PURWOREJO, HELOINDONESIA.COM - Desa Wisata Somongari di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo bak serpihan surga yang jatuh ke bumi. Berada di pegunungan Menoreh, desa wisata ini menawarkan sejuta keindahan alam dan budaya yang memukau. Ada Curug Silangit yang eksotik, perkebunan manggis dan durian, dan kemeriahan Festival Jolenan peninggalan nenek moyang.
Pesona Somongari makin lengkap dengan keberadaan Memorial House Wage Rudolf (WR) Soepratman, yang akan membawa wisatawan menyusuri jejak sejarah seorang komponis, pencipta lagu Indonesia Raya, sekaligus pahlawan nasional itu.
Baca juga: Puncak HSN 2024 di Kendal Dimeriahkan Lomba Tumpeng dan Upacara
Punya sejumlah aset daya pikat wisata ini menjadikan Somongari menjadi salah satu wisata unggulan Purworejo, Jawa Tengah pada umumnya. Desa wisata tersebut pun pernah menyabet penghargaan Apresiasi Pokdarwis 2023 dan Juara Umum Gelar Desa Wisata Kabupaten Purworejo pada tahun 2016, 2019, 2021 dan 2022.
Tahun 2022 lalu, Somongari meraih urutan kelima dalam Gelar Desa Wisata Jawa Tengah.

Ketua Pokdarwis WR Soepratman Hary Yudistira mengungkapkan, Somongari sesungguhnya anugerah terindah dari Tuhan yang turun ke Purworejo. Dari sisi topografi, wilayah ini punya pegunungan Menoreh yang memanjakan mata. Secara geografis wilayah ini juga dekat dengan Yogyakarta sehingga ada sentuhan akulturasi budaya.
''Dari segi warisan budaya, kami beruntung memiliki Jolenan, sebuah prosesi sedekah bumi yang menghadirkan ragam atraksi seni dan kearifan lokal. Kekayaan alam, tradisi , seni budaya, sejarah inilah yang menjadi spirit kami memajukembangkan Somongari,'' ujar Hary kepada Heloindonesia.com, Selasa 22 Oktober 2024.
Baca juga: Oktober Hari Telur Sedunia: Peran Indonesia dan Potensi Ekspor Ke Singapura dan Timor Leste
Dia menjabarkan, potensi wisata alam Somongari yang terkenal yaitu Curug Silangit.Air terjun yang tinggi dengan debit air yang deras, menawarkan kesegaran dan keindahan alam yang alami. Orkestrasi alam sangat terasa saat mengunjungi Silangit.
Curug Silangit berasal dari Dusun Sijanur dengan aliran air yang jernih dan bersih. Keindahan curug setinggi 30-an meter ini adalah air menyebar ke penjuru tebing. Saking indahnya, curug ini mencuri perhatian turis dari berbagai belahan dunia.
''Ada wisatawan Prancis, Inggris, dan Pakistan yang traveling hingga ke curug. Kami bersyukur, sampai kini tiap hari ada 50-an mobil yang masuk ke wisata kami. Jika satu diisi empat orang artinya ada 200-an. Tempat kami juga menjadi jujugan para siswa dari berbagai kota di Jateng,'' tambahnya.

Memorial House WR Soepratman menjadi magnet desa wisata Somongari. Seperti dikutip dari wisatadesasomongari, jalan menuju sang violis, wisatawan perlu melewati anak tangga sebanyak 105. Jalanan tersebut dibangun tahun 2007.
Posisi rumah WR Soepratman sampai sekarang masih sama seperti dulu, yaitu menghadap ke Selatan. Pernah direnovasi pada 5 Oktober 2007, dan tepat di bagian kanan halaman rumah terdapat gazebo dan penimbunan plasenta sang pahlawan. Kini rumah ini masih terawat baik, rumah induk berisi ruang tamu, sentong (kamar) dan pawon (dapur), dilengkapi dengan informasi sejarah WR Soepratman.
''Ketika berada di dalam rumah ini, entah kenapa para pengunjung seperti bergetar atau bahkan menitikkan air mata. Ada suasana magis karena di sini kita akan belajar tentang kebhinekaan, kepahlawananan, dan cinta Tanah Air. Kepada siswa, kami kenalkan bahwa kita punya Mbah Buyut yang punya nama besar,'' katanya.
Kearifan Lokal
Salah satu kearifan lokal di desa Somongari adalah tradisi Jolenan atau sering disebut gunungan yang berisi hasil bumi termasuk manggis dan durian pada Selasa Wage di bulan Sapar. Festival ini juga dikenal sebagai Saparan.
Tradisi ini sebagai bentuk upaya melestarikan budaya dan simbol rasa syukur warga kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Desa Somongari terdiri atas lima dusun yakni Tileng, Krajan, Sawahan, Sijanur, dan Dukuhrejo.
Kirab jolen dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, diarak mulai dari makam leluhur Desa Somongari Kedono-Kedini sampai batas desa dengan jarak kurang lebih enam kilometer. Jolen akan menjadi rebutan warga, dan diyakini akan menjadi keberkahan.
Hary menjelaskan, Somongari juga menyajikan wisata edukasi yaitu membuat olahan gula aren, atau menikmati kesegaran buah manggis dan ranumnya durian, langsung dari kebunnya.

Karena Somongari lebih banyak dikunjungi pelajar, kata dia, inovasi yang terus dilakukan adalah aktivitas yang mengajak untuk mencintai bangsa dan leluhurnya. Pihaknya juga melakukan kreativitas baru yang menjadi faktor pembeda dengan desa wisata lainnya.
''Misalnya kita membuat kreasi dari ikat kepala dari janur bagi tamu-tamu yang datang. Ini akan menjad kekhasan saat berwisata ke Somongari,'' imbuhnya.
Dia pun berbagi tips berkunjung ke Somongari, yaitu pada musim manggis atau durian untuk menikmati buah-buahan segar. Selain itu, bawalah pakaian yang nyaman, topi, sunscreen, dan kamera untuk mengabadikan momen. Pengunjung tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar. (Aji)
