Oleh Gufron Aziz Fuadi *
SEBELUM kenabian Muhammad Saw, guru agama di SD mengatakan Bangsa Arab khususnya Mekah ada dalam kondisi jahiliyah. Dalam kondisi kebodohan. Saat itu dalam pikiran saya bangsa Arab pada waktu terbelakang, tidak bisa baca tulis.
Apalagi nabi Muhammad Saw juga orang yang umi, tidak bisa membaca dan menulis.
Pemahaman saya tentang makna jahiliyah terus bertahan seperti itu setidaknya sampai saya kuliah semester dua. Ketika saya mengikuti coaching mentoring yang diadakan oleh DDII di masjid al Abrar Pejompongan Jakarta, bersama beberapa mahasiswa dari UI, Unpad, IGD, IPB dan 9 orang dari Unila.
Bahwa jahiliyah itu sesungguhnya bukan kondisi manusia yang bodoh terhadap ilmu dan teknologi tetapi bodoh terhadap Allah. Kondisi dimana manusia tidak mengenal Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berhak disembah dan dipatuhi aturan dan ketentuan Nya.
Baca juga: Mengembalikan Marwah PWI yang Sudah Kedodoran
Dengan demikian kejahiliyahan pada waktu itu tidak hanya menimpa bangsa Arab saja tetapi juga bangsa Eropa (Romawi), Persia, India bahkan China. Karena mereka semua tidak mengenal Allah dengan benar. Ada yang menganggap Allah punya anak. Ada yang mempercayai Allah punya sekutu yang setara.
Ada yang menuhankan api, matahari dan yang lainnya. Oleh karena itu kejahiliyahan akan selalu ada meskipun dimasyarakat yang sangat melek sain dan teknologi. Semodern apa pun, selama mereka tidak mengenal Allah dengan benar, kondisinya jahiliyah.
{ فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ }
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu. (Muhammad:19)
Dan kehadiran nabi, selama 23 tahun mampu merubah kejahiliyahan jazirah Arabia menjadi bangsa yang mentauhidkan Allah, mengesankan Allah saja sebagai Tuhan Yang berhak disembah. Kemudian ditambah 30 tahun kemudian juga merubah kejahiliyahan di Syam (Yordania, Libanon, Palestina dan Syuriah), Mesir dan Persia (Iran, Iraq dan Asia Tengah).
Baca juga: Meskipun Ada Kejanggalan, Keluarga Brigpol Setyo Herlambang Tunggu Hasil Penyidikan
Rasulullah tidak hanya merubah kepercayaan jahiliyah menjadi tauhid tetapi juga merubah kepribadian dari yang minder dihadapan bangsa lain, menjadi bangsa yang punya harga diri tinggi. Sebagaimana diketahui, selama ini bagsa Arab selalu berada dibawah pengaruh Persia dan Romawi.
Dialog Rubi' bin Amir utusan panglima tentara muslim Saad bin Waqash dengan panglima Persia, jenderal Rustum berikut menjelaskan hal tersebut:
Setelah Rubi' bin Amir masuk tanpa menundukkan kepalanya dan berdiri dengan penuh percaya diri, Rustum bertanya, “Hai, orang-orang Arab kalian dulu di padang pasir, tidak memiliki apa-apa kecuali menggembala kambing. Untuk apa kalian datang kesini? Jika kalian butuh harta sebut saja, kami akan kasih dan pulanglah. Jika kalian butuh gembala kami akan beri berapa pun unta dan kambing yang kalian mau. Jika kalian ingin jabatan, pilih yang terbaik, kami akan jadikan ia pemimpin kalian dan kami kasih gaji.”
Rub’i dengan tegas menjawab, “Kami datang dari Mekah tidak butuh dengan harta yang sedang kau pamerkan. Kami datang untuk mengeluarkan seluruh manusia, termasuk kamu dan kami dari menyembah makhluk kepada menyembah Pencipta makhluk. Kalau kau patuh, maka kau tetap dengan kerajaanmu dan kami akan pulang. Berhenti menyembah Kisra. Ia akan tetap dengan kerajaannya dan kau tetap panglima perangnya.”
Begitulah Rasulullah, merubah bangsa Arab yang berabad abad lamanya dibawah pengaruh banfsa lain berubah menjadi bangsa yang berdiri dengan gagah dihadapan bangsa lain. Ini sesuai dengan makna dahwah, mengajak manusia berubah dari kegelapan jahiliyah kepada terangnya cahaya Islam.
Baca juga: Ciptakan Aplikasi Villex 5.0, Tim PkM USM Lolos Hibah Dikti
Disamping sebagai tokoh perubahan, beliau juga adalah tokoh persatuan. Sebelum nabi hijrah ke Madinah, penduduk Madinah terbelah menjadi dua (Aus dan Khazraj) yang diadu domba oleh kekuatan ekonomi Yahudi sehingga keduanya berperang selama 100 tahun. Hijrahnya nabi ke Madinah bukan saja menghentikan perang saudara Aus dan Khazraj tetapi bahkan mempersatukan penduduk Madinah melalui Piagam Madinah. Sehingga tidak hanya Aus dan Khazraj serta kaum Muhajirin yang bersatu tetapi juga tiga kabilah Yahudi, suku Arab penyembah berhala dan Arab Nasrani.
Bersatunya semua komponen kota Madinah menjadikan Madinah sebagai negara baru yang kuat dan disegani kawan dan lawan. Hingga akhirnya dari Madinah lahir kekuatan yang mempersatukan bangsa Arab dan kemudian menaklukkan Persia, Syam dan Romawi yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran sekalipun. Bahkan tidak berani memikirkannya, sebagaimana tidak terpikir oleh kita sekarang untuk berdiri tegak dan bisa menekan China dan Amerika.
Semoga Allah memberikan kepada kita, pemimpin yang membawa perubahan dan persatuan untuk bangsa yang kita cintai.
AMIN.
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
