LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Nyaris ada yang luput dari belalak publik Lampung, di tengah warta merta tewasnya empat warga setempat dan satu warga Jakarta pernah kuliah di Lampung dalam insiden kebakaran gedung Terra Drone Jakarta Pusat, hingar kabar kasus rasuah dua kabupaten, bingar kesiapsiagaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi, serta gempita solidaritas kemanusiaan warga sini #prayforsumatra terhadap 3,3 juta jiwa warga tiga provinsi terdampak banjir longsor 21-26 Desember.
Yakni, salah satu kabar keren dari atlet voli putri ternama, Megawati Hangestri Pertiwi, bersama sejumlah atlet wanita kontingen Indonesia lainnya, pada momen meriah seremoni pembukaan pesta olah raga terbesar Asia Tenggara, SEA Games ke-33 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, pekan ini, Selasa (9/12/2025) malam lalu WIB.

Kendatipun, dalam seremoninya sempat diwarnai sejumlah insiden kurang patut, tak ayal turut bikin hati gemas muka cemberut yang menontonnya di layar gawai maupun layar kaca memagut, hajat dua tahunan ini.
Yang kali ini berlangsung di tiga kota utama Negeri Gajah Putih yakni Bangkok, Chonburi, dan Songkhla, hingga 20 Desember nanti.
Di luar —dengan tanpa mengurangi rasa hormat; faktor 'jam karet', pelaksanaannya sedikit tertunda menanti ketibaan Paduka Yang Mulia Raja Thailand, Vajiralongkorn, beserta Ratu Sineenat di area tribun utama, penasaran apa saja insiden momen lebih dari 2,5 jam itu? Yuk, kita runut.
Mulai dari, tertukarnya bendera Indonesia dengan Singapura di visual monitor raksasa stadion, yang detik-detik terjadinya tepat pada saat sesi penampilan kilas balik SEA Games dari masa ke masa.
Sialnya tiba giliran Indonesia diperkenalkan sebagai tuan rumah SEA Games 1997 silam, panitia penyelenggara SEA Games 2025 ini alih-alih menayangkan tampilan grafis visual bendera Indonesia, tapi justru yang muncul di layar justru tampilan bendera Singapura.
Meski belum diketahui persis sengaja atau tidak disengaja, usut punya usut, ternyata insiden tertukarnya bendera Indonesia di SEA Games kali ini bukan baru itu saja.
Saat panitia merilis jadwal pertandingan cabang olahraga (cabor) sepak bola putri sebelumnya, di dashboard tim Indonesia yang terpasang justru bendera Laos. Pun bendera negara yang timnya jadi lawan Indonesia yakni tuan rumah Thailand, jua tertukar dengan bendera Vietnam. Alamak!
Vietnam pun tak luput didera kejengkelan kuadrat. Kontingen dan publik negara ini juga dibuat terperangah lantaran saat sesi perkenalan kontingen, grafis visual monitor raksasa tak menampilkan gambar Kepulauan Hoang Sa dan Truong Sa, yang bagi Vietnam berarti sama saja menayangkan peta negara Vietnam secara tidak lengkap. Gubrak!
Takut lupa, Kepulauan Hoang Sa atau yang disebut juga Kepulauan Paracel, dan Truong Sa atau dikenal Kepulauan Spratly; gugusan pulau strategis di Laut Cina Selatan, kaya cadangan migas. Disengketakan ulah itu.
Vietnam misal, klaim kepemilikannya atas Hoang Sa berbasis peta dan bukti sejarah sejak dari Dinasti Nguyen sebagai penegas kedaulatan historis (jua atas Truong Sa), dan mengelola sebagian areanya sebagai distrik administratif. Tiongkok, Taiwan jua klaimnya.
Juga klaim kepemilikannya atas Truong Sa, di mana Vietnam menempati 25 fitur di sana, dikelola sebagai Distrik Truong Sa bagian Provinsi Khanh Hoa, simbol patriotisme dan penjagaan laut Vietnam. Selain Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Tiongkok, Taiwan; juga mengklaimnya.
Dan ada lagi insiden pembukaan SEA Games ini lainnya, terjadi pula kesalahan visualisasi grafis jumlah total medali yang diperebutkan di SEA Games ini. Tertampil di layar "547", padahal total diperebutkan 574 medali.
Sekalian tanggung, ke progres hari kedua, Rabu (10/12/2025) kendati turut disayangkan nun tetap menjadi keputusan berat yang wajib sepenuhnya dihormati, hajat SEA Games 2025 turut diwarnai kabar resmi mengejutkan dari kontingen Kamboja yang mengundurkan diri dari kepesertaan.
Padahal lelagi pengingat, Kamboja notabene tuan rumah SEA Games ke-32 pada 5-17 Mei 2023 silam. Di malam penutupan di Stadion Morodok Techo, Phnom Penh, 17 Mei 2023, Kamboja menyerahkan bendera SEA Games kepada tuan rumah SEA Games 2025 kini, Thailand, ditandai pengibaran bendera dan atraksi tarian tradisional Negeri Gajah Putih.
Di klasemen akhir, Indonesia peringkat ke-3 dengan 87 medali emas, 80 perak, dan 109 perunggu. Dibawah Myanmar sang jawara dan runner up Filipina.
Keputusan Negeri Seribu Pagoda menarik seluruh atlet kontingen menyusul penarikan 8 cabor sebelumnya, karena dalih keamanan pascaketegangan politik dan bahkan militer Kamboja-Thailand dipicu konflik perbatasan, kurun waktu terakhir. Termasuk, di wilayah sekitar kuil Preah Vihear yang masyhur itu.
Bukan cuma situasi iklim setempat yang lagi tidak baik-baik saja tergodam bencana hidrometeorologi ulah pemanasan global plus pancaroba: geger siklon tropis Senyar akhir-akhir ini, jagat Asia Tenggara juga lagi diruyak musim ketegangan kawasan. Sampai aromanya pun tercium di arena olah raga.
Kini resmi minus Kamboja, SEA Games 2025 memperlagakan 50 cabor medali, dan 4 cabor eksibisi yakni flying disc: disc golf dan ultimate, tug of war, air sport: paragliding dan paramotor, dan mixed martial arts.
Diikuti 13 ribuan atlet dari 10 negara, yakni tuan rumah Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Timor Leste, dan Vietnam.
Sejenak lupakan itu, kembali ke kabar keren dari atlet voli Megawati Hangestri Pertiwi, bersama sejumlah atlet wanita kontingen Indonesia lainnya, momen pembukaan SEA Games, Selasa lalu itu.
Kerennya di mana? Seperti tampak foto, terutama bagi warga masyarakat Lampung, selain keren itu juga istimewa.
Jika Laung Sukhumanaipradit tercatat dialah pencetus ide SEA Games saat momen Asian Games 1958 di Tokyo: ingin ada kompetisi olahraga lebih kecil lingkup Asia Tenggara, dan sukses terlaksana pertama kali dihelat dengan nama Southeast Asian Peninsular Games, di Thailand 1959 silam, diikuti 800 atlet 12 cabor asal Thailand, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Vietnam Selatan.
Akan halnya Megawati: hijabers asli Jember, Jawa Timur kelahiran 20 September 1999, atlet voli sejak 14 tahun, kini bertinggi badan 185 cm ini entah ide dari mana, memutuskan untuk sekompak itu bersama kompatriot atlet perempuan kontingen Indonesia lainnya mengenakan busana tradisional khas adat Lampung pada momen istimewa tersebut.
Pengingat, spesialis Opposite, salah satu atlet andalan Timnas Indonesia bernomor kostum 3 ini, sebelumnya telah membela RI di Asian Games 2017, andalan hingga kini.
Selain, nomor kostum 8 identiknyi saat bela klub profesional: 7 klub Tanah Air, 4 manca. Di mana Megawati tercatat pernah bermain sebagai pemain muda —tonggak mula karir profesionalnyi: dalam skuad Surabaya Bank Jatim pada Livoli Divisi Utama 2015–2019, plus Jakarta Pertamina Fastron Energi pada Proliga 2015–2017 serta 2022.
Sempat bela Jakarta BNI 46 di 2018–2019, Mega kali pertama bermain untuk klub asing Supreme Chonburi-E.Tech di Liga Thailand 2020–2021, pascausainya Proliga 2022 bela Ha Phu Thanh Hoa di Liga Vietnam 2022 dan sempat bela Bandung BJB Tandamata, wakil Indonesia pada ASEAN Grand Prix 2022.
Kian bersinar, usai bela Jakarta Pertamina Fastron 2022–2023, di pertengahan 2023 ia masuk pilihan draf pemain Asia, dikontrak Daejeon CheongKwanJang Red Sparks liga voli wanita V-League Korea Selatan musim 2023–2025. Mega sukses antar klub tembus playoff pertama dalam tujuh tahun, tempati posisi ketiga puncak musim.
Balik ke Indonesia main untuk Jakarta BIN di Proliga 2024, ia sukses persembahkan dua gelar sekaligus: juara pertama klub, juara pertama karirnyi. Seselesainya kontrak 2025 dengan Red Sparks lanjut bela klub Turkiye, Manisa Buyuksehir Belediyespor 2025 ini, sebelum memutuskan pulkam Tanah Air kini bela klub Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia.
Pengampu Opposite Terbaik ASEAN Grand Prix 2022 dan AVC Women's Challenge Cup 2023, Pemain Terbaik Putaran 1 V-League Korea Selatan 2023–2024 dan Proliga 2024, Pemain Terbaik Putaran 3 dan 4 V-League Korsel 2024–2025 itu lantas jadi idol, bukan cuma andal. Idola baru anak muda Tanah Air. Segala tindak tanduk, perkataannya, viral.
Pun, sebagaimana mengagetkannya tadi, tetiba saja layar gawai pemirsa Indonesia pada pembukaan SEA Games Thailand itu, dikilau kemilau pantulan keemasan khas warna sakral Siger Lampung, siger mini penutup kepala yang tetap tampak serasi dipakai kendati Megawati notabene hijabers.
Lewat Instagram, Megawati mengunggah sejumlah foto dan video pendek momen ia mengenakan mahkota Siger Lampung di kepala, selendang Tapis Lampung ia lilitkan menutupi kostum ofisial kontingen dari area pundak dan bahu kanan miring menjuntai ke bawah, serta sarung motif Tapis Lampung.
Sarjana Manajemen Universitas Kahuripan Kediri (2020) ini menjadi satu dari total 1.021 atlet RI dari 49 cabor pertandingan diikuti, di SEA Games ini. Lebih sedikit dari rencana semula, 1.548 atlet, tulis situs resmi SEA Games 2025, pekan keempat Juni lalu.
Demi mengulasnya, terhubung via pesan elektronik pada Kamis (11/12/2025) malam, perancang busana top asal Lampung, Aan Ibrahim, saat dimintai pendapatnya terkait kostum pembukaan Megawati Hangestri Pertiwi itu mengatakan, kendati busana dikenakan kurang lengkap, namun secara pakem "ke-Lampung-an" sudah sesuai.
"Menurut hemat saya, (busana dikenakan Megawati dan sejumlah rekan atlit, red), pakaian dari adat (Lampung) Pepadun. Pakaiannya hanya kurang lengkap saja," ujar komentar Aan Ibrahim, pukul 21.03 WIB.
Adakah ia, semata dikarenakan atau demi keleluasaan gerak tubuh lantaran harus menyesuaikan dengan situasi momennya, lain sisi kesan awam misal melihat busana dikenakan tampak kurang "greng"?
"Gak. Sekilas kalau melihat kain dan selendangnya, kain Tapis. Mahkotanya Siger tapi mini. Ini pasti dadakan nyiapkannya," komentar Aan seraya berpraduga.
Ditanya apakah ada yang janggal dari busana dikenakan, atau kurang sesuai pakem, Aan Ibrahim menilai ada yang janggal kalau mengacu pada pakaian Muli (gadis dalam bahasa Lampung).
"Tapi sekilas itu sudah pakaian Lampung karena ada Tapis-nya," pungkas peniti karir desainer sejak era 80an dibawah tentangan keluarga dan tetangga yang balik dukung dia kala mulai dia berpameran era 90an, Direktur CV Aan Ibrahim Brothers, pemilik Aan Ibrahim Gallery, Jl Thabrani Daud (dulu Perintis Kemerdekaan) Nomor 5 Kotabaru, Tanjungkarang Timur, Bandarlampung ini.
Portofolio Aan Ibrahim: Doktor Kehormatan Bidang Seni Budaya dari Chicago University, Anugerah Seni Budaya Asian Entertainment 1995, Pengusaha Kecil Terbaik 1995–2000 dari Dinas Perindustrian Provinsi Lampung; Penghargaan Siddhakarya 1997 dari Dinas Tenaga Kerja Lampung; jua ASEAN Program Consultant dan Indonesian Executive Award (1997), dan Pengusaha Menengah Terbaik 2001–2004 dari Disperindag Lampung.
Dia raih berkat ulet gigih mengembangkan, beri sentuhan fesyenista modernis sekaligus mempromosikan wastra Tapis dan Sulam Usus khas Lampung, pun berikut latih didik berdayakan ribuan kaum perempuan perajin sulam usus latar kaum tak berpunya asal kabupaten/kota se-Lampung.
Menyitat reportase 11 tahun lewat, sang juru catat, jurnalis senior Oyos Saroso HN, 2014 silam abadikan kesan, Aan Ibrahim termasuk bagian dari yang Oyos sebut hanya sedikit perancang busana yang melakukan dua peran sekaligus: menggali kekayaan seni etnik sekaligus melakukan pemberdayaan masyarakat lokal untuk mengembangkan perekonomian lewat kerajinan bernuansa etnis.
Dalam dunia mode di Indonesia (setidaknya hingga kurun saat itu), "dari yang sedikit itu Aan Ibrahim termasuk satu di antaranya."
Jika di Jawa terutama Jateng, DIY dan Jatim mengenal baik Iwan Tirta sebagai perancang yang buat batik Jawa go international, maka di Bumi Lampung masyarakat luas mengenal berikut keuletannya: Aan Ibrahim sebagai perancang nan berjasa besar mengangkat kain Tapis dan sulam usus Lampung, lantas menduniakannya, hingga kelak kini dikenal luas di level nasional dan internasional.
Kiwari, atlit Megawati Hangestri Pertiwi dkk pun turut pula serupa menduniakannya.
Dan demi publik pembaca semakin kinclong tercerahkan sekaligus tertanam bangga, terhubung centang biru 1 jam 10 menit kemudian, budayawan Lampung, Anshori Djausal, senada dihubungi via pesan singkat Kamis malam, turut impresif mendetailkan busana dikenakan Mega dan kawan-kawan.
Anshori Djausal menerangkan, busana yang dikenakan Megawati dkk merupakan busana tradisional khas adat Lampung yakni kain wastra Tapis Lampung motif "cucuk andak".
"Tapis Lampung motif cucuk andak, dengan menempatkan kain kapal yang penuh. (Ini) memang bukan motif yang klasik, tetapi modifikasi yang menggabungkan dua kekuatan wastra Lampung motif 'sasab', 'pucuk rebung' dan 'kain kapal' yang menonjolkan mitologi orang Lampung," terang Anshori, warsa 21.58 WIB.
Namun, budayawan cum purnabakti dosen Teknik Sipil Unila, pakar ferrosemen, dan perancang desain Menara Siger Bakauheni, Lampung Selatan ini menilai tiada yang janggal dalam pengenaan busananya.
"Apa yang janggal? Kan bukan acara 'Begawi'. Siger yang dipakai bukan Siger pengantin. Hanya aksesori, seperti yang sering dipakai anak-anak menari. Tidak persis seperti Siger pengantin. Praktis saja untuk seremoni seperti ini," sergah dia.
Terlepas dari itu, sadar Megawati Hangestri Pertiwi dkk tanpa sadar telah turut berjasa gratis menduniakan Tapis, Anshori Djausal tak lupa mengapresiasinya. "Terima kasih buat Megawati yang telah mengingatkan kita indahnya wastra Lampung. Sekaligus mempromosikan," ujar Anshori takzim.
Pamungkas pengingat, Menteri Kebudayaan Fadli Zon disela anjangkarya ke Lampung 21 November lalu, antara lain menyatakan akan memperjuangkan usulan Tapis Lampung sebagai bagian dari warisan kebudayaan Nusantara, untuk mendapatkan pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) UNESCO.
Menyusul, penetapan pemerintah terhadap Tapis Lampung yang resmi diakui sebagai bagian dari 33 Warisan Budaya Takbenda Indonesia lainnya, November 2018 silam.
Teranyar, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) jua resmi menyerahkan sertifikat penetapan Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk kebaya, kolintang, dan reog pada acara di Museum Nasional Jakarta 2 Desember 2025, hingga kini terdapat 16 warisan kebudayaan Nusantara resmi sandang status tersebut.
Gaung menggaung enggan meredup, hingga momen mengagetkan membanggakan oleh Megawati dkk di Thailand pada 9 Desember 2025 ini seakan turut mengabadikan gaung, menduniakan wastra Tapis Lampung.
Terima kasih, Megawati dkk. (Muzzamil)
-