Helo Indonesia

Eksplor Geopark Kebumen, Nikmati Kopi Biji Mangrove dan Belajar Budidaya Kepiting

Minggu, 8 Desember 2024 09:44
    Bagikan  
Eksplor Geopark Kebumen, Nikmati Kopi Biji Mangrove dan Belajar Budidaya Kepiting

Peserta Rakornas Geopark saat disuguhi kopi mangrove. Ketua KTH Pansel Kambang Tri Hadi saat menjelaskan proses budidaya kepiting. Pengunjung ketika berada di konservasi penyu di Pantai Kembar Terpadu.

KEBUMEN, HELOINDONESIA.COM - Daya tarik kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Komite Nasional Geopark Indonesia (Rakornas KNGI) di Kebumen, Jawa Tengah, 6-7 Desember 2024 lalu, adalah ketika peserta berkesempatan mengeksplor berbagai situs di Geopark Kebumen.

Geopark Kebumen kini menjadi pusat perhatian dunia, setelah tahun 2024 mendapatkan pengakuan dari UNESCO Global Geopark. Keunggulan geopark ini yaitu menyimpan potensi geologi beragam, mulai pantai hingga pegunungan serta situs paleontologi berusia jutaan tahun.

Baca juga: Rakornas Komite Nasional Geopark Indonesia di Kebumen Hasilkan Sejumlah Rekomendasi, Apa Saja?

Berkendara bus, pada Jumat pagi 6 Desember, peserta diajak mengekspor hutan mangrove di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Hutan Mangove Muara Ijo, Desa Ayah, Kecamatan Ayah yang rimbun. Sembari berjalan jembatan kayu yang panjang, pengunjung akan terpesona olah lebatnya mangrove. Di tengah jalan, ada gazebo yang diperuntukkan wisatawan untuk belajar menggambar ecoprint.

Salah satu sisi menarik di KEE adalah kehadiran gerai kopi dari biji mangrove. Basri, peserta yang mewakili Geopark Natuna terlihat menikmati seruputan kopi panas yang tersaji di sana.

Menurut Basri, dia baru kali pertama ini menjajal kopi biji mangrove. Dan ternyata, rasanya khas, berbeda dengan kopi yang biasa dinikmatinya.

"Kopi ini secara umum, rasanya enak. Kalau kopi kan ada yang asam, ada yang pahit. Ini di tengah-tengah," katanya.

Selain kopi, Basri juga mencicipi sejumlah kudapan berbahan mangrove. Dia juga melihat budidaya kepiting, yang hasilnya dapat menambah perekonomian masyarakat.

kepiting

Kambang Tri Hadi, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Pansela di KEE Hutan Mangrove Muara Ijo menjelaskan, melakukan budidaya kepiting sejak lama. Dia mengatakan, bibit dari kepiting tersebut diambilkan dari sekitar hutan mangrove. Jadi tak perlu keluar untuk mencari bibit kepiting.

Baca juga: Meriah, Pentas Wayang Kulit dan Tumpengan di Merti Dusun Manggung Kendal

Budidaya kepiting di sini menggunakan boks bekas kue coklat yang ditaruh di kolam mangrove. Saat ini KTH Pansela memiliki 1.500 boks.

"Budidaya kepiting mulai ukuran 1 ons minimal hingga 2 ons bisa sampai bisa sampai dua bulan. Sedangkan ukuran 2 ons sampai 3 ons bisa sampai tiga bulan. Yang setengah kilo bisa sampai empat bulan. Kami menyuplai ke pasar ikan,'' kata Kambang.

Pihaknya menjual kepiting per kg yaitu Rp 120 ribu di hari biasa, dan Rp 150 ribu per kg saat hari libur seperti Natal dan tahun baru atau hari besar lainnya

Perwakilan panitia Rakornas KNGI Dwi Aryoga Gautama, membeberkan, kunjungan lapangan itu untuk melihat potensi geopark dan tempat wisata.di Kebumen. Di hutan mangrove Muara Kali Ijo, peserta bisa mengetahui konservasi mangrove sebagai ekosistem laut terdepan dalam menangani isu karbon, industri perikanan, serta menyuplai perikanan di wilayah Kali Ijo.


Konservasi Penyu

Sementara, di tempat konservasi penyu di Pantai Kembar Terpadu, peserta juga bisa mengetahui jika geopark juga berperan menjaga dan menghayati spesies laut seperti penyu.

"Kami dari mitra pemerintah, dari proyek solusi, kita akan membantu tata kelola terintegrasi, darat dan laut, bagaimana dari pesisir ke pantai, itu saling terintegrasi dalam pengelolaan biodiversity-nya (keanekaragaman hayati)," terangnya.

penyu

Relawan konservasi penyu di Pantai Kembar Terpadu, Zahra Asyifa mengatakan, penanganan konservasi penyu bukan tanpa kendala. Sebab, memang masih ada pemuda di wilayahnya yang belum peduli dengan konservasi penyu.

"Secara bertahap, di sini ada pembelajaran. Di pembelajaran itu kita terangkan bagaimana konservasi penyu," terangnya.

Sementara itu, relawan konservasi lainnya, Hartono mengenalkan satu persatu jenis penyu yang dikembangbiakkan di sini. Misalnya penyu hijau yang kini berusia tiga tahun dua bulan. Meskipun usianya tiga tahun, penyu tergolong masih bayi.

''Untuk bisa bertelur, penyu hijau biasanya pada usia 30 tahun. Dia baru menetas pada 29 September 2021. Karena masih bayi, penyu jangan sering disentuh karena bisa mengganggu pertumbuhan dan kesehatannya,'' katanya. (Aji)