Helo Indonesia

Manjau Muli, Sepenggal Kenangan Cara PDKT Bujang-Gadis Lampung Tempo Dulu

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Sabtu, 27 Desember 2025 10:20
    Bagikan  
MANJAU MULI
HELO LAMPUNG

MANJAU MULI - Manjau keluarga besar ayah mertua kami, Pangeran Kesuma Ningrat (Tiyuh Kuto Bumei, Marga Unyi) pada begawe (Alm) Prof. Dr. Sitanala Arsyad (Tiyuh Negara Bumei Ilir, Marga Buai Nyerupa).

Oleh Prof. Admi Syarif, PhD gelar Rajo Mergo

CERITA cinta masa remaja (bujang-gadis) memang selalu saja menarik untuk dikenang. Pada muli mekhanai (bujang–gadis) Lampung generasi 1970-an dan sebelumnya, dikenal istilah manjau muli atau nganjang gadis. Manjau bukan sekadar aktivitas bertamu, melainkan bagian dari budaya dan adat istiadat yang mengatur tata cara pergaulan dan proses memadu rasa muda-mudi atau istilah kekiniannya PDKT (pendekatan). 

Pertama kali saya mendengar istilah ini ketika berusia sekitar sepuluh tahun, di Tiyuh Gunungkatun, Kabupaten Tulangbawang Udik. Saat itu, salah satu keluarga kami akan melaksanakan acara adat perkawinan cakak pepadun di tiyuh leluhur.

Soal pacar—atau kahagou dalam Bahasa Lampung—sama sekali belum terpikirkan. Usia masih terlalu muda. Yang jelas, pulang kampung selalu menjadi momen yang dinanti. Kami berangkat dari Tanjungkarang sekitar pukul empat pagi, memulai perjalanan darat menuju Gunungkatun dengan rute Bandarlampung – Gunungsugih – Bandarjaya – Menggala – Panaragan – Gunungkatun. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih delapan jam.

Saat itu, sebagian besar jalan masih berupa tanah. Lebih “sempurna” lagi karena kami berangkat di musim penghujan. Perpaduan jalan tanah dan air hujan benar-benar menguji kesabaran. Beruntung, mobil yang kami tumpangi dilengkapi derek yang bisa diikatkan ke pohon. Tak jarang kami harus turun dan berjalan kaki melewati medan berlumpur—tempat yang bahkan gajah pun sepertinya enggan melintasinya.

Secara adat, masyarakat Lampung terbagi ke dalam dua kelompok besar: Pepadun dan Saibatin. Dari akulturasi keduanya, lahirlah identitas Lampung dengan motto Sai Bumi Ruwa Jurai. Tata nilai budaya Lampung tercermin kuat dalam falsafah hidupnya: pi’il pesenggiri (harkat dan martabat), juluk adek (identitas), nemui nyimah (sopan santun dan keramahan), nengah nyappur (bergaul), serta sakai sambayan (tolong-menolong). Falsafah yang, hingga kini, tetap relevan dan layak diteladani.

Sesampainya di Tiyuh rasa lelah langsung terbayar. Kami bertemu kerabat dan keluarga besar, bercengkerama melepas rindu sambil menikmati berbagai hidangan khas. Salah satunya setelo pajak (ubi rebus), oleh-oleh yang kami beli di Bandarjaya. Keluarga memang berkumpul lengkap, mengingat acara cakak pepadun ini merupakan hajatan adik laki-laki ibu.

Malam pun tiba. Kami menyantap makan malam dengan menu seruit. Saat itu, ikan sangat mudah didapat di tiyuh. Lalapnya tentu tak ketinggalan umbuk—rotan muda kesukaan saya—dengan delan (terasi) khas Menggala.

Usai makan malam, kakak sepupu saya mengajak saya ikut manjau muli. Inilah pengalaman pertama saya manjau. Biasanya, bujang mendatangi rumah gadis dari arah bawah—maklum, rumah dikampung umumnya adalah rumah panggung—melalui bagian belakang. Dari bawah rumah, bujang memberi isyarat dengan menyalakan korek api. Cahaya kecil itu menjadi tanda kepada si gadis bahwa ada bujang yang ingin nganjang.

Dalam suasana gelap, tak jarang kami tersandung balok atau lumpur di bawah rumah—pengalaman yang kini hanya bisa dikenang sambil tersenyum. Namun semua itu terbayar saat akhirnya terdengar suara sang pujaan hati. Percakapan bujang dan gadis biasanya dilakukan dari balik dinding, melalui celah-celah kayu. Jika keluarga gadis berkenan, bujang dapat dipersilakan naik ke serambi untuk berbincang lebih leluasa.

Ada kenangan lain yang tak kalah menarik. Pada masa itu, seorang gadis bisa saja memiliki empat atau lima pakar/kahagou, dan semuanya datang manjau pada waktu yang bersamaan. Hebatnya, tak pernah terdengar keributan. Gadis Lampung pandai menjaga suasana dan meladeni semuanya dengan bijak. Ngobrol bersama membuat tak terasa larut pun tiba, kami memohon izin untuk pulang, tentu saja dengan hati yang riang.

Berbeda dengan zaman sekarang, di mana kebanyakan gadis hanya memiliki satu pacar, enggan mendua, dan seolah sudah memastikan masa depan dengan satu pilihan.

Sebagai tanda keseriusan, bujang yang manjau kerap membawa buah tangan. Bahkan pada momen tertentu, ada pula yang membawa bahan makanan lengkap yang dikenal dengan istilah bekehadeu. Sikap hormat terhadap keluarga gadis sangat dijunjung tinggi. Ketika ada anggota keluarga yang melintas, bujang biasanya memilih diam, menunduk, dan tak berani menyapa.

Sebenarnya, masih banyak kisah menarik seputar manjau muli, ngiser punyeu, nyeruit banget, hingga rangkaian acara cakak pepadun lainnya. Namun biarlah kisah-kisah ini menjadi sepenggal kenangan indah dari bumi Lampung yang kelak saya bisa bagikan.

Teruslah berbuat baik untuk Lampung yang lebih baik. Nantikan tulisan berikutnya. Tabiiik puuun-