Pakai Bungur, Iyay Mirza Diserahkan Pepadun ke Saibatin Masuk Mahan Agung

Jumat, 7 Maret 2025 10:43
Iyay Mirza Jokowi dan Bungur Tanjungbintang (Foto Kolase Helo) HELO. LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Saat prosesi adat Ngantak Gubernur Buka Belangan Iyay Mirza dan isteri masuk Rumdis Mahan Agung, ada asesoris batu bungur tanjung bintang di depan penutup kepala kikat tapis yang dikenakan gubernur Lampung itu pada Rabu sore (5/3/2025).

Batu bernama latin amethyst quartz ikonik asal Tanjungbintang, Kabupaten Lampung Selatan itu serupa dengan yang dipakai Presiden Jokowi saat memimpin HUT ke-76 RI di Istana Merdeka, Jakarta, pada tahun 2021.

Yang menyiapkan juga orang yang sama, Budayawan Ir. Anshori Djausal, MT, paman Iyay Mirza. Pilihannya bungur tanjung bintang, salah satu batu pertama terindah di Indonesia yang memiliki kekerasan 7 skala Moch.

Tak hanya urusan batu membantu, prosesi itu juga mengingatkan soal adab dan nilai-nilai filosofis tradisi lokal. Bagaimana Iyay Mirza yang berasal dari Pepadun Sungkay Bunga Mayang dan isteri, Purnama Wulan Sari, diantar kerabat adat bersama wakil marga Lampung Pepadun ke tempat barunya Mahan Agung.

Masyarakat adat Sungkai Bunga Mayang menyerahkan Iyay Mirza kepada masyarakat adat yang memiliki wilayah tempat tinggal barunya yang diwakili masyarakat adat Lampung Saibatin dari Marga Balak Telukbetung, Marga Lunik dan Bumiwaras.

Setelah diterima di pintu pagar dengan upacara potong appeng (kain penghalang), Iyay Mirza, istri, orangtua serta keluarga menuju pintu rumah untuk buka belangan. Dengan membawa lampu, beras, kendi berisi air serta kunci untuk buka pintu. Semua barang bawaan itu punya simbol sendiri sendiri. 

Dengan senang hati, masyarakat adat Lampung Saibatin menerima Iyay Mirza dari Lampung Pepadun. Sebagai ungkapan rasa senang dan komitmen saling menjaga, masyarakat adat Lampung Saibatin memberikan pusaka dan pakaian adatnya.

"Kita harus bangga memiliki kekayaan tradisi yang mengajarkan adat terhadap lingkungan sosial," kata Anshori Djausal. Dengan nilai-nilai budaya tersebut akan terpelihara masyarakat yang hidup damai, ujar Bang An, panggilan Anshori Djausal.

Gubernur Mirza dan Wulan Sari diiringi arak-arakan adat membuka pintu rumah. Wujud rasa senang, Iyay Mirza melakukan Tarian Ngigel bersama jajaran Forkopimda Provinsi Lampung.

Tradisi ini memiliki makna filosofis mendalam sebagai simbol kebersamaan, keterbukaan, dan gotong royong dalam membangun daerah

Tradisi Ngantak sendiri merupakan tradisi turun temurun di Lampung sebagai simbol keterbukaan tuan rumah dalam menerima tamu. "Tradisi ini simbol eratnya persaudaraan, kebersamaan, serta komitmen dalam membangun daerah dan bangsa," ujar Iyay Mirza.

"Ngantak" yang berarti membuka pintu, dimaknai Gubernur sebagai simbol keterbukaan Pemerintah Provinsi Lampung dalam menerima aspirasi masyarakat. "Pintu ini kita buka, bukan hanya secara fisik, tetapi juga simbol keterbukaan dalam berpikir, bertindak, dan berinovasi," tegasnya.

Iyay Mirza mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mempererat persaudaraan, memperkuat komitmen, dan meningkatkan semangat kerja bersama demi mewujudkan Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045.

"Dalam perjalanan pembangunan Lampung, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita membutuhkan sinergi, kolaborasi, dan gotong royong dari semua elemen masyarakat," tambahnya

Acara ini turut dihadiri Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Forkopimda , Kepala OPD, Pimpinan Instansi Vertikal, tokoh adat, tokoh agama, hingga perwakilan organisasi masyarakat, dan tamu undangan lainnya. (HBM)



Berita Terkini