Penulis Gufron Azis Fuandi
Ustadz
IBARAT angin, pergerakan dakwah Nabi SAW tidak mengenal musim, tidak mengenal tempat dan tidak membiarkan satu momentum pun. Diantaranya Nabi SAW memanfaatkan musim haji untuk mendatangi tenda-tenda kabilah Arab yang berkumpul di Mina dan pasar-pasar seperti Ukaz, Mijannah, dan Dzul Majaz.
Beberapa kabilah yang pernah didatangi Nabi SAW antara lain Bani Hanifah (dari Yamamah, wilayah antara Riyadh dan Irak), Bani Kalb (dari wilayah Suriah), Bani Amir bin Sasa'ah (dari wilayah Arab bagian tengah, perbatasan Hijaz dan Nejed) dan Kindah (dari wilayah Yaman).
Namun, mayoritas dari mereka menolak tawaran tersebut dengan berbagai alasan. Bukan karena apa yang ditawarkan Nabi SAW tidak menarik, tetapi hambatan dan fitnah dari Kaum Quraisy terus dilancarkan seolah tidak mengenal waktu.
Setiap kali Nabi SAW berdakwah kepada jamaah haji, Abu Lahab atau pemuka Quraisy lainnya sering mengikuti dari belakang untuk memfitnah Beliau sebagai pendusta atau orang yang terkena sihir agar jamaah tidak mendengarkan dakwahnya.
Hal itu terjadi bertahun-tahun. Titik terang muncul pada Tahun ke-11 Kenabian (620 M), ketika Nabi SAW bertemu dengan enam pemuda dari Suku Khazraj (Yatsrib) di Aqabah. Mereka inilah yang menerima dakwah Nabi SAW dan menjadi cikal bakal terjadinya Baiat Aqabah I pada tahun berikutnya.
Baiat Aqabah adalah dua perjanjian penting (621 & 622 M) di Aqabah, dekat Mina, antara Nabi Muhammad SAW dan penduduk Yatsrib (Madinah). Baiat ini menandai titik balik dakwah, dari penyebaran iman ke komitmen perlindungan (pertahanan), yang menjadi fondasi hijrah dan berdirinya negara Islam di Madinah.
Oleh karena itu, khususnya Baiat Aqabah II sering disebut sebagai baiat perang. Karena didalamnya terkandung kesiangan para kaum muslimin Yatsrib untuk berperang membela Nabi SAW dan Islam sebagaimana mereka membela dirinya sendiri dan keluarganya.
Lahirnya komitmen dalam Baiat Aqabah II tidak muncul secara ujug-ujug, tetapi merupakan hasil tarbiyah harakiyah yang dilakukan, Mush'ab bin Umair, yang diutus Nabi SAW sebagai murabi di Madinah menyusul Baiat Aqabah 1.
Perjalanan dakwah Nabi SAW sampai terjadinya Perjanjian Aqabah memberikan pelajaran penting tentang dakwah, rekrutmen dan pembinanaan.
Pergerakan dakwah Nabi SAW itu seperti angin, yang tidak membiarkan satupun celah, kecuali akan didatanginya. Betapa pun sempitnya sebuah celah dakwah akan tetap melewatinya meskipun harus menjerit.
Saat dakwah di Makkah mendapat hambatan, tantangan dan penolakan keras, Nabi SAW mencari dukungan di luar Makkah, kepada peziarah haji dari berbagai kabilah setiap tahun.
Mendatangi berbagai tempat yang dekat dan jauh, seperti ke pasar Majanah (30 km arah Barat Laut), pasar Dzul Majaz (20 km arat Timur), ke pasar Ukadz (70 km) dan ke Thaif (90 an km/2-3 perjalanan unta).
Allah akhirnya mempertemukan Nabi SAW dengan para jamaah haji dari Yatsrib (Madinah) tempat asal nenek buyutnya, Salma binti Amir, ibu dari Abdul Muthalib kakek Nabi SAW. Setelah dakwah berjalan sepuluh tahun lebih.
Haji, Baiatul Aqabah dan
Hijrah adalah titik balik perjalanan dakwah Nabi SAW dari defensif ke ofensif. Tetapi hijrah tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Hijrah adalah puncak yang pendakiannya dimulai dari dakwah, yang kemudian menemukan momentumnya kepada para jamaah haji, hingga terjadi pernjanjian Baiat Aqabah I dan II serta tarbiyah yang intensif oleh Mush'ab bin Umair.
Saya membayangkan, apa yang terjadi bila para aktifis dakwah yang sedang berhaji menapaktilas-i apa yang dilakukan oleh Nabi kepada para jamaah haji.
Jamaah haji Indonesia, pergi pulang menghabiskan waktu sekitar 40 hari. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk berkumpul bersama sesama jamaah. Ngobrol tentang kebaikan, tentang ibadah juga taaruf satu sama lain.
Kondisi ruhiyah dan maknawiyahnya juga tinggi, karenanya tidak tertarik bicara yang nggak guna tentang fahsya dan mungkar. Seharusnya, ini adalah kondisi yang bagus untuk rekrutmen dakwah dan tarbiyah. Ibarat bercocok tanam ditanah yang subur di awal musim hujan. Waktu dan tempat yang tepat!
Wallahu a'lam bi shawab. Allahu musta'an. (GAF)
