Perjalanan Kembali ke Kejernihan Mata Air dan Kehidupan Anak Bangsa

Kamis, 29 Juni 2023 10:06
Perjalanan Kembali ke Kejernihan Mata Air dan Kehidupan Anak Bangsa

Oleh Prof. Sudjarwo*

MAS, numpang tanya, kalau dari sini mau ke perbatasan Kabupaten Lampung Barat, apakah ada POM bensin?" tanya saya. "Oh, ada dua Pak," jawabnya sambil menyebutkan posisi di dua desa yang tidak begitu jauh dari titik tumpu perjalanan saya bersama isteri.

Sepenggal dialog singkat perbincangan saya yang baru purnabakti sebagai guru besar Universitas Lampung dengan seseorang yang saya temui di halaman masjid berdesain artistik dan berukuran besar di Kabupaten Tanggamus.

Terlintas kembali, puluhan tahun lalu, bersama Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto (1988-1997). Saya menatap jalan di depan saya berdiri, namun pikiran jauh mundur beberapa puluh tahun lalu saat kami survei pembukaan Jalan Lintas Barat Sumatera (Jalinbar)

Masa itu, Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat masih terpisah oleh lebatnya Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Setiap ada sungai, tak ada jembatan, untuk menyeberang, kami naik rakit yang disebut ponton.

Baca juga: Golkar Bantah KIB Bubar : Ketum Parpol Masih Rutin Ketemu

Tim kami dari Unila dipimpin Ir. Haris Hasyim. Poedjono Pranyoto menarik almarhum yang dosen Fakultas Pertanian Unila jadi kepala Bappeda Lampung bersama Siti Nurbaya yang sekarang menjabat menteri Lingkungan Hidup RI.

Sejarah masa lalu itu berkelebat kembali. Teringat lagi, peristiwa banjir bandang Kecamatan Wonosobo. Bagaimana saya turut menjadi relawan membantu masyarakat yang terkena bencana. Bak film, kenangan-kenangan itu berputar kembali.

Kini, di depan saya, semua sudah berubah pesat, masa lalu itu hanya terekam jernih dalam memori, alhamdullilah. Bapak yang saya tanya POM bensin pun tak tahu jika perjalanan saya adalah perjalanan ke masa lalu, perjalanan kembali menyelusuri ke kejernihan hati.

Saat berhenti di pasar, saya melihat peristiwa budaya yang sangat sosiologis tentang bagaimana komunikasi warga etnis berbeda. Mereka berinteraksi dengan pola akulturasi, saling menerima budaya berbeda membentuk kebudayaan baru tanpa kehilangan jati diri masing-masing.

Kalaulah boleh menggunakan tamsil, alkulturasi itu seolah-olah kerukunan antara muhajirin dan ansor, masing-masing tampak kokoh tapi saling menguatkan. Orang Jawa berbahasa Lampung dengan aksen Jawa, orang Lampung berbahasa Jawa dengan aksen Lampung.

Baca juga: Jemaah Haji di Arafah Kelaparan, Putri Gus Dur Alissa Wahid Pun Dimintai Tolong

Mendengar komunikasi mereka, saya seolah berada pada peradaban lain. Subhanalloh. Peristiwa seperti ini berlangsung sudah mendekati satu abad dan terus lestari sampai hari ini. Bahkan dikokohkan lagi dengan adanya praktek amalgamasi antarmereka, sehingga akulturasi budaya menjadi bak air mengalir.

Menariknya lagi l, wilayah yang saya jelajah bisa dikatakan setiap rukun tetangga (RT) memiliki rumah ibadah yang besar dan mewah. Saat penggalangan dana, tak hanya pria, kaum wanita pun ikut berpanas hujan dan berdebu mengumpulkan amal ibadah, sedekah, di tengah dan tepi jalan.

Selama perjalanan, masyarakat terlihat rukun di wilayah yang masih asri dengan air yang mengalir jernih dari kaki-kaki TNBBS. Kehidupan terlihat begitu selaras antarmanusia dan alam di perkampungan-perkampungan yang penulis lihat sepanjang perjalanan nostalgia hingga pojok Kabupaten Tanggamus.

Saya jadi membandingkan dengan kehidupan keseharian di Kota Bandarlampung, bagaimana hiruk-pikuknya, gaduhnya antaranak bangsa yang mempertengkarkan perbedaan pilihan, kepentingan-kepentingan yang berkelindan pada dirinya, terutama otaknya.

Ibarat perjalanan air dari kaki pegunungan yang awalnya dari mata air keluar jernih. Namun, semakin jauh mengalir, karena ulah manusia juga, air yang jernih tersebut kemudian menjadi keruh dan kotor hingga tidak dapat dimanfaatkan lagi secara baik.

Bisa jadi begitu pula manusia yang semula selaras antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam kemudian jadi kotor karena kepentingan pribadi dan ambisi. Setiap ada pemilihan kepemimpinan, masyarakat terbelah hingga kadang menjadi beberapa kelompok.

Baca juga: Foto Anies dan Ganjar Naik Haji Sempat Bikin Adem, Kini Ribut Akibat Foto Editan

Lebih parah lagi jika terbangun stigma itu musuh bagi mereka. Entah bagaimana bisa, karakter manusia yang awalnya jernih lalu menjadi kotor mengalir hingga ke semua sendi kehidupan, parpol, kekuasaan, hingga menembus gedung-gedung sekolah dan kampus.

Kesalahan berfikir ini dalam wilayah filsafat sah-sah saja; hanya bagaimana sekarang menciptakan kondisi agar perbedaan itu bukan kemustahilan.

Tentu tugas ini juga termasuk tugas partai politik dalam berkampanye untuk tidak memperlebar jurang pemisah, justru membuat perekat bersama antara satu partai dengan partai lainnya. Kalimat bijaknya: “duduk yang manis adalah jika satu meja dihadapi oleh beberapa kursi yang berbeda arah, bukan satu kursi untuk bersama menghadapi satu meja yang sama pula”.

Proses pendewasaan diri untuk menerima ketidaksamaan ternyata tidak mudah, bahkan negeri yang sudah menyentuh usia satu abad-pun, belum merupakan jaminan untuk dapat menerima perbedaan dalam kebersamaan.

Baca juga: Ciptakan Rasa Aman Malam Takbiran, Kapolres Terjunkan Ratusan Personel

Banyak negara gagal dalam mengelola perbedaan menjadi kekuatan yang menyatu dalam kebersamaan. Keinginan untuk hidup bersama secara damai dalam perbedaan, kebanyakan hanya ada pada tataran teoritis, begitu pada ranah praksis, banyak sekali kegagalan yang dijumpai.

Mari kita menilik sejarah bangsa ini, di negeri ini dulu ada nama Kerajaan Sriwijaya, dan ada Kerajaan Majapahit, yang dalam menjaga kebersatuannyapun harus berhadapan dengan teman sendiri. Itu adalah pembelajaran berharga yang sudah semestinya kita jadikan referensi guna mengelola negeri ini.

Damai itu ternyata harus dimulai dari diri sendiri, jika kita mampu mengalirkan kejernihan berfikir, bertindak, dan berucap; maka sejatinya kita sudah membangun harmoni dalam diri sendiri. Setelah itu baru kita bisa mengalirkan kedamaian itu kepada pihak lain melalui interaksi yang kita bangun.

Selamat Hari Raya Idhul Adha 1444 H

* Pemerhati masalah sosial dan pendidikan

Berita Terkini

Haji Mabur atau Haji Mardud?

Opini • 10 jam 37 menit lalu