Penulis Gunawan Handoko
Pengamat kebijakan publik dari PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan) Provinsi Lampung.
SAYA baru saja selesai menulis tentang lima nyawa calon manajer Koperasi Desa Merah Putih yang gugur di barak latihan. Air mata belum kering, muncul tulisan Bung Herman Batin Mangku (HBM) berjudul “Berbisnis Nyawa di RSUD Abdul Moeloek”, Judulnya keras, tapi isinya jernih.
Meski begitu, tulisan tersebut membuat dada ini sesak dua kali. Ternyata duka bukan hanya di barak, tapi juga di IGD rumah sakit rujukan utama milik Pemerintah Provinsi Lampung. Bung HBM tidak menuduh tanpa dasar, beliau menulis sebagai jurnalis senior sekaligus warga Lampung yang sedang malu.
Malu karena “pelabuhan terakhir” bagi orang sakit, RSUD Abdul Moeloek mulai kehilangan kepercayaan penumpangnya. Kalau pemilik media HeloIndonesia.com sendiri yang menulis, berarti lukanya sudah sampai ke tulang. Dan luka itu harus kita obati secara bersama, bukan ditutup-tutupi.
Inti tulisan Bung HBM bukan tentang pungli atau korupsi, tapi soal dokter spesialis RSUDAM yang praktik ganda. Sejumlah dokter, bahkan pejabat struktural RSUD juga aktif menangani pasien di RS swasta. Mungkin ada benarnya, pasien mampu sering diarahkan ke RS swasta dengan alasan “ditangani dokter yang sama, lebih intensif.
Baca juga: Titip Pesan Buat dr Imam: Amputasi Saja Kanker yang Gerogoti RSUAM
Baca juga: Berbisnis Nyawa di RSUD Abdul Moeloek
Baca juga: Dokter Jual Alat Medis Cuci Tangan Kematian Bayi, Salahkan RSUDAM Pascaoperasi
Sementara pasien BPJS atau kondisi kritis tetap menjadi tanggungjawab RS pemerintah. Kalimat kuncinya: Rumah sakit pemerintah akhirnya menanggung seluruh resiko medis yang berat, sementara pelayanan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi bergeser ke RS swasta.
Ini yang disebut Bung HBM “konflik kepentingan”, dan beliau benar. Kalau ini terjadi, pasien bukan lagi manusia yang harus diselamatkan, tapi merupakan angka di neraca bisnis. Bung HBM bicara sangat jujur: Persoalan yang berulang menunjukkan yang bermasalah bukan sekadar orang, melainkan sistem. Antrean panjang, lamanya waktu tunggu, terbatasnya jumlah dokter spesialis, ini merupakan keluhan tahunan yang dibahas DPRD.
Artinya, tidak cukup diselesaikan Direktur RSUD. Dengan nada membela, Bung HBM bilang: Tidak bijak direktur RSUD jadi keranjang sampah kemarahan. Benar, seorang pemimpin butuh sistem, SDM dan budaya organisasi yang sehat. Kalau pengawasan internal lemah, maka pintu masuk dokter berbisnis jadi terbuka lebar.
Maka sistem yang membiarkan tumbuhnya kanker konflik kepentingan harus diubah. Ada kalimat Bung HBM yang paling menampar: “Pelayanan kesehatan bukanlah industri yang boleh kehilangan nurani”. RSUDAM dibangun dari pajak rakyat. Nama yang dipakai merupakan nama pahlawan nasional, yakni H. Abdul Moeloek.
Beliau berjuang merebut nyawa rakyat dari penjajah. Maka sangat tidak pantas jika rumah sakit atas namanya malah berdagang nyawa. Misinya jelas di UU, yakni memberi pelayanan adil, cepat, bermutu, bermartabat untuk semua warga, tanpa membedakan isi dompet. Kalau RSUD menjadi batu loncatan rujukan ke RS swasta untuk pasien mampu, lalu RSUD sendiri hanya jadi tempat penampungan kasus berat dan BPJS, berarti misi konstitusi itu dikhianati.
Pasien miskin tidak salah karena kemiskinannya. Pasien BPJS nggak salah karena pakai kartu. Mereka semua datang membawa rasa sakit, bukan bawa status sosial dan jabatan. Rasa sakit tidak boleh diperjualbelikan. Itu penutup tulisan Bung HBM yang bikin orang merinding. Tuntutan publik tidak muluk-muluk, sederhana saja.
Pertama, lakukan audit terbuka.
Dinas Kesehatan, Ombudsman dan Kejati Lampung turun. Audit 3 hal sebagaimana resep yang disodorkan Bung HBM. Pola rujukan pasien, kepatuhan jam kerja dokter spesialis, transparansi praktik di RS lain. Datanya dibuka di atas meja, jangan audit di dalam laci.
Kedua, Copot Kanker, Jaga Tubuh.
Copot oknum yang terbukti menyalahgunakan kewenangan. Jangan sampai nama pahlawan agung “Abdul Moeloek” ikut tercemar karena ulah oknum. Membiarkan 1 praktik yang menyimpang, sama seperti membiarkan kanker tumbuh.
Ketiga, Kembalikan Kepercayaan.
Kepercayaan itu obat yang tidak dijual di apotek, kata Bung HBM. Obat itu lahir dari dokter yang hadir saat dibutuhkan, perawat yang menyapa dengan ramah penuh empati, petugas yang melayani tanpa membedakan kelas. Itu budaya yang harus dibangun Direktur dan semua jajarannya.
Keempat, Jaga Nama Pahlawan.
H. Abdul Moeloek mendapat anugerah pahlawan karena telah berjuang merebut nyawa rakyat dari penjajah. Masa rumah sakit atas namanya malah kita biarkan digerogoti konflik kepentingan. Rumah sakit tidak akan dikenang karena gedungnya yang megah, atau alat canggihnya. Rumah sakit dikenang dari berapa banyak air mata yang berhasil dihentikan.
Lima nyawa calon manajer KDMP sudah melayang di barak militer karena sistem kesehatan di hulu yang bolong. Jangan ditambah lagi nyawa dan kepercayaan yang terkikis di hilir karena sistem RSUD yang belum beres. Lampung butuh RS rujukan yang ramah, juga butuh dokter yang mengabdi.
Jujur, saya salut pada Bung HBM. Pemilik media yang berani menulis aib di “rumah sendiri”. Itu butuh nyali, selain tingginya rasa empati tentunya. Itu tanda bahwa kita masih punya hati. Kita semua berharap, RSUD Abdul Moeloek harus jadi tempat orang Lampung berbangga, bukan takut.
Bangga dan bilang “Saya diselamatkan di RSUDAM”. Bukan berbisik “Saya hampir mati karena lamanya nunggu dokter”. Lampung butuh rumah sakit, bukan pasar. Dan Lampung butuh pahlawan seperti H. Abdul Moeloek, bukan pebisnis. Salam Sehat! ***