LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Pakar pemasaran, Founder and Chair MCorp, Hermawan Kartajaya menilai perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) alias otak imitasi nan pesat, suka tak suka kudu diakui telah mengubah secara fundamental perilaku konsumen. Rujuk Hermawan, dunia pemasaran mesti sikapi dengan strategi marketing berbasis 3F, 3B, dan 4A. Apa itu?
Saat berbicara di acara The 108th Jakarta CMO Club di Jakarta (28/4/2026), Hermawan Kartajaya menyebut, buah implikasi massifnya penggunaan teknologi karkhas Revolusi Industri 4.0 itu, konsumen saat ini telah menjelma menjadi “augmented human”: manusia yang sangat bergantung pada teknologi dalam mengambil keputusan.
Pengingat, AI, teknologi komputer yang dirancang buat simulasikan kecerdasan manusia, misal belajar dari data, kenali pola, pecahkan masalah, dan ambil keputusan. AI memungkinkan mesin berpikir dan bertindak mandiri, lipatgandakan efisiensi dan produktivitas lintas bidang.
AI mampu pelajari informasi baru, kenali suara, memproses bahasa manusia, buat teks atau gambar. Terapannya, misal Chatbot seperti ChatGPT, asisten virtual seperti Google Assistant, Siri; rekomendasi konten di medsos, hingga fitur GPS.
Bekerja dengan menganalisa kumpulan mahadata guna menemukenali pola dan melatih algoritma mesin pembelajaran (machine learning) atau deep learning untuk bikin prediksi, keunggulan AI antara lain mampu beroperasi nonstop 24 jam sehari 7 hari seminggu (24/7), mengurangi kesalahan manusia, memproses data dengan sangat cepat.
Adapun augmented human, istilah untuk menggambarkan perubahan perilaku konsumen nan telah amat terpengaruh oleh AI. Sehingga dalam menimbang keputusan, terutama keputusan pembelian banyak terpengaruh olehnya.
Hermawan berujar, perubahan perilaku itu tercermin dalam konsep 3F notabene karakter utama augmented human, yakni: fragmented, filtered, dan frugal.
Fragmented artinya semua message masuk telah terfilter otomatis oleh algoritma. Selain, perilaku konsumen juga makin terfragmentasi bukan lagi dalam segmen besar, tapi dalam kelompok atau komunitas kecil dengan psikologi dan perilaku yang mirip (tribe), sisi lain segmen tradisional tidak lagi cukup dan konsumen kini cenderung hanya memilih produk yang direkomendasikan AI (jka suatu merek tidak muncul dalam rekomendasi, berisiko diabaikan).
Dan AI, terang dia, kini berperan selaku penyaring utama informasi yang diterima konsumen. “AI itu memfilter kepada kita, dia tidak berikan semuanya. Dia kumpulkan semua informasi lalu disimpulkan,” ujar dia, seperti dilaporkan Marketeers, disitat ulang diakses dari Bandarlampung, Senin (4/5/2026).
Kemudian semakin ke sini-sini, telaahannya, selain itu, perilaku konsumen disebutnya semakin terfragmentasi. Kini, "konsumen tidak lagi berada dalam satu segmen yang jelas, melainkan masuk ke berbagai komunitas atau “tribe” secara bersamaan. Kondisi ini membuat pendekatan segmentasi tradisional dinilai tidak efektif," ujarnya.
Sudut lain, dia menyoroti fenomena selective frugality, di mana konsumen menjadi selektif dalam membelanjakan uang. Hermawan menyebut konsumen bisa sangat hemat, namun juga bisa tak ragu mengeluarkan uang jika produk itu direkomendasikan sistem atau komunitas yang dipercaya.
Perubahan perilaku ini membuat tantangan utama dalam pemasaran beringsut bergeser pada perebutan perhatian. “The battle of marketing starting with the battle of attention,” tandas dia, menilai upaya untuk mendapatkan perhatian konsumen kini jauh lebih sulit karena perilaku scrolling yang semakin cepat di berbagai platform digital.
Guna menjawab tantangan itu, Hermawan memperkenalkan konsep 3B seperti yang dituliskannya bersama Philip Kotler dan COO MCorp, Iwan Setiawan di buku terbaru mereka, Marketing 7.0; yakni attention brain, social brain, reward brain. Per tahap, menarik perhatian, lalu bangun kedekatan emosional, dan akhirnya mendorong keputusan pembelian.
Selain itu, Hermawan menekankan pentingnya pendekatan 4A dalam strategi pemasaran modern. Pertama, brand storytelling untuk menarik perhatian melalui sisi emosional. Cerita yang kuat jadi kunci bangun koneksi awal dengan konsumen. Selanjutnya value proposition, menjelaskan nilai yang diterima konsumen.
Lalu, perusahaan perlu terapkan pendekatan penjualan lebih tegas, tak hanya mengandalkan soft selling seperti sebelumnya. Terakhir, reinforcement melalui pengalaman pelanggan dan rekomendasi. Konteks ini, dia menilai peran konsumen sebagai pemberi testimoni jadi semakin penting.
Sadar perubahan lanskap bisnis kini didorong ragam faktor utama mulai dari teknologi, ekonomi, hingga sosial budaya, terpisah sebelumnya, dia menyoroti posisi Indonesia yang berada di fase adopsi AI yang kuat meski hadapi tantangan kedaulatan teknologi.
“Kalau kita tidak memanfaatkan AI, kita tidak bisa bekerja optimal. Sekarang kita sudah masuk era knowledge worker, di mana cara kerja tak lagi dibatasi waktu, tapi kemampuan kita dalam memanfaatkan pengetahuan dan teknologi,” kata Hermawan, sebagai bagian arah strategis ke depan, MCorp ampuannya perkuat fokus pada pengembangan Marketing 7.0 dimana buku barunya itu akan jadi pedoman bagi ekosistem produk perusahaan pada masa depan.
Kendati banyak orang bertaruh, menyebut kesejatian AI murni sekadar alat bantu; nun dengan fakta kini ternyata AI bukan sekadar alat bantu permudah aktivitas manusia dan terus berkembang pesat hingga salah satunya digunakan konsumen dalam pertimbangan keputusan pembelian.
Dia menohok, pengaruh AI telah meningkatkan kecerdasan konsumen dalam pemilihan produk. Sehingga para pemasar dituntut terus ikuti perilaku konsumen agar bisa membuat produk maupun kampanye yang relevan dengan konsumen.
“AI bagus karena bisa efisien, tingkatkan produktivitas. Tapi kita jua harus hati-hati. Kalau customer-nya jadi augmented human, pemasarnya juga harus jadi augmented human,” ujar pengampu ide kreatif slogan rebranding pariwisata daerah ini, "Lampung The Treasure of Sumatera" 2016 silam, penuhi atensi Gubernur Lampung saat itu Ridho Ficardo untuk promosikan potensi wisata, tonjolkan kekayaan alam, budaya, dan geostrategis Lampung sebagai gerbang pertama dan utama Sumatra. (Muzzamil)
