Nabi Sastra Lampung Meriahkan Pembukaan Festival Teater Pelajar

Jumat, 18 April 2025 11:26
Edy Samudera Kertagama baca puisi pada pembukaan Festival Teater Pelajar se-Lampung (Foto Kolase Helo) HELOINDONESIA

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Sastrawan Edy Samudera Kertagama akan memeriahkan pembukaan Festival Teater Pelajar se- Provinsi Lampung di Taman Budaya Lampung, Jumat (18/4/2025), pukul 14.30 WIB.

"Nabi Sastra Lampung", julukannya, akan membacakan puisi karyanya berjudul " Semalam di Tanjungkarang: Elly Dharmawanti. Selain pembacaan puisi, acara dibuka dengan Tari Sigeh Pengunten.

Puisi ini berkisah tentang Tanjungkarang dengan terjadinya meletusnya Gunung Krakatau. "Aku menulisnya untu kenangan bersama sastrawati nasional Elly Dharmawanti saat berkunjung ke Tanjungkarang," ujarnya.

Rencana, kata Edy Samudera Kertagama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Thomas Amirico, S.STP, MH yang akan membuka festival yang digelar hingga Minggu (20/4/2025).

Ketua Komunitas Kata Kita Taufik Hidayatullah berharap kegiatan festival teater pelajar ini dapat membangun kembali gairah seni teater di kalangan pelajar juga menggali minat untuk mempelajari teater sebagai studi,

Festival akan dihadiri tidak kurang dari 250 penonton serta undangan dari berbagai kalangan baik seniman, guru, siswa-siswi SMA-SMK se Provinsi Lampung.

Grup-grup yang akan tampil dalam Festival Teater Pelajar 2025 ini yaitu
1. SMAN 7 Bandarlampung.
2. SMAN 4 Bandarlampung.
3. SMAN 1 Perintis Bandarlampung
4. SMKN 4 Bandarlampung.
5. SMAN 16 Bandarlampung.


SEMALAM DI TANJUNGKARANG
Karya Edy Samudra Kertagama

Semalam di Tanjung Karang mengenang Lampung Karam. Ombak berpantun, dengan membawa segala ikhwal setelah usai melewati peperangan, di antara burung-burung bebas berterbangan, kemudian diam untuk pertama kalinya selama bertahun tidur tanpa mimpi.

Apakah, ada yang menemukan ensiklopedianya, untuk di baca ulang, jika Tanjung Karang, tak henti-hentinya meraung pada malam-malam berkabut, di saat semua sedang menikmati cahaya bulan di pesisir pantai yang sepi.

Laut yang tenang, di puncak gunung tinggi, di bawah bayangan palatine yang usang, tak ada janji untuk pergi, apalagi menggenggam tangan  untuk gemuruh yang datang, sebab para pelaut, sampai kapan pun tak tahu lagi warna laut dan pasir pantai, karena rahimnya telah di bawa pergi menuju hamparan terbuka, meskipun bagi Tanjung Karang begitu asing saat itu.

Untuk Tanjung Karang, pada perjalanan kecil, dari pesisir, kucoba melewati malam sambil melintasi perkampungan sunyi, meskipun setiap langkah, harus di halau angin dan hujan.

Ini hanya sebagian kecil yang kuingat, saat di Tanjung Karang, sebab, aku menunggu siapa yang mau mengatakan "jika Tanjung Karang adalah Bapak nya dan seribu pantun adalah jalan pulang untuk sampai ke nenek moyang yang hilang begitu saja.

Tanjungkarang, 2023. (HBM)

Berita Terkini