Wisata Arung Jeram Sungai di Bali Menarik, Tapi Ada Turis Asing Tewas

Senin, 10 Juli 2023 17:12
Lima wisatawan tewas dalam kecelakaan arung jeram di Bali sejak 2021 (Foto: Nigel Mason) Aljazeera

HELOINDONESIA.COM - Wisata arung Jeram sungai di Bali sebenarnya menarik minat wisatawan asing. Namun, mengkhawatirkan, karena menimbulkan turis asing tewas.

Sehingga, peraturan arung jeram di pulau Bali, Indonesia,  menghadapi kritik setelah kematian lima wisatawan sejak November 2021.

Media asing Aljazeera mecatat, pada 3 Oktober tahun lalu, Robinaugh Clifford Neil, warga negara Amerika Serikat berusia 64 tahun dan sembilan turis asing lainnya berangkat dengan dua rakit karet untuk perjalanan arung jeram menyusuri Sungai Ayung, sungai terpanjang dan tersuci di Bali.

Paruh pertama perjalanan berjalan mulus. Namun ketika rombongan berhenti untuk istirahat di sebuah kios pinggir sungai, air sungai naik drastis.

Baca juga: Gas Melon Langka dan Mahal, Erick Thohir Dikritik Terlalu Fokus Urus JIS

Seorang pedagang wanita menyarankan dua pemandu arung jeram untuk membatalkan perjalanan tetapi saran itu diabaikan, menurut seorang anggota regu pencari yang mengikuti.

Dalam beberapa saat, kedua rakit terbalik dan semua 12 orang jatuh ke jeram. Akhirnya, pemandu dan delapan dari sembilan turis berjalan ke tepi sungai, muncul hanya dengan goresan dan memar kecil.

Tapi Neil tidak pernah kembali. Jenazahnya terakhir kali terlihat melintasi bendungan tanpa helm atau jaket pelampung, tetapi tidak pernah ditemukan, meskipun telah dilakukan upaya pencarian selama seminggu.

Robinaugh Clifford Neil bukan satu-satunya turis yang kehilangan nyawanya saat arung jeram di Bali.

Baca juga: Gas Melon Mahal dan Langka, Komisi VII DPR Tuntut Pertamina Bereskan Distribusinya

Pada bulan November, seorang turis dari Arab Saudi terlempar dari rakit, kepalanya terbentur batu dan tenggelam saat arung jeram di Sungai Telaga di Bali timur.

Pada November 2021, tiga wisatawan Indonesia, termasuk dua anak yang baru saja menyelesaikan perjalanan arung jeram di Sungai Ayung, tewas setelah hujan memicu longsor di jalur hutan terjal antara sungai dan jalan raya.

Peringatan Berulang

Dalam pandangan beberapa ahli yang akrab dengan adegan arung jeram di Bali, kelima kematian tersebut, bukan sekadar kecelakaan tragis yang disebabkan oleh peristiwa cuaca yang tidak dapat diprediksi, dapat ditelusuri ke kegagalan pemerintah untuk mengatur industri serta budaya standar keselamatan yang lemah.

Baca juga: Hebohnya Sampah Sukaraja Puncak Gunung Es Ego Pemimpin Lampung

Nigel Mason, yang memelopori arung jeram di Bali pada 1980-an, mengatakan dia berulang kali gagal meyakinkan pejabat setempat untuk memperkenalkan jenis prosedur operasi standar yang ada di Australia dan negara maju lainnya karena takut nyawa akan hilang jika tidak.

“Wisatawan Amerika itu meninggal pada apa yang kami sebut hari 'sungai merah',” kata Mason, yang menjalankan Mason Adventure Rafting, kepada Al Jazeera.

“Kami memiliki tiga klasifikasi untuk sungai. Yang pertama berwarna hijau. Saat sungai menjadi kuning, kami melarang siapa pun yang berusia di atas 50 tahun dan anak-anak untuk melakukan arung jeram dan memperingatkan semua orang tentang tantangan yang terlibat. Setelah berubah menjadi merah karena terlalu banyak hujan di pegunungan, kami membatalkan perjalanan kami.”

Baca juga: KPK Didesak Tuntaskan Dugaan Korupsi di Kementan, Kejahatan Masif dan Sistematis

“Air di sungai bisa naik enam meter dalam satu jam; sangat berbahaya di dalam sana. Tetapi beberapa perusahaan terus berjalan karena mereka tidak ingin kehilangan uang,” tambah Mason.

Cok Ace, Wakil Gubernur Bali yang sebelumnya memiliki saham di perusahaan arung jeram Sobek, membenarkan beberapa komentar Mason.

“Dulu saya cukup sering mengajak keluarga tapi tidak di musim hujan,” kata Ace kepada Al Jazeera, merujuk pada periode yang biasanya berlangsung dari November hingga April. “Karena kalau Sungai Ayung banjir, bahaya.”

Baca juga: Fahri Hamzah: Masyarakat Harus Bosan Kepada Para Politisi dan Pemimpin yang Gagal, dan Harus Diganti

Fakta bahwa tubuh Neil terlihat mengambang di sungai tanpa jaket pelampung atau helm menunjukkan peralatan keselamatannya rusak atau tidak dipasang dengan benar oleh pemandunya, kata Mason, menunjukkan jalur akses ke sungai yang dibangun dengan buruk sebagai risiko keselamatan lainnya.

“Jika Anda mengikuti tur kami, Anda akan melihat kami memiliki tangga beton lengkap dengan pegangan tangan yang mengarah ratusan meter ke sungai. Tetapi beberapa dari perusahaan baru ini hanya memotong langkah ke dalam tanah atau meletakkan balok beton yang dapat meluncur,” katanya. "Itulah yang terjadi ketika ketiga turis itu tewas dalam tanah longsor tahun lalu."

Mason mengatakan akar penyebab dari semua masalah ini adalah lemahnya pengawasan pemerintah. (*)

(Winoto Anung)

Berita Terkini