Helo Indonesia

Susanti, Warga Indonesia Asal Lampung, Sukses Buka 2 Resto Indonesia di Jepang

Annisa Egaleonita - Ekonomi -> Bisnis
Jumat, 7 November 2025 10:00
    Bagikan  
Susanti, Warga Indonesia Asal Lampung, Sukses Buka 2 Resto Indonesia di Jepang

SUSANTI - Bos Resto Kuta Bali Cafe, satu di Hachioji satu di Harajuku, Tokyo, Jepang. | tangkapan layar Agus Sumadi/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Satu lagi, kabar keren datang dari "ulun" (orang) Lampung yang bermukim di Negeri Sakura, sukses buka dua cabang resto Indonesia di Tokyo, Jepang, Susanti.

Agus Sumadi, warga Indonesia di sana yang tengah melancong baru-baru ini secara tak sengaja menemukan sebuah restoran unik berinterior estetik seperti ukiran Bali nan cozy bernama Kuta Bali Cafe di bilangan sudut Kota Hachioji, pinggiran kota Tokyo, atau disebut juga Tokyo pinggiran.

Melalui unggahan video suasana berikut percakapan singkat Agus dengan Naya, demikian ternyata sapaan karib Susanti di sana, diketahui ialah sang pemilik resto yang buka tiap hari pukul 11.30-15.30 dan akhir pekan pukul 11.30-22.00 waktu setempat ini.

"Alhamdulillah akhirnya bisa mengobati kangen, ketemu restoran Indonesia di Tokyo, di daerah Hachioji. Coba kita masuk, kayaknya sudah buka ini. Selamat siang. Assalamualaikum," ujar Agus bercakap dan sapa salam sembari memvideokan.

Berbalas salam, Susanti pun lantas dengan penuh ramah khas Indonesia mempersilakan Agus masuk dan lantas menemani tetamu sekaligus "saudara sebangsa"-nyi itu duduk.

Dalam obrolan keduanya, seperti diakses disitat di Bandarlampung, Jum'at (7/11/2025), terungkap jika Susanti telah sejak 22 tahun silam bermukim di sini, sejak tahun 2003.

Ditanya Agus, sudah berapa lama buka resto, "Ini tahun ini (2025) bulan Mei kemarin pas enam tahun, jadi enam tahun lebih ya pak. (Sudah punya berapa cabang?) Untuk sekarang sudah punya dua cabang. Satu di sini, yang satunya di Harajuku. Jadi sudah punya dua tempat," sahut Susanti aka Naya.

Penyelia, Hachioji ini kota kecil 186,4 km2 berpopulasi 577.513 jiwa, berkepadatan 3.098 jiwa/km2 per Oktober sedekade silam.

Geografis Hachioji di kaki bukit Pegunungan Okutama, 40 km barat dari pusat 23 distrik khusus Tokyo, dikelilingi dari tiga sisi oleh pegunungan, membentuk Cekungan Hachioji yang membuka ke timur Tokyo.

Pegunungan barat daya meliputi dua tujuan pendakian ngetop yang bisa dicapai dengan bus dan kereta api. Yakni Gunung Takao (599 meter) yang mudah akses lewat Keio Takao Line dan tenar dengan kuil Shingon Buddha Takao-san Yakuoin Yukiji. Dan Gunung Jinba (857 meter) yang top karena pemandangan jelas ke arah Gunung Fuji, namun ebih sulit dicapai, butuh 1 jam naik bus dari pusat kota.

Bentangan luas Hachioji, gabungkan ragam bagian padat populasi dan pusat belanja, dengan pedesaan di barat yang hampir tak berpenghuni. Selain gunung, ada Taman Hutan Ilmu Pengetahuan Tama, Museum Seni Fuji Tokyo, Kuburan Imperial Musashi (rumah sisa-sisa kaisar Taisho dan Showa).

Sejarahnya, selama Zaman Meiji, Hachioji makmur: sentra produksi sutra dan sutra tekstil yang pudar era 60-an. Lalu beralih kini lebih sebagai hinterland, kota komuter suburban pekerja Tokyo, dan sentra maupun kampus cabang sejumlah besar universitas.

Selain 70 SDN, 37 SMPN, 4 sekolah negeri gabungan SD-SMP, sembilan SMAN, 11 SMA swasta. Sebut saja kampus cabang (disebut Kampus Hachioji) dari Universitas Kogakuin, Universitas Kyorin, Universitas Seni Tama, Universitas Takushoku, Universitas Teikyo, dan Universitas Teknologi Tokyo.

Lalu Nippon Engineering College, Universitas Chuo (Kampus Tama), Universitas Digital Hollywood, Universitas Farmasi dan Ilmu Pengetahuan Hidup Tokyo, Universitas Junshin Tokyo, Universitas Kasei-Gakuin Tokyo (Kampus Machida), Universitas Meisei (Hino Kampus), Universitas Nihon Bunka, Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, Universitas Seni dan Desain Zokei Tokyo, Universitas Soka, dan Universitas Tokyo Metropolitan (Kampus Minamiosawa).

Adapun, lokasi resto Susanti satu lagi, di Harajuku, distrik di wilayah Shibuya, Tokyo, yang mendunia sebagai pusat mode jalanan anak muda dan budaya pop. Di sinilah letak Jalan Takeshita: dipenuhi toko serba unik, aneka gaya fesyen eksentrik, dan budaya anak muda nan akrobatik. Selain, ada zona tenang seperti Kuil Meiji dan Taman Yoyogi.

Ditanya pamungkas, alasan kenapa ia buka resto menu khas Indonesia, Susanti impresif.

"Ya kayaknya seneng gitu, lihat orang-orang Indonesia kumpul, makan bareng, nongkrong gitu kan, (dan saling) berbagi cerita, itu kan kayaknya ngeliatnya senang...," sahut ia.

Agus Sumadi mencecar, dengan buka resto Indonesia, dengan demikian Susanti punya sarana pengobat rasa rindu Tanah Air? "Iya betul sekali. Iya betul sekali. Iya betul sekali. Jadi mau siapapun, sekarang, hampir tiap hari ketemu orang Indonesia, itu seneng banget," ungkap Susanti.

Wah, Bu Susanti. Kami yang di Tanah Air pun senang bahkan bangga mendengar kisah sukses nan inspiratif Anda. Tetap semangat! (Muzzamil)