Helo Indonesia

Neng Geulis Garut Astri Novitasari Sekerling Asa di Munas HIPMI 

Herman Batin Mangku - Ragam
1 jam 38 menit lalu
    Bagikan  
HIPMI
HELO LAMPUNG

HIPMI - Astri Novitasari

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM —Sosoknya paket komplit: muda, ramah, geulis, sarjana hukum, coffeepreneur, ligat cari duit. Dari ribuan hadirin peserta Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), sosok delegasi BPC HIPMI Kabupaten Garut, Jawa Barat, Astri Novitasari, ini jadi magnet tersendiri di Munas HIPMI, Hotel Novotel Lampung, Kota Bandarlampung, 10-11 Juni 2026.

Dirinya tidak saja tampil anggun jelita. Namun juga menghadirkan sekerling asa khas anak muda Indonesia pada munas yang berhasil memilih Ade Jona Prasetyo sebagai ketua umum BPP HIPMI 2026–2029. Astri Novitasari, bos F&B karib disapa Atiw ini pemilik Valerie Kopi, jenama bisnis kedai kopi cozy estetik di Jl. Cimanuk 186/385 Jayaraga, Kecamatan Tarogong Timur, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

undefined

Di daerah muasal Dodol Garut, camilan unik Burayot dan kerupuk kulit Dorokdok, sentra kerajinan jaket kulit asli, sumber air panas alami pegunungan Cipanas, destinasi sejarah ikonik satu-satunya candi Hindu di Jabar di tengah danau: Candi Cangkuang, dikelilingi gunung berapi favorit pendaki (Cikuray, Guntur, Papandayan, dan Sagara), selain Kota Intan, ulah indah alam sejuk udaranya dijuluki 'Swiss van Java' ini, Atiw dikenal sebagai young creativepreneur yang aktif berjejaring sosial terutama kanal kepemudaan.

Lewat Instagram pribadinyi @atiwastr, ia selalu rajin unggah pesona kedainya. Atiw turut mengabadikan gelora optimisme khusus tentang Munas ini, tentang kehadirannyi turut membersamai momen tiga tahunan ini. Atiw bilang, "Bertemu, berdiskusi, dan berkolaborasi. Dari Munas XVIII HIPMI, lahir semangat baru untuk membangun masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat."

Singkat padat, konten unggahan pengampu penghargaan Pemuda Berprestasi Kabupaten Garut 2025 kategori Pemuda Pelopor Bidang Creativepreneur besutan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) setempat, apresiasi atas prestasi, dedikasi, kontribusi nyata pemuda kabupaten ini dalam berbagai sektor pembangunan itu, kontekstual

Mencerminkan nukilan ekspresi anak bangsa, pelaku usaha bertumbuh, demen bersosialisasi sekaligus berorganisasi dengan budaya aktif diseminasi dan pertukaran informasi antara lain melalui jalan diskusi (komunikasi dua arah), serta karenanya sebangun upaya praktik baik kolaborasi. Demi tujuan sama baik: kuat.

undefined

Kendati di luar sana dipenuhi nada satire publik non HIPMI, semisal ujaran nyinyir 'forum musyawarah tersebut hanya sebatas sekadar seremoni bagi-bagi jatah kue kekuasaan belaka yang satu ritme dengan selera penguasa', Atiw yang notabene barisan pengurus, teguh mengkonfirmasi bahwa dari forum itu lahir semangat baru.

Semangat baru pun di dalamnya kepemimpinan baru, untuk bangun masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat. Atiw sepertinya sadar, sebagaimana amanat poin kedua tujuan nasional Indonesia termaktub dalam Alenia IV Mukadimah UUD 1945: "memajukan kesejahteraan umum"; optimisme sekecil apapun senantiasa dibutuhkan demi menggapainya, antara lain demi tercapainya bangunan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat itu.

Minimal, agar Indonesia dapat segera melompat terlepas dari jerat status negara berkembang sekaligus jebakan middle-income trap economy serta status ganda yang bikin Indonesia tersandera di persimpangan jalan ekonomi pelik: klasifikasi ganda lower-middle dan upper-middle-income country, dengan status mengambang sebagai negara dengan pendapatan menengah (Bank Dunia: Indonesia sempat naik kelas upper-middle income country di 2019, turun gegara pandemi, dan kini dengan GNI per kapita USD 4.580 rebut lagi status upper-middle-income country).

Diksi "kuat" dimaksud Atiw, mencakup pula deret langkah strategis yang harus diambil demi meretas bentang kendala utama (trap) agar dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah itu sekaligus lebih jauh, lebih berkedalaman, demi merealisasikan visi Indonesia Emas 2045.

Di mana misalnya, dengan kondisi obyektif rerata tingkat pertumbuhan ekonomi 5 persen belum cukup mampu serap tenaga kerja formal hingga sektor informal berketerampilan rendah masih dominan hingga butuh kerja ekstra agar bisa tertanggulangi menuju iklim lapangan kerja berkualitas.

Selain, kondisi faktual masih relatif tingginya kesenjangan keterampilan (skill mismatch) di mana kualitas dari lulusan pendidikan belum sepenuhnya selaras kebutuhan dunia usaha dunia industri dan dunia kerja (DUDIKA) terutama DUDIKA sektor teknologi tinggi dan manufaktur maju.

Serta, kondisi aktual masih relatif rendahnya konsentrasi khusus (sebagian menyebutnya keberpihakan) negara terhadap dunia riset dan inovasi nasional, dengan masih relatif rendahnya anggaran R&D dibanding negara-negara maju. Belum lagi urusan (risiko eksponensial selaku negara kepulauan terbesar di dunia) tingginya biaya logistik atau biaya distribusi barang dan jasa antar wilayah yang bahkan di zonasi tertentu turut memicu ketimpangan ekonomi.

Sehingga dibutuhkan solusi cakap antara lain melalui strategi hilirisasi industri: terus melanjutkan kebijakan afirmatif penghentian ekspor bahan mentah seperti nikel, bauksit, tembaga, untuk bangun ekosistem manufaktur bernilai tambah tinggi di dalam negeri khususnya baterai dan kendaraan listrik (EV).

undefined

Juga melalui program konektivitas infrastruktur berkeadilan berbasis prinsip Indonesia centris, dengan menuntaskan proyek strategis nasional (PSN) seperti jalan tol, pelabuhan, bandara, rel kereta api, untuk memangkas biaya logistik tinggi sekaligus merevolusi tata kelola dan ekosistem inti sistem logistik nasional (Sislognas) dan juga memeratakan pertumbuhan ekonomi di luar Jawa.

Serta strategi revitalisasi sistem pendidikan nasional, misal dengan linifokus utama pada upaya sistematis transformasi pendidikan vokasi, program upskilling digital; redistribusi penguasaan terukur segenap produk inti, produk turunan, dan produk cangkang ala disrupsi ekonomi karkhas Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 sejak dini; serta peningkatan gizi (penurunan stunting) untuk menciptakan generasi produktif, dan menuntaskan ketertinggalan di daerah 3T.

Dari itu, mimpi Atiw, pun sebagaimana ia ungkapkan melalui lain unggahan sebelumnya, di mana ia sungguh berharap dari rahim kaum perempuan Indonesia akan terus lahir generasi unggul yang dapat terus mencetak sejarah generasi yang tak kalah unggulnya. Bukan sekadar kembang tidur. Melainkan mimpi yang sempurna. Soal bakal terkabul tidaknya, urusan Tuhan. Sebab Allah tidak tidur.

Dan andai kedua unggahan Atiw digabungkan demi menjadi sebuah kekuatan unggahan baru, "lahirnya semangat baru untuk membangun masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat, maka demi itu, jadikan rahim perempuan tempat lahir generasi yang membuat sejarah bertepuk tangan."

Terus semangat, Atiw. Demi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat terbangun, demi generasi yang membuat sejarah bertepuk tangan terus lahir, terus sibak sejarahmu sebagai pengusaha pejuang, pejuang pengusaha. Dari Bumi Ruwa Jurai tuan rumah Munas XVIII, salam ngupi pai! (Muzzamil)