Helo Indonesia

Memandang Sentuhan Seni Reproduksi Budaya Tionghoa di Lasem

Sabtu, 30 Agustus 2025 08:59
    Bagikan  
Memandang Sentuhan Seni Reproduksi Budaya Tionghoa di Lasem

Karya yang ditampilkan dalam pameran seni bertajuk Reproduksi di Museum Nyah Lasem

REMBANG, HELOINDONESIA.COM - Aura sejarah dan budaya begitu kental terasa ketika melangkahkan kaki ke Museum Nyah Lasem. Pameran seni rupa bertema "Reproduksi" yang digelar mulai Jumat 29 Agustus hingga 7 September 2025, bukan sekadar memajang karya seni, tapi juga menghidupkan kembali fragmen-fragmen budaya Tionghoa-Peranakan yang mulai memudar.

Salah satu objek yang menyita perhatian pengunjung adalah altar Dewa Dapur, simbol spiritual yang dahulu lazim menghiasi dapur rumah warga Tionghoa, kini nyaris tak ditemukan lagi.

Baca juga: Surakarta Loloskan Finalis Terbanyak di Pra-Porprov Tinju Jateng

Seniman Isni Rinjani mencoba menghadirkan kembali makna altar ini lewat riset mendalam. “Saya banyak berdiskusi dengan para juru masak, mempelajari tradisi rewang, lalu merekonstruksi ulang altar dan suasananya,” ungkap Isni.

Setiap ruangan dalam museum disulap menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Di ruang tengah, berdiri anggun sebilah keris dengan bilah warangka yang terinspirasi motif ukiran Klenteng Cu An Kiong, salah satu klenteng bersejarah di Lasem. Motifnya tak sekadar estetika, tapi juga menyiratkan upaya menyulam keterhubungan antar simbol budaya.

Karya Visual

Pameran ini juga menampilkan karya visual yang lahir dari imajinasi, seperti karya Sesil Mariyani. Ia menginterpretasikan kehadiran dewi samudra dalam berbagai fase usia, terinspirasi dari pengalamannya mengunjungi Klenteng Cu An Kiong.

”Ada juga yang sifatnya imajinasi visual. Saya membayangkan Klenteng Cu An Kiong sangat berkesan. Saya membayangkan dewi samudra dari berbagai umur, ada juga lukisan binatang mitos kilin, campuran naga dan macan, lungma binatang kuda dan naga, seperti unicorn , binatang motos juga di Cina ” katanya.

Baca juga: Rusuh di Kompleks Kantor Gubernur Jateng, Pendemo Bakar Kantin dan 3 Mobil

Agni Malagina, panitia pameran, sekaligus pembina Yayasan Lasem Heritage menyampaikan pameran seni rupa reproduksi ini merupakan bentuk sosialisasi pelestarian kawasan cagar budaya dan pemajuan kebudayaan. Pameran ini diikuti berbagai seniman dari Rembang, Yogyakarta, hingga Jakarta.
“Pameran ini bukan hanya soal seni, tapi juga soal pelestarian dan pengenalan kembali warisan budaya Lasem,” tutur Agni.

Tak hanya di Museum Nyah Lasem, pameran juga digelar di Museum Batik Tiga Negeri yang menampilkan reproduksi batik dari awal 1900-an. Sebagai tanda kesinambungan antara tekstil dan narasi budaya Lasem yang kaya. (Aji)