HELOINDONESIA.COM -Di Jepang ada istilah Ikigai. Bagi sebagian orang sangat familiar, tapi bagi sebagian orang lainnya mungkin baru pernah mendengar.
Sebenarnya Ikigai itu untuk mereka dari kalangan Gen Z dan Milienial sudah tidak asing.
"Untuk rekan-rekan yang masih di umur belasan, 20 atay 30 tahun ini lagi seru-serunya untuk mencari terkait Ikigai," ungkap enterpreneur di bidang People dan Tech (IT) Victor Osman dalam webinar yang dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Rabu (20/2/2025)..
Menurut Victor, Ikigai sejatinya adalah wellness.
"Bagaimana kita sehat, tidak hanya secara jasmani tapi juga rohani dan secara mental spiritual dan pasti mau happy," tambah Victor.
Baca juga: Hasto Pakai Rompi Oranye dan Tangan Diborgol Keluar Ruang KPK
Ikigai sendiri merupakan istilah dari bahasa Jepang artinya alasan untuk hidup. Di mana ketika ada peneliti psikologis klinis menemukan banyak orang-orang yang hidup di Pulau Okinawa umurnya di atas 100 tahun.
"Ini wellness banget gitu loh, happy banget, umurnya bisa ratusan tahun. Ketika diteliti lebih dalam ternyata yang tinggal di pulau Okinawa Jepang tersebut mereka ada satu yang namanya Ikigai, alasan untuk hidup," paparnya.
Apa kaitannya dengan wellness. Tradisi kesehatan tradisional itu juga bisa bisa menunjang.
"Ikigai memang terminologi bahasa Jepang, alasan untuk hidup. Nanti Anda bisa dapatkan tentunya pembahasan ikigai ini akan jauh berbeda dari apa yang mungkin anda pernah dengar sebelumnya," jelasnya.
Baca juga: Ini Dia 10 Gubernur se-Indonesia yang Paling Tajir Dilantik Presiden Prabowo
Menurutnya, karena Ikigai juga selain sebagai alasan untuk hidup, tapi akan mengenal lebih dalam siapa diri Anda dan potensi apa yang bisa Anda lakukan.
"Sehingga Anda lebih banyak happy dan ujungnya wellness. Gimana Anda bisa lebih sehat dan lebih berbahagia," tambahnya.
Dan disadari, lanjutnya, bahwa hidup adalah pilihan lain. Jadi hidup secara wellness ini akan lebih bijaksana dan hasilnya bakal lebih baik.
Dengan kemajuan teknologi, saat ini Anda tak perlu bingung dalam memilih minat dan bakat Anda ke depan.
Baca juga: Buka Pendaftaran Perpanjangan Kartu PWI, Dheni Kurnia: Kita Fokus Program Organisasi
Dia mencontohkan ketika seseorang ketika baru mau kuliah, mau menentukan jurusan apa yang cocok agar bisa bermanfaat ke depannya.
"Dulu ada tes minat dan bakat. Sayangnya zaman sekarang sudah tidak valid lagi karena waktu berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan adanya teknologi Artificial Intelligence (AI).
Dengan bantuan, artificial intelligence dia akan tau cocoknya nanti berkarirnya seperti apa.
"Kenapa saat ini anda mau terjun ke dunia wellness, ke dunia pariwisata Indonesia. Kemudian bagaimana mengembangkan kondisi Pariwisata," ujarnya.
Namun demikian, teknologi canggih apapun kalau Anda sendiri tidak mau bergerak, sama kayak kita ke dokter dikasih obat sebaik apapun paling the best paling canggih terbaik di dunia Kalau tidak mau menggerakkan jari Anda atau membuka mulut agar obat tersebut masuk gitu ya dia tidak akan berpengaruh apapun.
" Saya mau mengembangkan pariwisata mau bikin meditasi dan segala macam gitu ya di dunia baru bisa di Indonesia keren banget. tujuan pertama sudah dapat," ungkapnya.
Kedua, stop thinking start the way, jangan kebanyakan mikir. Tapi mulai untuk lakukan dan ambil tindakan. Ketiga temukan dan berbagi pengalaman dengan orang lain memiliki minat yang sama.
"Bareng teman-teman yang senang untuk dunia Sehat jasmani spiritual juga untuk mengembangkan wellness tourism di Indonesia," tambahnya.
Baca juga: Silaturahmi Mitra Polres, Kapolres Maya Ajak Jaga Kamtibmas Jelang Ramadhan
Keempat belajar menerima bahwa kegagalan hal yang normal. Jadi itu adalah hal yang normal untuk Anda mencapai sebuah tujuan.
"Mimpi boleh setinggi-tingginya tapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal masih simpel harus ada action, tindakan yang maksimal bukan action yang biasa. Karena kita butuh ekspektasi itu action buat hasil yang maksimal itu kata kuncinya," tandasnya.
