LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Diambilalih pengelolaannya oleh Dinsos Lampung, masyarakat malah mengeluhkan penurunan kualitas fasilitas dan pelayanan Rumah Singgah Kesehatan Lampung di Jakarta dan Kota Bandarlampung.
Tim Relawan Kesehatan/Medis Rahmat Mirzani Djausal (RMD) CARE yang menerima adanya laporan dan pengaduan masyarakat atas hal tersebut meninjau langsung kondisinya di lapangan beberapa waktu lalu.

Hasilnya, Firman selaku koordinator Relawan Kesehatan/Medis RMD CARE yang juga kader Partai Gerindra membenarkan kondisinya di masa Gubernur Arinal jauh buruk dibandingkan masa Gubernur Ridho Ficardo.
Dengan harga sewa yang sama, Rp160 juta per tahun, fasilitas dan pengelolaannya jauh dibandingkan sebelum diambil alih Dinsos Lampung lewat Satkernya untuk membantu warga Lampung yang tak mampu.
"Bangunannya juga rumah lama," ujar Firman kepada Helo Indonesia, Kamis (27/3/2025).
Jika sebelumnya, sewa tempatnya lumayan bagus kali ini di gang sempit yang hanya dapat dilalui satu kendaraan di Jl. Kencana No.40, RT 010/005, Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan.
Lokasinya juga tak strategis, cukup jauh ke rumah sakit, minim fasilitas termasuk pendingin udara, serta penunjang kebutuhan pasien sehari-hari, antara lain ketersediaan bahan pokok kebutuhan pasien. Mobil ambulan sewa dan tidak tersedia strecher dan oxygen.

Sebelum dikelola langsung Dinsos Lampung, Rumah Singgah Kesehatan Lampung di lokasi strategis dan jauh lebih nyaman di Jl. Kernolok IV No. 35 Rt/Rw. 006/008 Kelurahan Kenari, Senen, Jakarta Pusat.
Saat peralihan itu, ada 18 pasien yang nyaris terbengkalai akibat Dinsos Lampung diduga mengulur-ulur pembayaran sewanya. Sehingga, pemilik gedung mengultimatum habisnya masa sewa.
Tidak jauh berbeda dengan kondisi rumah singgah pasien yang berada di PSBR (Panti Sosial Bina Remaja), Jl.Panglima Polim, Gedong Air, Kota Bandarlampung. "Fasilitas pelayanan yang tak nyaman membuat kurang peminatnya," ujar Firman.
Rumah Singgah PSBR Bandarlampung juga, kata dia, belum tersedia layanan mobil ambulan sehingga menjadi kendala dalam transportasi para pasien yg akan menjalani kontrol ke RSUDAM
Menurut Firman, pelayanan kesehatan bagi masyarakat seharusnya memadai pelayanan serta sarana dan prasarananya untuk mereka yang dirujuk ke Kota Bandarlampung maupun Jakarta. "Bukan cuma pencitraan saja," katanya. (HBM)
-
