HELOINDONESIA.COM - Ganjar Pranowo telah diusung sebagai capres PDIP. Merespon penunjukan itu, Partai Demokrat mencoba membandingkan kekuatan pemilih Ganjar Pranowo dan kekuatan pemiih Jokowi (Joko Widodo) saat maju sebagai capres pada masa lalu.
Hitung-hitungan kekuatan itu dilakukan oleh politisi Partai Demokrat Jansen Sitindaon, dengan judul: PILPRES PROPINSI JATENG, PAK JOKOWI DAN MAS GANJAR.
Jansen Sitindaon mengaku pernah menjadi tim sukses (Timses) untuk untuk salah satu capres, untuk hitungan suara di Jawa Tengah, Jokowi menang telak, dia menyebutnya super tebal, Yakni 12 juta suara di atas Prabowo Subianto, Angka tepatnya 11,8 juta suara.
“Saya ingat betul, dikampung halamannya Jateng, pak @jokowi menang super tebal: hampir 12 juta suara dari pak @prabowo,” tulis Jansen Sitindaon (akun @jansen_jsp) di twitter.
Menurut Jansen Sitindaon ini perolehan angka yang sangat besar. Bahkan angka ini sedikit lagi mendekati jumlah penduduk seluruh Pulau Kalimantan. Termasuk hasil ini naik hampir dua kali lipat dari pemilih Jokowi di Pilpres 2014.
Inilah kemenangan terbesar pak Jokowi dibanding daerah manapun di Pilpres 2019 lalu. Yg sulit dicari tambalannya oleh Pak Prabowo ketika itu,” ujar Jansen lagi.
Sebab, di Jabar yangg ketika itu diharapkan jadi penambal, ternyata kemenangan Prabowo jauh sekali di bawah angka 12 juta. “Angka tepat kemenangan pak Jokowi di Jateng ini: 11,8 juta suara,” tutur Jansen.
Kemudian, Jansen Sitindaon mengulik data-data terkait pemilih Ganjar Pranowo yang saat ini berkuasa menjadi Gubernur Jateng, memimpin sudah hampir 10 tahun. Ini beda dengan Jokowi yang tak pernah menjadi Gubernur Jateng. Khusus di Jateng tanpa perlu bantuan buzzer, media dan lainnya, orang sudah sangat kenal dan tahu siapa Ganjar.
“Di Jateng orang sudah sangat kenal dan tahu siapa mas Ganjar. Kalau kerjanya selama 10 thn ini dianggap jelek, bisa tergerus suara itu di Pilpres. Sebaliknya jika bagus, bisa-bisa suaranya melebihi kemenangan pak Jokowi di Pilpres 2019 lalu. Soal ini tentu nanti kita lihat hasilnya,” tulis Jansen lagi.
Lantas, Jansen Sitindaon mengajak untuk memengok fakta lain, sambil mengatakan untuk konteks waktu itu, yakni perbandingan perolehan suara saat Pilgub Jateng, perolehan suara Ganjar Pranowo dibandingkan dengan perolehan cagub Sudirman Said.
“Namun sbg perbandingan saja (walau berdasarkan konteks waktu bisa saja berubah): di Pilgub Jateng 2018 lalu sebagai incumbent mas Ganjar cuma menang 3 juta suara saja dari penantangnya mas @sudirmansaid,” ujar Jansen Sitindaon.
Jadi, Ganjar hanya menang 3 juta, ini seakan dia meminta membanding kan Jokowi menang 12 juta suara saat Pilpres untuk Jateng .
“Jika dikaitkan dgn Pilpres, ini adalah sebuah angka yg tidak terlalu tebal dan masih bisa dicarikan banyak tambalannya di Propinsi lain. Jika begini hasilnya di Pilpres 2024 nanti ya,” kata Jansen.
Dia menambahkan, dengan melihat fakta-fakta yang ada di atas, menurutnya, Jokowi berbeda dengan Ganjar Pranowo. Tidak linear apalagi jika dikaitkan dengan suara.
Karena di mata masyarakat, tiap pemimpin itu ya punya penilaiannya sendiri-sendiri. Termasuk di Jateng sekalipun yang kampung halaman mereka berdua. Apalagi di tempat lain.
“Jadi Pilpres 2024 besok, menurutku, masih sangat terbuka persebaran dan potensi suara di Jateng bagi kandidat manapun. Jadi bagi kandidat Capres yang lain, tak perlu ragu, mari kita siapkan diri dan tim untuk masuk ke Jateng. Karena Jateng ini masih terbuka untuk siapapun,” tandan Jansen Sitindaon. (*)
(A Winoto)