SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Fajar baru saja menyingsing di langit Dusun Juwono, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Manakala sebagian besar sudut kota masih terlelap dalam dinginnya sisa malam, denyut kehidupan di wilayah RT 1, 2, dan 3 yang berada di bawah naungan RW 3 justru mulai terasa.
Hari itu, Sabtu (28/3/2026), kesibukan yang tak biasa tengah merayap di sela-sela gang sempit pemukiman padat penduduk tersebut. Warga di lingkungan tersebut tengah mempersiapkan tradisi turun temurun yatu Bodo Ketupat.
Baca juga: Gus Yasin Dorong Mahasiswa Bawa Arab Pegon ke Panggung Diplomasi Dunia
Langkah-langkah kaki terdengar bergegas menuju satu titik: Mushala Baitussalam. Tua, muda, besar, hingga kecil tumpah ruah tanpa sekat pembatas status sosial. Di tangan mereka, terdekap erat wadah-wadah berisi aneka hidangan khas Lebaran. Harum aroma gurih opor ayam beradu dengan wangi janur ketupat, legitnya jajanan pasar, dan segarnya buah-buahan yang dibawa sebagai buah tangan kebersamaan.
Masyarakat Dusun Juwono tengah merayakan Bodo Ketupat 1447 Hijriah, sebuah tradisi yang digelar tepat satu minggu setelah gema takbir Idul Fitri 1 Syawal berlalu.
Dusun Juwono memang memiliki beberapa tradisi unik yang tetap dilestarikan hingga era postmodern saat ini, salah satunya perayaan bodo ketupat.
Lantunan Puji-pujian
Tidak seperti perayaan bodo ketupat masyarakat di pantai Utara Jawa, yang diisi dengan beragam atraksi dan ritual di pantai, maka warga Dusun Juwono merayakannya dengan warna keagamaan. Lantunan puji-pujian asrokol Maulid Nabi yang lebih dikenal dengan syair ya nabi salam 'alaika dilantunkan oleh ibu-ibu dan pengurus takmir, mengawali perayaan bodo ketupat.
Ketua Takmir Mushala Baitussalam, Ustad Abdul Kholil Kasturi dalam sambutannya mengatakan, perayaan bodo ketupat merupakan tradisi masyarakat Dusun Juwono yang turun temurun dan dilestarikan hingga saat ini. Tradisi itu tidak bertentangan dengan syariat, justru menguatkan nilai-nilai keimanan.
''Warga yang belum sempat ujung-ujung ke tetangga, berkesempatan bertemu, warga yang ingin menambah shodaqoh dapat membawa makanan ke lokasi untuk dinikmati bersama. Sehingga makna Idul Fitri kembali ke fitrah lebih terasa,'' ujar Kasturi.
Sementara ustadz Saiful Amar, yang berkesempatan menyampaikan mauidhoh hasanah halal bihalal bodo ketupat, menekankan urgensi silaturahmi dalam konteks hubungan antar manusia dalam bermasyarakat.
Silaturahmi, ujarnya, merupakan bentuk hubungan antar manusia (hablum minannas), yang sangat dianjurkan sebagai wujud sunnah rasul Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam.
Baca juga: Luthfia Zahra Delfi, Mahasiswi FEB Raih Juara 1 Pilmapres Unila 2024, Siap Melaju ke Tingkat Wilayah
''Silaturahmi, memiliki manfaat besar, baik secara spiritual maupun sosial-kesehatan. Dalam Islam silaturahmi dapat melapangkan rezeki, memperpanjang umur, menghapus dosa, dan mendekatkan diri ke surga. Secara psikologis, silaturahmi mengurangi stres, meningkatkan imun tubuh, memperkuat tali persaudaraan, dan mencegah pikun (demensia),'' ungkapnya.
Perayaan bodo ketupat, diakhiri dengan doa untuk keselamatan dan keberkahan yang dipimpin tokok masyarakat ustad Djoko Sengoro serta bersalam-salaman saling memaafkan dan makan bersama.
Meski Dusun Juwono merupakan area permukiman padat yang berada di tengah kota dekat dengan Jl. Raya Elang, Rumah Sakit Wongso Negoro, Kampus Universitas Muhammadiyah Semarang dan Universitas Karya Husada, namun nuansa bermasyarakat ala pedesaan masih lekat. (Aji)
