Helo Indonesia

Warga Marah Pelajar Tewas, Aparat Dikritik Bandarlampung Tak Baik-Baik Saja

Herman Batin Mangku - Nasional -> Hukum & Kriminal
Kamis, 19 Desember 2024 07:29
    Bagikan  
TEWAS
Helo Lampung

TEWAS - Almarhum korban kebiadaban segerombolan remaja (Foto Dok Platinum Futsal Academy/Happy Apriyadi)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Banyak warga yang menyesalkan, kecewa, dan marah atas terjadinya pembunuhan terhadap seorang pelajar yang dilakukan sekelompok remaja di Jl. Dr. Harun 1, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Kota Bandarlampung, Rabu (18/12/2024).

Mereka mendesak aparat kepolisian segera mengungkap para pelaku kejahatan peristiwa tragis tersebut. Tak sedikit, warga yang mengkritik aparat dan pihak terkait atas munculnya kesan tak baik-baik saja Kota Bandarlampung beberapa tahun belakangan ini. 

Baca juga: Pelajar SMPN 25 Bandarlampung Tewas Dibacok Celurit Panjang Geng Remaja

Seorang guru seni salah satu SMK di Kota Bandarlampung mengatakan dua bulan lalu muridnya tewas akibat ngebut dan nabrak pagar flayover Pasar Tugu karena dikejar gerombolan sepeda motor bersenjata tajam dini hari. "Ngeriii ... yaa ...," ujarnya. 

Kali ini, korbannya Fredi Saputra (15), pelajar SMPN 25. Anak yang bapaknya penjaga parkir dan ibunya cleaning service usaha perawatan kecantikan di Jl. MH Thamrin, Gotongroyong itu dibantai gerombolan remaja usai membantu pamannya berjualan pecel lele di Enggal. 

Selain rajin membantu orangtua, ternyata, putra ketiga ini juga memiliki aktivitas positif, yakni tercatat sebagai anggota Platinum Futsal Academy. Akademi futsal ini peserta Liga AAFI, ujar Happy Apriyadi yang juga pengelola BSI Futsal Akademi. 

undefined

Pemilik perawatan kecantikan ikut memposting komentarnya via nedia sosial agar masyarakat sama-sama mengawal kasus ini. "Ini anak gak punya, sudah tinggal di klinik kurang lebih 12 tahun," tulisnya. 

Menurut sang dokter, saat peristiwa, Fredi dan sepupunya hendak pulang ke rumah pamannya. Ketika melintas, gerombolan remaja itu melempari Fredi lalu mengejarnya. Begitu jatuh dari sepeda, Fredi dan sepupunya tetap berusaha lari. 

Saat lari itu, sang bocah jatuh dan benda tajam mengakhiri perjuangan sang remaja yang sedang meniti kehidupannya. Dia dimakamkan di tempat asalnya: Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan. 

Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Gino Vanollie merasa sudah buntu (pihak terkait), kehilangan akal untuk mengatasi kekerasan di kalangan anak-anak kita. "Kejadian terus berulang, dan anak anak kita jadi korban," ujarnya, Rabu (18/12/2024). 

Penggiat gemar membaca, Gunawan Handoko mengatakan penyebab utama terjadinya kekerasan adalah orangtua yang membiarkan anaknya keluar malam tanpa jelas tujuannya. "Tidak ada alasan orangtua kalah dengan anak," k atanya. (HBM)