HELOINDONESIA.COM - Puluhan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu menggelar doa bersama, diwarnai isak tangis ketika menyaksikan puing-puing bangunan stadion yang dirobohkan, Sabtu (16/9/2023).
Keluarga korban mengaku kecewa, mereka meminta agar stadion tidak rirobohkan dahulu sebelum masalahnya selesai, jika dirobohkan.
Seperti kita ketahui saat ini Stadion Kanjuruhan yang berada di wilayah Kecamatan Kepajen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini mulai dibongkar.
Pembongkaran dilakukan oleh para pekerja dari PT Waskita Karya, untuk selanjutnya akan dilakukan renovasi.
Baca juga: Mirip Tragedi Kanjuruhan, 12 Orang Tewas dalam Kericuhan di Stadion Sepak Bola El Salvador
Sementara keluarga korban sendiri merasa perjuangan selama satu tahun ini merasa tidak didengar sama sekali oleh pemerintah.
Keluarga korban dan Aremania sejak awal menolak renovasi Stadion Kanjuruan, sebelum kasus tragedi kelam itu tuntas.
"Kalau seperti ini, kami merasa pemerintah berusaha menghilangkan bukti. Kemudian kami melihat pemerintah lebih mementingkan benda mati daripada nyawa anak-anak kami, saudara-saudara kami," ujar Sunari keluarga korban seperti kepada wartawan di Malang, Sabtu (16/9/2023).
Baca juga: Yutthana Yimkarun Mundur dari Manajer Timnas U-22 Thailand, Netizen Sindir PSSI Kasus Kanjuruhan
Sunari merupakan ayah kandung dari mendiang Mayang Agustin, salah satu dari 135 korban tewas dalam Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022.
Sunarni mengaku terkejut saat melihat Stadion Kanjuruan benar-benar mulai di renovasi.
Menurutnya memang keluarga korban sempat diajak untuk berdiskusi terkait renovasi Stadion Kanjuruan itu, tapi ajakan tersebut disampaikan secara tidak serius.
Keluarga korban juga merasa hancur setelah mengehatui kalau laporan Model B sudah dihentikan Polres Malang.
Baca juga: Kanjuruhan atau Israel Penyebab Batalnya U-20, Ini Kata Erick Thohir
Rasa sakit laporan model B dihentikan belum usai kini Stadion Kanjuruan ternyata sudah mulai dibongkar untuk renovasi.
Namun Sunari mengatakan sampai kapanpun keluarga korban Tragedi Kanjuruan akan tetap menuntut keadilan.
Sunari sendiri mengaku terkejut kok bisa direnopasi, padahal masalahnya selesai.
Menurut Sunari, sebenarnya kami menginginkan keadilan yang gak muluk-muluk, kami minta polisi yang menembak gas air mata agar jujur pada kami.
Baca juga: Bisa Saja Pekan ini Gustavo Disimpan untuk Menghadapi Laga Arema Melawan Persebaya Nanti
"Cukup dengan ya kami memang bersalah, saya minta maaf dan saya akan bertanggung jawab. Cuma itu saja, gitu aja kok sulit, tinggal kemudian biar pengadilan yang menentukan," paparnya paparnya seperti dilansir britajatim.com, Sabtu (16/9/2023).
Terkait pintu 13 apakah nanti akan dirobohkan, Sunari mengaku sudah menyampaikan kepada pekerja jika Pintu 13 dibongkar, maka ia sudah menyerah dan kalah.
"Tapi saya memohon agar ini dijadikan museum atau monumen. Museum dan monumen itu penting bagi kami, karena keluarga kami meninggal di sini. Karena keluarga korban berkunjungnya ke sini," ucap Sunari.
Sementara salah satu tokoh senior Aremania, Harie Pandiono Paimin sebelumnya mengungkapkan agar Stadion Kanjuruhan tidak dibongkar total.
"Karena jika dibongkar total, akan menghapus ingatan atas sejarah kelam Tragedi Kanjuruhan," beber Harie saat itu, Minggu (4/12/22).
"Kalau bisa gate-gate (yang menimbulkan banyak korban) itu disisakan sebagai museum," beber Harie.
Hal ini bertujuan agar publik bisa merawat ingatan perihal tragedi yang menewaskan 135 orang dengan ratusan lain luka-luka saat peristiwa terjadi.
"Untuk mengingatkan kita agar tidak terjadi lagi di masa mendatang. Museum sebagai sarana kita menghormati para pahlawan," harap Aremania yang bekerja di sebuah perusahaan tambang Afrika tersebut.
Harie Pandiono Paimin tentu saja tidak asal berpendapat perihal keinginannya bersama Aremania lainnya itu.
Misalnya di Yunani yang kasusnya sama. Stadion Olympiakos masih ada darahnya, ada sepatunya, tidak dirubah," beber Harie.
Padahal itu korban hanya 21 meninggal dunia, sementara di Tragedi Kanjuruan ini korbanya jauh di atas peristiwa Stadion Karaiskakis di Pireaus Yunani pada 8 Februari 1981 silam.
Korban meninggal dunia akibat berdesakan ketika keluar, pasca laga antara Olympiakos melawan AEK Athens.
Pintu 7 di stadion Yunani tidak dirubah, agar semua orang berziarah dan mengingat tragedi di situ.
Suporter mau pesta kemenangan tetapi pintu terkunci dan berdesakan, sehingga pintu 7 di stadion Yunani tidak dirubah, agar semua orang berziarah dan mengingat tragedi di situ. **