LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----
Kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Pangalengan perlahan tersingkap oleh semburat fajar, menyingkap hamparan hijau yang pagi itu tak sekadar menjadi ladang produksi. Di bawah langit Jawa Barat yang jernih, PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyulap aset legendarisnya menjadi lintasan atletik kelas dunia melalui gelaran Pangalengan Cross Country, Minggu, 12 April 2026.
Ajang ini bukan sekadar perlombaan lari biasa. Ia adalah pernyataan sikap PTPN I dalam memperkuat posisi aset perkebunan nasional sebagai episentrum baru sport tourism di Indonesia—sebuah perpaduan antara ketangguhan fisik dan diplomasi lingkungan.
Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, tampak hadir langsung di tengah keriuhan para pelari. Baginya, inisiatif ini adalah langkah strategis untuk mengoptimalisasi aset negara agar memiliki nilai manfaat ganda. Teddy menegaskan, perkebunan kini tak boleh lagi dipandang sebagai area produksi yang eksklusif dan tertutup.
"Pangalengan Cross Country adalah wujud nyata transformasi PTPN I. Kami tidak hanya mengelola komoditas, tetapi juga mengelola ekosistem," ujar Teddy dengan nada optimis di sela-sela acara.
Menurut Teddy, melalui sport tourism, PTPN I membuka pintu bagi publik untuk merasakan langsung kemegahan alam Nusantara, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan pelestarian lingkungan.
"Setiap langkah pelari di jalur ini adalah dukungan nyata bagi keberlanjutan hijau yang kami usung melalui prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance)," tambahnya.
Misi lingkungan dalam ajang ini jauh dari kesan sloganistik belaka. Sebelum bendera start dikibarkan pada pukul 07.00 WIB, suasana khidmat menyelimuti prosesi penyerahan bibit pohon secara simbolis kepada para peserta. Pesannya terang: siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah Pangalengan memikul tanggung jawab moral untuk menjaga kelestariannya.
Bibit-bibit ini nantinya akan ditanam di titik-titik kritis area perkebunan sebagai bagian dari program penghijauan berkelanjutan.
Daya tarik medan Pangalengan memang tak terbantahkan. Sarah, seorang talen pelari yang turut menaklukkan jalur teknis di sela rimbunnya pohon teh, mengaku terkesan dengan kemurnian udara dan estetika rute yang disuguhkan.
"Ini bukan sekadar lari. Berlari di ketinggian dengan asupan oksigen semurni ini memberikan energi luar biasa. Jalurnya menantang, namun rasa lelah sirna oleh pemandangan perbukitan yang estetis," tutur Sarah di garis finis. Ia juga mengapresiasi keterlibatan pelari dalam aksi penanaman pohon. "Kami merasa tidak hanya menjadi tamu, tapi bagian dari penjaga alam di sini."
Dampak dari perhelatan ini merambat hingga ke urat nadi ekonomi lokal. Race Village yang berdenyut hingga siang hari bertransformasi menjadi pasar bagi produk-produk UMKM sekitar—mulai dari teh khas Pangalengan hingga kerajinan tangan warga desa.
Sinergi ini menciptakan multiplier effect yang nyata. Perputaran ekonomi tidak berhenti di podium juara, melainkan mengalir langsung ke kantong-kantong pengrajin dan pedagang lokal.
Menutup rangkaian acara, PTPN I berharap Pangalengan Cross Country dapat menjadi barometer baru bagi penyelenggaraan acara serupa di berbagai wilayah perkebunan lain di Indonesia. Dengan komitmen pada prinsip keberlanjutan, PTPN I memosisikan diri sebagai aktor utama dalam memajukan pariwisata berbasis olahraga yang tak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menjaga warisan alam untuk generasi masa depan.( rls / )