Serangan Israel di Beirut Presisi, Strateginya Diungkap Pakar Militer dari Yordania

Minggu, 22 September 2024 10:22
Bom yang presisi Istimewa

HELOINDONESIA.COM -Serangan Israel di Ibu Kota Beirut, Lebanon, menewaskan 37 orang termasuk dua pemimpin Hizbullah pada Sabtu (21/9/2024).

Kedua pemimpin itu adalah komandan unit operasi elite, yakni
- Ibrahim Aqil selaku kepala Pasukan Radwan, Pasukan Radwan adalah pemimpin operasi darat Hizbullah. dan
- Komandan senior Ahmed Mahmud Wahbi, pemimpin operasi terhadap Israel sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023.

Serangan ini dinilai sukses dan presisi karena bisa mengetahui persi waktu, tempat para komandan militer berkumpul, bahkan mengetahui kekuatan bom yang dibutuhkan untuk menghancurkan gedung secara selektif.

Baca juga: Mantan Agen Mossad Buka Rahasia Soal Bom Pager di Lebanon, Mengerikan

Bagaima cara Israel bekerja dengan presisi.

Abu Zaid mengindikasikan bahwa serangan Israel menggunakan cara non-konvensional dalam serangan ke Beirut kali ini.

"Kita sedang menghadapi bentuk baru operasi militer Israel yang digambarkan sebagai operasi non-konvensional," katanya dilansir Khaberni, Sabtu (21/9/2024).

Menurut Abu Zaid, cara non-konvensional yang dimaksud adalah Israel mengandalkan kerja intelijen dan teknologi militer. "Tampaknya pasukan pendudukan Israel bekerja secara bertahap," jelasnya.

Baca juga: Kisah Pembebasan Pilot Susi Air Setelah 18 Bulan Disandera KKB

Dia menjabarkan bahwa pada setiap tahap, militer Israel akan mengevaluasi respons Hizbullah dan tingkat efisiensi tempurnya. "Operasi tahap selanjutnya tergantung hasil tahap sebelumnya," tambahnya.

Abu Zaid mengonfirmasi bahwa ada yang lebih mencolok dari penetrasi intelijen Israel ini, yakni menyasar gedung tempat pimpinan Unit Radwan berada di lantai dua bawah tanah, dimana saat 20 komandan pasukan Hizbullah berkumpul di lantai 2 bawah tanah di gedung yang menjadi target serangan.

Baca juga: Anak Nikita Mirzani Bantah Kalau Tespek 2 Garis itu Pasti Hamil, Ada 6 Kemungkinan

Menurut Zaid itu membuktikan ada inspeksi dan pengintaian selama beberapa waktu, hingga data data yang dimiliki sangat lengkap. "Sehingga intelijen Israel mengetahui cara yang paling tepat untuk mencapai lantai bawah tanah kedua," katanya.

Operasi intelijen pra-serangan yang dilakukan oleh pihak Israel berisiko sangat tinggi sekaligus menunjukkan ketelitian. "Meteka mengetahui bahwa garasi parkir adalah titik terlemah di mana rudal pesawat dapat mencapai tempat pertemuan, dan pemeriksaan di sini lebih berbahaya daripada pelanggaran keamanan," jelasnya.

Abu Zaid menambahkan bahwa militer Israel juga berupaya tidak memberikan ruang bagi Hizbullah untuk mengatur ulang barisannya setelah serangan ledakan massal pager dan perangkat komunikasi secara menyeluruh di Lebanon.

"Garis komando Hizbullah bersifat vertikal dan tengah fokus di tingkat atas. Israel memulai serangan dengan menargetkan bagian bawah piramida organisasi partai dengan menyerang anggota partai yang memiliki perangkat pager dan kemudian pindah ke tingkat atas dari mereka yang memiliki perangkat keynote."

Serangan ke tingkat atas yang dimaksud adalah penargetan pada hari Jumat kemarin yang menyasar para pemimpin Unit Radwan, salah satu unit Hizbullah yang paling penting dan rahasia.**

Berita Terkini