HELOINDONESIA.COM - Kritikan aktivis lingkungan, Asep Solehudin alias Asep Devo dalam kasus perusakan lingkungan di hutan lindung di wisata alam di Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat yang dibuat dalam bentuk video dan diunggah ke media sosial Youtube, berakhir derita.
Sebagian tubuhnya babak belur. Giginya sompal dihajar sekelompok orang diduga suruhan Bupati Ciamis, Herdiyat Sunarya.
Tak hanya itu, Asep juga mengalami intimidasi dari preman-preman itu di hadapan orang nomor satu di wilayah yang berjuluk Kota Manis tersebut.
Bahkan, video terkait adanya perusakan lingkungan di hutan lindung itu pun dipaksa dihapus saat Asep diseret ke pendopo Bupati Ciamis.
Baca juga: Dibangun Jalan Provinsi, Dendi Terima Kasih dan Ajak Warga Merawatnya
Mirisnya, lagi perlakuan biadab itu pun diketahui jajaran, staf, kades dan beberapa personil Polres Ciamis, dan sebagian dari mereka terus memprovokasi untuk membunuh Asep.
Kini, pengurus DPW Lembaga Penyelamatan Lingkungan Hidup Indonesia-Kawasan Laut Hutan Industri (LPLHI-KLHI) itu, tak hanya mengalami luka-luka akibat aksi pengeroyokan, dia juga trauma dan ketakutan aksi serupa bakal kembali terulang.
Asep menduga, aksi penganiayaan, intimidasi Bupati Ciamis dan kroni-kroninya berawal dari postingan video yang berisi kritikannya terhadap perusakan hutan lindung yang diunggah di YouTube oleh seorang wartawan.
Menurutnya, segerombolan orang yang diduga melakukan pemukulan dan penganiayaan tersebut didasari karena dirinya dinilai telah mempermalukan Bupati Ciamis dengan video itu.
Baca juga: Dukung Industri Bina Peternak Sapi, Kemenperin Genjot Produksi Susu Nasional
"Di YouTube itu saya melakukan kritik penebangan pohon di wisata alam Situ Panjalu. Karena itu wilayah hutan lindung yang seharusnya dilindungi," ujar Asep kepada Koran Mandala, Jumat (2/6/2023).
Menurut Asep, sejak video kritikannya itu viral di wilayah Ciamis, komenan miring dari netizen membuat Bupati Ciamis tersudut. Gerombolan orang yang diduga pro terhadap Bupati Ciamis itu pun mencarinya.
Tak hanya itu, sebelum peristiwa yang membuat badan dan giginya sompal, Asep sempat menerima ancaman melalui video yang direkam oleh para pelaku.
Baca juga: Mendag: Kerja Sama, Kolaborasi, dan Keberpihakan Majukan Petani Indonesia
"Di video itu, saya diancam akan dicari karena telah mengkritisi dan memprotes itu," kata dia.
Awalnya, kata Asep, dirinya mengaku tak khawatir, karena menurutnya apa yang telah ia lakukan berada di jalur yang benar.
Namun rupanya ancaman dari beberapa terduga pelaku melalui video tersebut betul-betul dilancarkan.
Tepat pada 25 Mei 2023 siang, Asep mendapatkan telepon agar dirinya menemui Kepala Desa Panjalu, Yuyus Surya Abadi untuk membahas terkait kritikan dan protesnya yang sudah terlanjur viral di YouTube.
Baca juga: PAN Jajaki Koalisi Dengan PDIP, Zulhas : Belum Final, Masih Bersama KIB
"Karena sebelumnya saya juga diancam oleh Pak Kuwu. Kalau misal sampai uang revitalisasi yang sedang lelang informasinya senilai Rp 12 miliar enggak turun, saya mau dipodaran (dibunuh)," kata dia.
Pertemuan itu pun diagendakan berada di sebuah rumah makan di kawasan Cihaurbeuti. Namun, lokasi pertemuan itu akhirnya dibatalkan secara sepihak oleh Yuyus pada pukul 18.00 WIB.
"Akhirnya pindah lokasi pertemuan. Lokasinya berada di pusat kota Ciamis. Saya datang bertiga," ujar Asep.
Lantas, dia pun mengiyakan ajakan pertemuan yang sudah pindah lokasi tersebut. Pada waktu bersamaan ia langsung berangkat ke rumah seorang kader partai.
Baca juga: Demokrat Tuding Jokowi Dukung Sistem Pemilu Tertutup dengan Pinjam Tangan MK
Hapus Video
"Sesampai di sana, saya menunggu hingga kurang lebih 3 jam. Ternyata ada sekitar 7 mobil lebih dengan lebih dari 30 orang. Yang menganiaya saya kurang lebih 15 orangan," kata dia.
Bukannya membahas soal kritikan yang telah dibuat, gerombolan itu justru membogem Asep.
"Saya dipukul, diintimidasi, dan diancam oleh beberapa orang di sana," kata dia.
Setelah mendapatkan penganiayaan, ia dan dua rekannya kemudian dipaksa untuk ke Pendopo Ciamis untuk meminta maaf kepada Bupati.
"Sebelum bertemu bupati, saya dijambak oleh beberapa orang. Itu lokasinya persis di pendopo," kata dia.
Baca juga: Pabrik Ekstasi di Kabupaten Tangerang Digerebek, Alat Produksi dan Bahan Mentahnya Diamankan
Usai dianiaya lagi, ia kemudian menemui Bupati Ciamis di belakang pendopo. Di sana, sudah ada sejumlah orang yang menunggu kedatangannya, termasuk Kepala Desa Panjalu, dan seorang anggota dari Polres Ciamis.
"Di situ Pak Kuwu langsung teriak 'Tah ieu Asep pak, tos katewak'(Nah ini Asep pak, sudah tertangkap)," kata dia.
Menurut Asep, ia kemudian diminta langsung meminta maaf kepada bupati atas kritikan pedasnya. Bahkan, bupati meminta agar video kritikannya yang diunggah di YouTube untuk dihapus.
"Videonya disuruh dihapus. Yang nyuruh bupati. Bahkan di pendopo banyak yang meneriaki saya bunuh, bunuh. bunuh, kupingnya ambil," ucapnya.
Baca juga: Bakal Diperiksa Bareskrim, Denny Indrayana Dilaporkan Soal Bocoran Keputusan MK
Atas kejadian tersebut, Asep melakukan visum et repertum ke RSU dr Sukarjo dan RSU Ciamis. Ia juga mengaku telah melaporkan peristiwa dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Ciamis.
"Saya laporan kemarin hari Selasa (30/5/2023). Dan kemarin, saksi sudah dipanggil," kata dia.
Asep berharap, kasus ini ditangani secara profesional oleh Polres Ciamis. Sebab, ia merasa tak tenang karena terus menerus mendapatkan ancaman dan intimidasi.(*)
