Helo Indonesia

AS Menggunakan Anggota PBB Berkedok Bantuan Kemanusiaan Sebagai Spionase di Yaman

Aris Mohpian Pumuka - Internasional
Selasa, 18 Juni 2024 10:22
    Bagikan  
Yaman
Ist

Yaman - Pemimpin Tertinggi Revolusi Yaman menjelaskan tentang mata-mata AS dan Israel.

YAMAN, HELOINDONESIA.COM - Pencantuman nama beberapa negara oleh Amerika Serikat (AS) dalam pernyataannya tentang pembongkaran jaringan mata-mata Amerika-Israel adalah bukti nyata kelemahan dan kebangkrutan (moral).

Mohammad Ali al-Houthi, anggota Dewan Politik Tertinggi di Yaman, mengatakan hal ini pada hari Senin (17/6/2024). Menanggapi terbongkarnya jaringan mata-matanya di Yaman.

Departemen Luar Negeri AS berkilah bahwa orang-orang yang ditangkap adalah staff misi lokal mereka, dan mengatakan ini adalah upaya Houthi untuk menyebarkan informasi yang salah, meski ada banyak bukti yang disuguhkan tentang kegiatan mata-mata orang-orang ini.

“Penahanan yang dilakukan oleh otoritas Yaman, terhadap 'pegawai PBB' merupakan penghinaan terhadap norma-norma diplomatik dan mereka harus segera dibebaskan,” bunyi pernyataan AS.

Baca juga: JADWAL EURO 2024 GRUP F : Turki vs Georgia dan Portugal vs Ceko ! Cristiano Ronaldo Bisa Buat Sejarah Jika Cetak Gol !

Pada tanggal 10 Juni 2024, Pasukan Keamanan Yaman mengumumkan pembongkaran jaringan spionase besar yang dioperasikan oleh badan intelijen Amerika dan Israel. Para pejabat mengungkapkan bahwa jaringan tersebut telah aktif di berbagai institusi di Yaman sejak tahun 2015.

Dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita Yaman SABA, al-Houthi mengindikasikan bahwa AS sedang berusaha menutupi kejahatan dan agresinya terhadap Yaman setelah gagal meyakinkan dunia tentang “legitimasi tindakannya.”

Dia menekankan bahwa jika yang terjadi adalah sebaliknya, yakni jaringan semacam ini ada di Amerika atau negara lain, maka Amerika dan negara-negara yang berpartisipasi dalam pernyataan itu sendiri tidak akan mengizinkan pihak mana pun untuk melakukan aktivitas yang sama. Seperti yang dilakukan jaringan mata-mata (AS) ini di Yaman.

Pejabat tersebut menyebutkan bahwa pernyataan AS dan PBB mengenai masalah ini mengkonfirmasi informasi yang diungkapkan oleh dinas keamanan Yaman tentang mata-mata yang bekerja dengan kedok bantuan kemanusiaan dan bantuan untuk melakukan kegiatan spionase.

Baca juga: Berikut Beberapa Kode Redeem Game Free Fire (FF) Hari ini, Selasa (18/6/2024) : Dapatkan beberapa Item Gratis

Al-Houthi mencatat bahwa mata-mata ini menerima pelatihan di CIA (Central Intelligence Agency) dan lembaga lain, yang menegaskan keterlibatan mereka dalam pekerjaan spionase.

“Jika tidak, apa hubungan kursus keamanan dan intelijen dengan pekerjaan rutin sebagai pegawai kedutaan lokal?” tanyanya.

Pejabat Yaman itu menambahkan bahwa komunikasi terenkripsi dan rahasia antara mata-mata dan petugas intelijen Amerika adalah bukti lebih lanjut pelanggaran norma-norma diplomatik mereka.

Dia juga menunjukkan bahwa sertifikat penghargaan yang dikeluarkan oleh CIA kepada mata-mata tersebut menegaskan keseriusan peran mata-mata ini dan dampaknya terhadap keamanan nasional Yaman.

Baca juga: Apa itu Hari Tasyrik, Dilarang puasa Pada 11,12 dan 13 Dzulhijjah, Dimulai Pada Hari ini (Selasa 18/6/2024)

Al-Houthi menyoroti bahwa mata-mata tersebut mengakui kejahatan dan insiden yang didukung oleh bukti yang diketahui masyarakat Yaman, dan menambahkan bahwa laporan yang mereka serahkan kepada petugas intelijen AS adalah milik badan-badan negara Yaman.

Dia kemudian menegaskan bahwa bahwa hal baru dari semua ini adalah bahwa, dinas keamanan Yaman telah mengungkapkan alasan di balik kejahatan ini dan mengungkap siapa yang berada di balik kejahatan tersebut.

Pejabat tersebut mengindikasikan bahwa informasi yang diungkapkan oleh badan keamanan mengenai jaringan mata-mata Amerika-Israel di Yaman menegaskan adanya penghancuran sistematis dan upaya yang disengaja untuk menghancurkan mata pencaharian dan populasi Yaman.

Al-Houthi meminta Washington untuk “menghentikan kebijakan pemerasan karyawan dengan merekrut mereka dengan kedok pekerjaan kemanusiaan dan diplomatik.”

Baca juga: Muri Kembali Serahkan Penghargaan pada Grebeg Besar Demak untuk Sajian Ancakan

Ia juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi-organisasinya untuk “memberikan penjelasan atas tindakan-tindakan yang telah berulang kali diperingatkan dengan bukti-bukti,” karena tindakan-tindakan tersebut “mencerminkan kegagalan untuk mematuhi piagam dan peraturan operasional yang mereka nyatakan, yang merupakan satu lagi kejahatan yang tidak dapat dibenarkan.”

PBB mengatakan para pegawai PBB yang ditahan termasuk enam pekerja dari Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, dua dari UNESCO, dan masing-masing satu dari Program Pembangunan PBB, Dana Anak-anak PBB, Program Pangan Dunia, Organisasi Kesehatan Dunia dan Kantor Utusan Khusus.

PBB mencatat setidaknya 11 pekerja masyarakat sipil juga ditangkap, dan empat anggota staf PBB lainnya telah ditangkap antara tahun 2021 dan 2023.

Presiden Komite Revolusi di Yaman ini mengkritik PBB karena tidak hati-hati memeriksa dan menyaring personelnya sambil menegakkan pengawasan yang tepat terhadap badan-badannya. “Kami tidak menentang posisi dari staf organisasi-organisasi PBB, tapi kami mengutuk Amerika yang mempekerjakan mata-matanya di bawah kedok ini," ujarnya. 

Baca juga: 3 Minuman yang Bisa Menetralisir Ketika Banyak Makan Daging Kurban

Houthi meminta PBB dan organisasi-organisasinya untuk memberikan jawaban atas tindakan yang tidak dapat dijelaskan ini dan tidak mencerminkan kepatuhan para pejabat PBB terhadap piagam mereka.

Al-Houthi menyimpulkan dengan mengatakan, “Ini adalah realitas Amerika dan Israel saat ini, sebagaimana dibuktikan oleh pengungkapan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga ini,” katanya.

Ia menegaskan bahwa semua negara menolak tindakan tersebut dan mengutuk perilaku tersebut, yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kemanusiaan. 

Sumber: Press TV