HELOINDONESIA.COM -Kisah tentang perbudakan dan pemerkosaan di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) viral di media sosial. Korban, seorang remaja perempuan berinisial I (17), dilaporkan mengalami perbudakan, penganiayaan, dan pemerkosaan sejak kelas 2 SD hingga kini.
Selama masa kehamilannya, I terus-menerus menjadi korban pemerkosaan dan penyiksaan oleh majikannya jika ia menolak permintaan majikannya. Bahkan saat menyusui, ia tetap menjadi korban kekerasan seksual.
Berita Megawati Hangestri
Baca juga: Dulu Megawati Efek, Kini Ada Zhang Yu Efek: Dari Terpuruk Kini AI Peppers Berubah Menakutkan
Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Waingapu, Sumba Timur, NTT, tetapi hingga saat ini, proses hukum tidak menunjukkan perkembangan dan pelaku belum dipanggil.
Informasi mengenai kasus ini pertama kali dibagikan oleh akun Instagram ntt_talk pada Jumat (25/10/2024). Dalam unggahan tersebut, dijelaskan bahwa I telah diperbudak, disiksa, dan diperkosa oleh majikannya sejak usia 7 tahun. I hamil dan melahirkan anak dari pemerkosaan tersebut, dan bahkan saat menyusui, ia tetap menjadi korban.
Jangan lewatkan berita Menteri HAM
Baca juga: Natalius Pigai Ungkap Rp20 T Untuk Bangun Universitas dan Suruh Dino Belajar HAM
"Apakah seorang anak yang lahir dari seorang hamba hanya memiliki pilihan untuk mengikuti semua perintah tuannya, termasuk menjadi korban pemerkosaan?" demikian pertanyaan yang diajukan dalam unggahan tersebut.
Akun itu juga membagikan kesaksian Michel Theddy, pendamping kasus tersebut, yang mengungkapkan bahwa hari itu ia mendampingi I, yang diduga telah diperkosa oleh majikannya sejak kelas 2 SD.
Dalam pengakuannya, I mengungkapkan bahwa ia disiksa jika menolak kemauan majikannya. Ketika ia mencoba bercerita kepada istri majikannya yang dipanggil Rambu, I malah disalahkan dan dianggap sebagai penyebab segala masalah. Ia harus menerima penganiayaan dan ancaman untuk tidak mengungkapkan penderitaannya.
"Saya hanya bisa bersabar hingga saya mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan yang kini berusia 6 bulan. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk pergi dari keluarga itu demi mencari perlindungan. Saya merasa bukan lagi manusia, melainkan hanya pelampiasan nafsu mereka," ujar I dalam kesaksian yang mengiris hati.
Di akhir cerita, I menyatakan kebimbangannya, "Saya dilema karena bila saya melaporkan kejadian ini, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga saya. Saya seolah hidup, tetapi terperangkap dalam siklus kematian."
Kasus ini sudah dilaporkan ke Polres Waingapu, namun hingga kini belum ada perkembangan dalam proses hukum, dan pelaku belum dipanggil untuk dimintai keterangan.
Jawaban Polisi
Terima kasih Sobat Polri atas informasi yang diberikan. Saat ini, kasus tersebut sedang ditangani oleh Satreskrim Polres Sumba Timur dan sudah sampai pada tahap Penyidikan.
Terlapor sudah diundang untuk melakukan pemeriksaan di Polres sebanyak 2 kali, namun tidak hadir. Selanjutnya, kami akan tetap melaksanakan prosedur penyidikan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Mohon dukungan dari Sobat Polri agar kasus ini
dapat segera terselesaikan. Apabila ada informasi terkait kasus tersebut, dapat menghubungi kami di hotline 085137371183. Terima kasih Sobat Polri.***
