kerajaan. Baik itu secara lisan maupun manuskrip kuno.

Munculnya kerajaan-kerajaan itu bermula dari adanya interaksi perdagangan yang berada di pinggiran-pinggiran sungai.

"Misalnya kerajaan Majapahit yang berada di pinggiran sungai Brantas atau Padjajaran di Sungai Citarum," papar Antropolog dari UI, Dr Jajang Gunawijaya seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (21/8/2025).

Dengan adanya kerajaan-kerajaan maka terbentuk sistem pemerintahan. Di sekitar kerajaan ada masyarakat perdagangan.

Baca juga: Banyak Janji Manis, Kasus OTT KPK Wamenaker Immanuel Ebenezer Tamparan Keras Rezim Prabowo-Gibran

"Maka ada jasa-jasa di sekitar perdagangan. Lalu ada organisasi yang memungut pajak dan peradaban pada masyarakat semacam itu tentu harus ada organisasi kekuasaan yang bisa menjaga irigasi, yang bisa menjaga perdagangan. Dengan adanya organisasi seperti itu, maka ada pajak," papar Jajang.

Dalam organisasi tersebut ada kelompok yang tidak bekerja dengan menggunakan fisik tapi dia menggunakan otak.

"Disebutnya mereka kaum santai. Di dalam organisasi tentu ada spesialisasi kerja dan dia hidup dari pajak," katanya.

Dari pajak-pajak itulah, lanjutnya, maka pemerintah itu berjalan.

"Bangsawan yang disebut kaum santai otaknya hanya jernih memikirkan bagaimana peradaban itu muncul. Karena itu mereka dibebaskan dari bekerja secara fisik. Maka kaum santai itulah yang yang bisa menciptakan sesuatu termasuk juga kesenian-kesenian, aturan-aturan juga arsitektur kerajaan," terang Jajang.

Baca juga: Harlah ke-20 UPZ MAJT, Berhasil Salurkan Rp 1,8 Miliar Zakat Produktif bagi 1.500 UMKM Binaan

Karena tumbuhnya dari situ maka muncul orang yang punya spesialisasi di bidang kebugaran.

"Contohnya kerajaan Sumedang di Jawa Barat ada tepa salira dan Pepereniann. Di Minangkabau juga ada ada orang Pagaruyung yang mengeluarkan sistem kebugaran yang disebut Batangeh. Oleh karena kerajaan itu memang betul episentrum dari peradaban masyarakat kerajaan," ungkap Jajang.

Apa yang dilakukan para bangsawan tentang wellness itu ditulis dan dipelajari oleh generasi-generasi berikutnya.

seperti Kerajaan Sumedang itu hanya orang yang belajar tentang kebugaran dia tidak belajar ketatanegaraan.

Baca juga: Harlah ke-20 UPZ MAJT, Berhasil Salurkan Rp 1,8 Miliar Zakat Produktif bagi 1.500 UMKM Binaan

Jadi sifatnya spesialisasi. Soal keprajuritan tentu lain lagi. Nah itu hanya ada di kerajaan untuk kepentingan kerajaan.

"Kebugaran itu hanya untuk kepentingan keluarga raja. Raja dan bangsawan harus sehat, bugar dan tampil beda dengan rakyatnya. Bahkan ada kepercayaan kalau raja itu titisan dewa. Ketika dinobatkan jadi raja, kalau dalam budaya Jawa dari titisan dewa mana,"

Namun tak dipungkiri kalau dari generasi ke generasi, keluarga raja itu punya tabib dan asisten semacam karyawannya.

Mereka itulah yang membantu para tabib. Tabib itulah yang suka mengobati masyarakat orang-orang kampung yang sakit.

Baca juga: Daun Kelor Segar dan Kering Berbeda Jumlah Nutrisinya, ini Penjelasan Akademisnya

Dari situlah menyebar ilmu peradaban dan bocor kepada masyarakat karena dia adalah rakyat biasa, rakyat jelata tidak belajar.

Tapi dia menyampaikan secara lisan. Dari mulut ke mulut menyebar sistem kebugaran.

Baik lisan atau manuskrip, sistem kebugaran itu memang asalnya dari kerajaan adalah episentrum budaya episentrum peradaban zaman sekarang.

Walaupun kita sudah menjadi Republik kerajaan-kerajaan itu masih ada ya dan masih eksis secara secara budaya.

Baca juga: Apel Tiga Pilar Pastikan Kondusivitas Wilayah di Kendal Terjaga

"Secara Budaya tentu saja kekayaan kekayaan peradaban Nusantara termasuk juga nilai-nilai budaya kesenian dipelihara di kerajaan sebagai benteng terakhir pertahanan budaya kita dari gempuran budaya asing," tandasnya.