HELOINDONESIA.COM - Antara masalah makanan yang dikonsumsi masyarakat adat Sunda dan tradisi kebugaran saling berkaitan.
Sebab kebugaran otomatis pengaruhnya sangat besar. Karena ini kaitannya dengan suplai asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh.
Secara medis, nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ini yang akan menggantikan berbagai sel-sel yang sudah rusak.
"Sehingga ini perlu ada pembaharuan. Dan di sini lah makanan juga berpengaruh pada kesehatan dan kebugaran masyarakat Sunda," papar Dosen Tetap di Politeknik Pariwisata Bandung, Dr Riadi Darwis.
Baca juga: Di Penyeberangan Bakauheni-Merak, Nyawa Penumpang Tak Ada Harganya
Dr Riadi menjelaskan bahwa pola konsumsi dalam masyarakat Sunda dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hidupnya itu dipengaruhi oleh 6 faktor.
"Ada 6 faktor yang menentukan pola konsumsi masyarakat tradisi Sunda dalam memenuhi asupan nutrisi dan gizinya," paparnya.
Pertama, dipengaruhi oleh faktor pribadi. Faktor pribadi ini dipengaruhi oleh kebiasaan.
Misalnya dengan tradisi yang dijalankan oleh yang bersangkutan. Dia bisa saja menjalankan puasa ataupun sahur dalam tatanan masyarakat muslim," ujarnya.
Baca juga: TK Bangun 01 Getas, Tunas Tumbuh dari PTPN I Regional 3
Kedua gaya hidup. Gaya hidup ini berkaitan dengan cara dia memandang kehidupan, memandang makanan dan minuman dalam keseharian.
"Itu juga sangat dipengaruhi oleh pola pikir yang ada di dalam diri manusia Sunda," katanya.
Ketiga, pola konsumsi makanan tersebut juga sangat dipengaruhi oleh adanya strata sosial.
"Misalnya masyarakat adat Sunda yang tinggal di wilayah pedesaan, perkotaan kemudian ada kalangan sosial. Kalangan sosial ini terdiri dari menengah, kalangan sosial atas, rakyat biasa, bangsawan maupun para penguasa," jelasnya.
Baca juga: Air Mata Eva Jatuh, Ada Lansia Tinggal Sendiri di Gubuk
Kemudian, sambung Dr Riadi, di sisi aspek agama ataupun kepercayaan ataupun ajaran juga sangat besar pengaruhnya.
Keempat, pola konsumsi pangan pun ini sangat dipengaruhi oleh faktor musim.
"Kita tahu bahwa kita mengenal musim kemarau, musim penghujan, musim tanam maupun pertanian. Dan itu juga sangat mempengaruhi terhadap ketersediaan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat," jelasnya.
Kelima, dipengaruhi oleh faktor tempat. Masyarakat yang tinggal di dataran tinggi tentu akan berbeda dengan masyarakat yang menghuni dataran rendah.
Baca juga: Percepat Program Gubernur, Thomas Amirico Gelar Pembinaan Kepala Sekolah SMA/SMK Wilayah II
"Karena mungkin ada beberapa hal. Misalnya ada ketersediaan bahan-bahan pangan yang ada di tebing. Ada mata air, kebun, bukit, sawah, ladang, cekungan, danau dan sebagainya.Nah itu juga merupakan lahan-lahan tempat ketersediaan bahan pangan yang disediakan alam untuk kita selaku manusia Sunda," paparnya.
Keenam, terkait dengan masalah waktu. Kapan masyarakat Sunda mengonsumsi pangannya ada tradisinya.
"Kalau di masyarakat modern kita mengenal ada istilahnya makan pagi ada makan siang, makan malam dan sebagainya. Tentu ini berbeda dengan tradisi masyarakat Sunda," tandasnya.